Dimatai-matai Intel, Dikira Gerakan Subversif

Dimatai-matai Intel, Dikira Gerakan Subversif

  Minggu, 25 November 2018 08:41
PELOPOR: Fahd Pahdepie pencetus Revolusi Kedai Kopi, gerakan keliling Indonesia mengajak anak muda sadar politik di kafe diskusi kopi, Jakarta, Selasa (13/11). FEDRIK TARIGAN/JAWAPOS

Berita Terkait

Fahd Pahdepie, Inisiator dan Penggerak Revolusi Kedai Kopi

Kedai kopi bisa menjadi ruang untuk menggali ide dan gagasan. Fahd Pahdepei berkeliling Indonesia untuk menggelorakan semangat itu melalui Revolusi Kedai Kopi (RKK). 

KHAFIDLUL ULUM, Jakarta

FAHD sedang asyik berbicara di depan puluhan anak muda ketika pemilik kedai kopi menghampirinya. Fahd menghentikan kata-katanya sesaat. Orang itu membisikkan sesuatu. Rupanya sang pemilik kedai menyampaikan kehadiran dua aparat berseragam preman. Dua petugas tersebut ikut memantau diskusi yang digelar di salah satu kafe di Jalan Sidomakmur, Malang, 8 September lalu itu.

Hadirin hanya terdiam melihat Fahd berhenti berbicara. Suami Rizqi Fitriani Abidin tersebut tidak ambil pusing dengan kehadiran dua petugas itu. Dia pun melanjutkan aktivitasnya. Sore yang cerah itu dia ditemani anak muda inspiratif Subhan Setowara, yang merupakan inisiator Gerakan Muslim Milenial.

Keduanya berbagi cerita, pengalaman, dan menularkan semangat kepada mereka yang bergabung dalam diskusi bertajuk ”Milenial Menggagas Perubahan” tersebut. Fahd mengajak mereka percaya diri dengan ide, berani mengeksekusi karya, dan berjuang memberikan kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang. 

Diskusi sore itu berlangsung gayeng (menyenangkan). Beberapa peserta mengajukan pertanyaan. Dua aparat tersebut mengawasi satu per satu peserta. Keduanya mengikuti kegiatan itu sampai selesai tanpa berbicara dengan panitia maupun narasumber.

Fahd lalu sibuk melayani foto bersama dan berbincang ringan dengan para peserta. Dia tidak sempat menyapa dua pria tersebut. ”Mungkin karena ada kata revolusinya sehingga dianggap subversif,” ujarnya saat ditemui di sebuah kedai kopi di Jalan Halimun Raya, Guntur, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Keesokan harinya, RKK menggelar diskusi di sebuah kedai di Jalan Pacar, Surabaya. Puluhan anak muda kembali meramaikan acara itu. Fahd berkolaborasi dengan Fuad Fahmi Hasan, direktur Yayasan Seribu Senyum. Ternyata, yang terjadi di Malang terulang di Surabaya. Aparat intelijen kembali memata-matai aktivitas yang diikuti kaum milenial tersebut. Aparat mungkin penasaran dan curiga dengan kata revolusi. 

”Waktu itu di Surabaya juga sedang ada insiden politik,” terang pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, tersebut. Saat itu ada pembubaran massa yang dilakukan kelompok lain. Suasana politik di Kota Pahlawan tersebut cukup hangat. 

Selain diawasi intel, ternyata ada peserta yang salah paham. Misalnya yang terjadi ketika diskusi digelar di Jogjakarta Juli lalu. Ada seorang peserta dari Lampung. Dia datang hanya untuk mengikuti acara itu. Ternyata kegiatan tersebut tidak sama dengan yang dia pikirkan. Dia mengira acara itu adalah pelatihan barista. Walaupun demikian, dia tetap mengikuti diskusi sampai selesai. ”Dia tidak menyesal, malah merasa dapat pencerahan,” ungkap Fahd.

Alumnus Monash University, Australia, tersebut menjelaskan, RKK bukan gerakan atau organisasi, melainkan sebuah platform diskusi anak muda. Kegiatan itu bermula dari hobi nongkrong di warung kopi sambil berdiskusi. Setiap kali diundang mengisi acara talk show atau seminar, Fahd selalu mampir ke kedai kopi. Biasanya ada beberapa kawan dan fansnya yang datang menemaninya ngopi. Sebagai penulis terkenal, cukup banyak anak muda yang mengenalnya, bahkan menjadi follower-nya.

Diskusi dengan peserta cukup banyak berlangsung kali pertama di Padang pada 2017. Kala itu Fahd baru selesai mengisi acara talk show. Dia lantas mampir ke salah satu kedai terkenal di kota tersebut. Awalnya hanya mengobrol biasa, ternyata yang datang cukup banyak. ”Ada 30 orang yang datang,” ucapnya.

Melihat antusiasme anak muda mengikuti diskusi, Fahd lantas menggelar kegiatan itu setiap kali mengisi seminar dan pelatihan di daerah. Acara diskusi terus berlanjut di kota-kota yang dia kunjungi. Saat itu diskusi tersebut belum punya nama. Baru setelah diadakan delapan kali, nama RKK mulai dikenalkan. 

Nama itu diperkenalkan saat diskusi di Tasikmalaya. Menurut Fahd, tidak ada nama atau kata lain yang bisa menggambarkan semangat anak muda yang ingin melakukan perubahan secara cepat kecuali revolusi. Karena acara itu selalu digelar di kedai, kedai kopi pun digunakan sebagai mana. 

Ayah Falsafa Kalky Pahdepie dan Alkemia Malaky Pahdepie tersebut mengatakan, RKK hanya menyasar anak muda. Menurut dia, jumlah anak muda di Indonesia sangat banyak, bahkan mayoritas. Namun, dalam perpolitikan nasional, anak muda hanya dijadikan gimmick. Mereka sebatas meramaikan suasana tanpa punya peran penting. Padahal, tutur dia, anak muda harus memegang kendali. ”Anak muda harus menjadi driver,” tutur penulis yang juga entrepreneur itu.

Melalui RKK, Fahd ingin mengajak anak muda mengambil peran, melahirkan karya, dan menunjukkan prestasi. Menurut dia, memengaruhi anak muda harus dilakukan dengan sesuatu yang mereka gandrungi. Salah satunya lewat kedai kopi. Sebab, anak muda sangat gandrung datang ke warung kopi. Sampai saat ini RKK sudah digelar di 17 kota se-Indonesia. 

Dari kota-kota yang dikunjungi, mayoritas anak muda ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat. Mereka tidak ingin diam, tapi ingin mempunyai value. Selain menyadarkan anak muda, Fahd mengajak mereka berkolaborasi antar sesama. Anak muda yang pernah ikut diskusi RKK mempunyai semangat berkarya. 

Di Ambon, misalnya, mereka punya semangat berkarya dalam dunia tulis-menulis. Mereka menulis cerpen, puisi, dan opini di media massa. Mereka pun mengabarkan berita gembira itu kepada Fahd. Gerakan nyata muncul di Lombok. Komunitas yang sebelumnya ikut acara RKK bersatu saat terjadi gempa bumi. Mereka mengumpulkan bantuan untuk para korban. 

Fahd menerangkan, setiap kali menggelar diskusi, dirinya selalu mengundang komunitas dan organisasi anak muda setempat. Misalnya organisasi pelajar dari Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama. Diskusi juga dimanfaatkan untuk pendidikan politik anak muda. Mereka tidak boleh abai dengan politik. Anak muda harus berani mengambil alih kepemimpinan sosial. Bahkan, kata dia, dalam diskusi yang diadakannya, banyak calon anggota legislatif (caleg) yang hadir. Beberapa caleg juga menginisiatori adanya diskusi. 

Soal biaya diskusi, Fahd mengaku membiayai sendiri. Menurut dia, biaya yang dikeluarkan tidak banyak. Agar biaya tidak terlalu besar, acara itu selalu dia barengkan dengan undangan ke daerah. Jadi, sebelum atau sesudah acara di daerah, dia menyiapkan waktu khusus untuk diskusi dengan anak-anak muda. Fahd menargetkan diskusi tersebut bisa digelar di 50 kota. Saat ini dia terus berkeliling Indonesia untuk mengajak anak muda bangkit dan sadar menatap masa depan. 

Selain aktif menggerakkan anak muda, Fahd tidak lupa dengan hobinya menulis. Sampai sekarang dia sudah menulis 20 buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Bukunya yang berjudul Hijrah Bang Tato dalam proses diangkat di layar lebar. Saat ini dia juga menyiapkan buku baru yang akan diberi judul Muda Berdaya, Karya Raya. Buku itu merupakan hasil keliling Indonesia bersama RKK. 

Fahd juga masih terus mengembangkan unit bisnisnya. Sekarang dia mempunyai beberapa usaha. Ada konsultan media, travel haji dan umrah, kedai kopi, barbershop, serta production house. Dia ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak muda. (*/c9/oni)

Berita Terkait