Dominan Istri Gugat Cerai Suami

Dominan Istri Gugat Cerai Suami

  Kamis, 10 January 2019 09:59

PONTIANAK - Terjadi peningkatan jumlah perkara yang masuk di Pengadilan Agama Klas IA Pontianak dari Januari sampai Desember 2018 sebesar 4,03 persen dengan total 1.575 perkara. Data Pengadilan Agama Klas IA Pontianak menyebutkan, dari 1.575 perkara, 1.227 gugatan dan sisanya 348 perkara permohonan.

Kepala Pengadilan Agama Klas IA Pontianak, Darmuji membenarkan adanya kenaikan perkara sebesar 4,03 persen pada 2018. Dia menjelasan, dari angka tersebut secara spesifik perkecamatan perkara banyak terjadi di Kecamatan Pontianak Barat sebanyak 434 perkara, Pontianak Kota sebanyak 328 perkara, Pontianak Timur sebanyak 317 perkara, Pontianak Utara 233 perkara, Pontianak Selatan sebanyak 153 perkara, dan Kecamatan Pontianak Tenggara sebanyak 110 perkara.

Dia mengakui, dari jumlah tersebut, paling dominan istri menggugat cerai ke suami. Alasannya perkiraan dia, mungkin saat ini sudah ada persamaan gender. Jadi, istri juga berhak melakukan gugatan cerai jika hak-haknya tidak diberikan oleh suami. 

Memang, kata dia, tak ada menginginkan perceraian terjadi. Tapi dengan dominasi perempuan melakukan gugatan cerai, juga dapat disimpulkan bahwa kesadaran hukum utamanya perempuan sudah paham betul akan hak-haknya.

Selain itu, perkembangan teknologi dan informasi membuat para istri begitu memahami ketika mengalami suatu perkara yang tak menyamankan istri. Apalagi, saat ini ada lembaga yang konsen memberikan sosialisasi tentang hak-hak sebagai istri.

Darmuji juga mengiyakan bahwa dari seribuan angka gugat cerai, juga disumbang dari ASN Kota Pontianak. Jumlahnya kurang lebih ada seratusan pasangan. Namun bukan sepanjang 2018 karena data yang disebut Wali Kota Pontianak perceraiannya terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono tak menutupi pada 2018 ditemukan kasus perceraian ASN. "Dari laporan yang masuk tahun ini, ada 36 ASN, 16 orangnya adalah guru," ungkapnya.

Secara detail Edi belum bisa menyebut angka perceraian ASN tinggi atau rendah. Tapi pantauannya gejala peningkatan perceraian kalangan ASN selalu ada. Mengenai perceraian kebanyakan guru dipandang dia, faktor ekonomi bisa jadi penyebab. Apalagi guru saat ini ada tunjangan sertifikasi.

Tapi Edi memandang ada banyak faktor hingga perceraian terjadi di kalangan ASN. Beberapa sebab, seperti yang disebut Kepala Pengadilan Agama Pontianak, yaitu persamaan gender dan mudahnya mendapat informasi turut memengaruhi perceraian.

Kemudian faktor ekonomi juga bisa memicu perceraian terjadi. Misal uang berlimpah, lalu laki-laki atau perempuan ingin bercerai dan menikah lagi. 

"Kemudian sifat karakter pasangan masing-masing yang tak mampu membangun biduk rumah tangga dengan baik belum lagi ada pihak ke tiga bisa menyebabkan perceraian. Sebenarnya ini menyangkut integritas pasangan. Jika bersabar dan dapat memaknai arti kehidupan maka keluarga pasti aman," ungkapnya.(iza)