Dimusuhi Taliban, Rindu Main Bola Lagi

Dimusuhi Taliban, Rindu Main Bola Lagi

  Jumat, 7 December 2018 09:56
JERSEY MESSI: Murtaza Ahmadi mengenakan ”jersey” kresek garis-garis biru putih bertulisan Messi. Foto ini sempat menghiasi media dalam dan luar negeri.

Berita Terkait

Murtaza Ahmadi, Little Messi Afghanistan yang Terpaksa Mengungsi 

Murtaza Ahmadi sempat jadi buah bibir pada 2016. Fotonya menghiasi media dalam dan luar negeri gara-gara ”jersey” kresek garis-garis biru putih bertulisan Messi. Selain berhasil menarik simpati idolanya, ketenaran itu juga membuat dia diburu Taliban. 

--

AHMADI menekuk wajahnya. Bocah 7 tahun itu menendangi batu-batu sekepalan tangannya. Dia ingin bermain sepak bola. Sayang, itu tidak mungkin lagi dia lakukan. Dia tidak lagi ada di tempat tinggalnya di Distrik Jaghori, Provinsi Ghazni, Afghanistan. Sejak November, keluarganya terpaksa pindah ke Kota Kabul. Di tempat yang baru, dia belum punya banyak kawan. Ibunya juga melarang dia keluar rumah.   

”Kami tidak membawa barang-barang. Hanya nyawa kami yang tersisa,” ujar Shafiqa, ibunda Ahmadi, seperti dilansir The Strait Times kemarin (6/12). 

Shafiqa lantas bercerita tentang petaka di area tempat tinggalnya pada November lalu. Malam itu dia mendengar baku tembak sengit. Shafiqa takut. Bersama keluarganya, dia melarikan diri. Mereka bersembunyi dalam kegelapan. 

Menurut PBB, malam itu ada ribuan keluarga lain yang melakukan hal yang sama dengan Shafiqa. Kira-kira ada 4 ribu keluarga yang kabur dari Jaghori akibat serangan Taliban. Mereka tidak mau mati konyol di tengah ofensif. 

Jaghori adalah distrik yang sebagian besar penghuninya adalah etnis Hazara. Mereka juga dikenal sebagai pengikut Syiah yang taat. Tidak terkecuali keluarga Ahmadi. Karena itu, Taliban menjadikan mereka sasaran serangan. Taliban yang mengklaim sebagai kelompok Sunni radikal selalu memusuhi orang-orang Hazara. 

Saking paniknya, Shafiqa maupun Ahmadi tidak ingat dengan jersey dan bola kenang-kenangan dari Lionel Messi. Selama berhari-hari, bersama ribuan penduduk yang lain, mereka berlindung di sebuah masjid di Kota Bamiyan. Enam hari kemudian, mereka tiba di Kabul. 

Kini, setelah aman, Ahmadi teringat pada ”harta”-nya. Jersey dan bola bertanda tangan Messi. ”Saya menginginkan itu semua,” ujarnya. Shafiqa tak bisa berbuat apa-apa. Dia jelas tidak bisa menuruti keinginan putranya. Membayangkan Ahmadi bermain tanpa diawasi saja, dia sudah ketakutan. 

Sejak menjadi pemberitaan media sekitar dua tahun lalu, Ahmadi jadi incaran Taliban. Juga, para penjahat. Taliban membenci olahraga. Ketika rezim mereka berkuasa pada 1996–2001, stadion sepak bola di Kabul berubah fungsi menjadi lokasi untuk mengeksekusi mati tawanan-tawanan mereka. 

Karena itu, saat mendengar kabar tentang Ahmadi yang begitu menggilai sepak bola, bahkan sampai bertemu langsung dengan idolanya, Taliban murka. Mereka langsung menjadikan bocah ingusan itu target serangan. 

”Jika berhasil menangkap (Ahmadi, Red), mereka akan memutilasinya,” ungkap Shafiqa tentang ambisi Taliban. Kengerian terlukis jelas di wajahnya saat bercerita tentang Taliban dan ancaman-ancamannya. 

Bukan hanya Taliban, penjahat juga sempat menyatroni rumah Ahmadi di Jaghori. Ada juga yang menebar ancaman lewat telepon. Mereka menduga Ahmadi punya banyak duit setelah tenar dan bertemu Messi. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Teror demi teror itu membuat Shafiqa melarang Ahmadi keluar rumah. Bahkan, sekadar bermain dengan teman-teman di luar rumah saja, Shafiqa tidak mengizinkan. Dia takut Ahmadi diculik dan dibunuh. Karena itu, saat mengungsi dari Jaghori pada bulan lalu, Shafiqa terpaksa menutup wajah Ahmadi agar tidak dikenali.

Sebelum tempat tinggalnya porak-poranda karena serangan Taliban pada November, Shafiqa dan keluarganya sempat hendak kabur ke Pakistan. Tepatnya, ke Kota Islamabad atau Quetta. Tapi, upaya tersebut sia-sia. Mereka selalu kehabisan uang sebelum sampai tujuan. Karena itu, Shafiqa terpaksa kembali ke Jaghori. 

Kini mereka ada di Kabul. Mereka menyewa sebuah ruangan sebagai tempat tinggal. Ruangan itu jauh dari kata layak. Sistem sanitasinya buruk. Akses air bersih dan makanan juga tidak memadai. 

Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut membuat ayah Ahmadi, Afif, harus kembali ke Jaghori sendirian. Dia kembali menekuni aktivitas lamanya sebagai petani. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pasukan pemerintah telah berhasil memukul mundur Taliban dari Kaghori. Namun, Shafiqa tidak mau ambil risiko. Dia memilih bertahan di Kabul bersama Ahmadi. 

”Kemungkinan Taliban kembali ke sana masih tinggi. Pulang (ke rumah) bukan pilihan tepat,” tegas Shafiqa. Hal yang sama dipaparkan kakak Ahmadi, Homayoun. Lelaki yang membikinkan jersey kresek Messi untuk adiknya itu tidak mau pulang ke rumah. Dia tidak mau adiknya menjadi target Taliban. 

Tapi, apa kata Ahmadi? ”Saya rindu Messi,” ungkapnya. Messi yang dia maksud adalah jersey dan bola yang telah dibubuhi tanda tangan pemain sepak bola dunia tersebut. Ahmadi ingin pulang ke Jaghori. Dia ingin mengambil Messi. Dia ingin main sepak bola lagi. (sha/c10/hep)

Berita Terkait