Doa dan Harapan untuk Aris Afik Novian, Pilot Heli TNI-AD yang Hilang di Papua

Doa dan Harapan untuk Aris Afik Novian, Pilot Heli TNI-AD yang Hilang di Papua

  Jumat, 5 July 2019 10:39
PASRAH: Ismono, ayah Kapten CPN Aris Afik Novian, sangat berharap anak sulungnya itu segera ditemukan dalam kondisi selamat. BHAGAS DANI PURWOKO/Jawa Pos Radar Bojonegoro

Dalam Hati pun Saya dan Ibunya Selalu Berzikir 

Aris Afik Novian yang dikenal humoris itu sejak kecil bercita-cita jadi penerbang. ”Saya mendoakan 12 penumpang helikopter itu selamat, tak hanya anak saya,” kata sang bapak. 

BHAGAS DANI P., Bojonegoro-SYAHRUL Y., Jakarta 

AIR matanya memang tak sampai jatuh. Tapi, jelas terlihat kedua mata Ismono berkaca-kaca.

”Rasa cemas itu selalu ada. Dalam hati pun saya dan ibunya selalu berzikir,” ujarnya dengan suara lirih. 

Sudah hampir seminggu helikopter yang dipiloti Kapten Corps Penerbang (CPN) Aris Afik Novian, anak sulung Ismono, yang hilang di Papua tak kunjung ditemukan. Helikopter MI-17 noreg HA-5138 milik Pusat Penerbangan Angkatan Darat tersebut hilang kontak empat menit setelah meninggalkan Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada Jumat pekan lalu (28/6). Dengan tujuan akhir Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura. 

Helikopter tersebut mengangkut 12 personel. Terdiri atas 7 kru helikopter dan 5 personel Satgas Yonif 725/Wrg yang akan melaksanakan tugas pergantian pos.

Selama enam hari sejak kabar itu pertama mereka dengar dari seorang kerabat di Semarang, Jawa Tengah, doa terus-menerus dipanjatkan Ismono dan Maikah. Juga, oleh para tamu yang berdatangan ke rumah di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.        

”Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungan,” katanya, kembali dengan suara lirih. 

Kelirihan suara Ismono berpagut dengan sepinya suasana rumah kemarin siang (3/7). Tak ada siapa-siapa di sana kecuali Ismono dan Maikah yang tengah beristirahat. Pelataran, ruang tamu, seluruh rumah seolah mewakili kesedihan suami istri yang dikaruniai dua anak tersebut. 

Sehari-hari Aris bersama istri, Umi Hanik, dan anak perempuan mereka tinggal di Semarang. Di ibu kota Jawa Tengah itulah helikopter MI-17 bermarkas. 

Kali terakhir Aris dan Umi yang menikah pada 2016 tersebut mudik ke Bojonegoro pada Lebaran bulan lalu. Itu masa-masa yang sangat membahagiakan Ismono dan Maikah tentu saja. 

Bertemu anak kebanggaan, menantu, dan cucu. Bertukar cerita, berjalan-jalan, kulineran bersama. Apalagi, Aris dikenal humoris. Selalu bisa menghidupkan suasana. 

”Dia itu periang, suka guyon,” tutur Ismono. 

Sementara itu, di Papua, pencarian Aris dan kolega serta helikopter yang jatuh terus dilakukan. Fokus pencarian kemarin adalah Distrik Okbab di Kabupaten Pegunungan Bintang. Itu dilakukan berdasar hasil evaluasi yang dilaksanakan Selasa (2/7). 

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menjelaskan bahwa pencarian kemarin dimulai pukul 08.00 WIT. Sengaja dilakukan sepagi mungkin supaya waktu yang ada bisa mereka maksimalkan. Mengingat kondisi cuaca di Papua cepat berubah. 

”Pencarian dimulai dalam kondisi hujan di wilayah Sentani. Sedangkan di wilayah Oksibil cuaca berawan,” terangnya.

Aidi menjelaskan, kondisi tersebut memaksa tim pencari yang mengandalkan jalur udara tidak terlalu lama beroperasi. Kemarin helikopter Bell 412 yang dikerahkan hanya terbang 40 menit. 

Dari rumahnya yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro itu, Ismono yang sehari-hari berjualan tempe dan tahu dengan berkeliling tersebut juga terus mencari informasi mengenai nasib sang anak. Mulai memantau media sosial sampai bertanya ke sanak saudara, teman, dan sebagainya. 

Tetapi, memang pencarian hingga hari keenam kemarin belum membawa hasil. Sebab, medan yang dihadapi tim pencari sangat berat. 

Dari udara terhadang cuaca yang cepat berubah. Sementara di darat, hutan sangat lebat dan kontur tanah berada di lereng gunung. 

”Tim pencari menyisir kampung-kampung yang ada di lereng pegunungan sambil mengumpulkan keterangan dari penduduk kampung,” terang Aidi. 

Aidi menambahkan, masyarakat setempat sangat membantu. Mereka turut mengiringi pergerakan tim pencari. ”Secara sukarela ikut bergabung dalam tim SAR gabungan,” ujarnya. Keberadaan mereka, sambung dia, sangat membantu lantaran bisa menjadi penunjuk jalan. Selain itu, bisa membantu petugas di lapangan untuk berkomunikasi langsung jika bertemu warga lain.

Dorongan semangat untuk Ismono dan Maikah dari orang-orang terdekat pun terus berdatangan. Dandim 0813 Bojonegoro Letkol Arh Redinal Dewanto juga sempat berkunjung ke rumah Ismono pada Senin (1/7). 

Awal karir Aris sebagai pilot dimulai dari program perwira sukarela dinas pendek (PSDP). Alumnus SMAN 2 Bojonegoro yang kini berusia 30 tahun itu dilantik pada 2011. Kemudian, ditempatkan di Semarang.

”Aris itu ketika kecil memang ingin jadi penerbang, alhamdulillah cita-citanya terkabul. Adiknya juga sudah jadi PNS (pegawai negeri sipil), dinas di Jakarta,” katanya.

Ismono menyebut dua anaknya itu sebagai anak-anak baik yang selalu berusaha membahagiakan orang tua. Khusus Aris, dia mengaku tidak terlalu paham secara detail tugas-tugas yang diemban anaknya tersebut. 

Yang pasti, tiap kali ada jadwal longgar, Aris pasti menyempatkan pulang ke Bojonegoro. ”Sehari-hari saya dan istri tentu kesepian karena anak-anak kalau pulang juga tidak menentu jadwalnya,” tambahnya.

Hanya burung beo peliharaan yang sehari-hari menjadi hiburan bagi Ismono. Setelah dia selesai berkeliling menjajakan tempe dan tahu, antara pukul 05.00 sampai 08.00.

Namun, hari-hari ini beo yang bisa menirukan suara anak kecil itu pun rasanya tak lagi banyak menghibur. Sejak kabar dari Papua itu didengar Ismono dan Maikah enam hari lalu. 

Hingga kemarin mereka juga belum berencana ke Semarang. Meski demikian, Ismono tetap yakin Aris selamat. ”Saya mendoakan 12 penumpang helikopter itu selamat, tak hanya mendoakan anak saya,” katanya. (*/c10/ttg)