Djarum Kudus Angkat Koper

Djarum Kudus Angkat Koper

  Jumat, 22 February 2019 08:54
FOTO : Michelle Li | SUMBER FOTO : bwfbadminton.com

Berita Terkait

BANDUNG – Tim putri Djarum Kudus terpaksa harus berkemas. Asa mereka melaju ke babak semifinal Djarum Superliga Badminton 2019 pupus. Pada laga penentuan melawan Mutiara Cardinal di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, kemarin (21/2) mereka didera kekalahan 1-4. 

Tunggal putri yang diharapkan mampu meloloskan tim, Michelle Li, tunduk 21-19, 21-14 di tangan Gregoria Mariska Tunjung. Dia menjadi pembuka mimpi buruk Djarum Kudus. Sejak awal laga, Li terlihat kurang bergairah saat menghadapi Jorji –sapaan akrab Gregoria. Pada pertemuan pertama mereka di Thailand Open 2018, Li juga ditaklukkan Jorji 21-17, 21-8. 

Padahal, di atas kertas, peringkat dunia Li satu tingkat lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jorji. Li menempati ranking ke-13, sedangkan Jorji di posisi ke-14. ’’Saya bermain kurang bagus hari ini,’’  ucap Li. ’’Tapi, Superliga menjadi persiapan yang bagus untuk turnamen selanjutnya. Saya mendapat banyak pengalaman bertanding di sini,’’ tambahnya. 

Partai kedua pasangan Ribka Sugiarto/Siti Fadia Silva Ramadhanti sempat membuka peluang. Mereka menang 21-18, 17-21, 21-15 atas Maretha Dea Giovani/Yulfira Barkah. Namun, hasil positif tersebut tidak diikuti tunggal putri Dinar Dyah Ayustine. Berhadapan dengan legiun asing Cheun Ngan Yi, Dinar tumbang 20-22, 17-21. 

Harapan terakhir berada di tangan Agatha Imanuela/Febriana Dwipuji Kusuma. Tetapi, mereka gagal mengambil poin kemenangan ketika berhadapan dengan ganda asing Mutiara Cardinal Eom Hye Won/Kim Ha Na. Tunggal putri selanjutnya, Alifia Intan Nurrokhim, juga kalah oleh Choirunnisa. ’’Kami lebih banyak dikontrol lawan. Nggak bisa mematikan, tapi banyak mati sendiri,’’ ucap Agatha. 

Menanggapi peluangnya ke babak empat besar sudah tertutup, Manajer Djarum Kudus Fung Permadi terlihat kecewa. Meski secara materi pemain tidak sekuat tim lain yang diisi banyak pemain timnas dan asing, Fung mengharapkan setidaknya tim putri juga bisa melaju ke semifinal. Sama dengan Djarum Kudus putra. ’’Tapi, kami ingin memberikan pengajaran dan pembinaan bahwa inilah yang terjadi di dunia bulu tangkis. Selama ini kami selalu dituntut untuk berprestasi setinggi mungkin. Kalau dilihat sebagai tekanan, ya memang tekanan. Namun, mental juara bisa dibentuk melalui tekanan,’’ ucap Fung. 

Fung mengakui sulitnya pemain muda yang rata-rata baru menginjak usia 20 tahun untuk bisa bersaing dengan pemain pengalaman sekaliber Jorji, Apriyani Rahayu, Greysia Polii dkk. Namun, fokusnya pada Superliga edisi 2019 ialah memberi mereka kesempatan bertanding dengan pemain-pemain level dunia. 

Hasil babak penyisihan tidak terlalu mengejutkan. Mayoritas yang lolos adalah unggulan pertama hingga keempat. Kecuali Djarum Kudus. Mereka ternyata tidak bisa bertahan lebih lama. Posisi Djarum Kudus digantikan tim Saishunkan Nihon-Unisys dari Jepang. Sementara itu, juara dan runner-up Superliga 2017 Mutiara Cardinal dan Berkat Abadi plus unggulan pertama tahun ini, Jaya Raya, lolos ke babak empat besar. (feb/c4/cak)

Berita Terkait