Di Tengah Hutan Bambu Mereka Menghelat Resepsi Pernikahan

Di Tengah Hutan Bambu Mereka Menghelat Resepsi Pernikahan

  Minggu, 20 January 2019 08:29
TAMPIL BEDA: Tradisi penyerahan mahar. FARISAL/FAJAR/JPG

Berita Terkait

Pakaian Keluarga Mempelai Perempuan Serasi dengan Alam

Mulai tempat duduk mempelai, kursi para tamu, sampai kotak angpau terbuat dari anyaman bambu. Ritual penyerahan mahar pun menggunakan rakit. 

FARISAL, Polman

DI tengah hutan bambu pasangan pengantin itu bersanding. Di bawah kelindan kembang dekorasi. Berhadapan dengan kursi bambu untuk para tamu yang dianyam rapi. Hanya beratap kain kuning dan putih. 

”Saya bukan keturunan raja, tetapi niat melestarikan budaya besar,” kata Dardi Affunnai yang memperistri Hasrawati kepada Fajar.

Budaya warga di Dusun Tiga Alu, Desa Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tempat hutan bambu itu berada, memang mewajibkan menjaga keseimbangan dengan alam.  

Menghelat hajatan nikah di hutan bambu seluas 20 hektare Kamis lalu itu (17/1), bagi Dardi dan Hasrawati, menjadikan adat lebih membumi. Dan, anak-anak muda zaman sekarang juga jadi bisa lebih mengenal kekayaan budaya. Sekaligus menumbuhkan unsur romantisme natural.

Sehari-hari Dardi adalah penyuluh pertanian. Dia lahir di Alu, desa yang masuk wilayah Kecamatan Alu, pada 10 Januari 1986. Sementara itu, Hasrawati lahir 5 Februari 1993. 

Busana yang dikenakan keluarga mempelai perempuan, misalnya, juga mencerminkan keserasian dengan alam. Berupa baju bodo, pakaian khas perempuan Sulawesi Barat, berwarna hijau. 

Selaras dengan warna bambu. Kesan alam makin menyatu. Mereka memadukan baju bodo dengan sarung tenun motif kotak, kuning, dan hijau pula.

Sebuah keranjang, juga dari anyaman bambu, diletakkan di depan kedua mempelai. Fungsinya sebagai pengganti kotak passolo (tempat memasukkan angpau) yang sering dipakai pada pesta Bugis-Makassar umumnya. Sementara itu, pintu masuknya diberi hiasan bunga dan tulisan dari susunan bambu. 

Untuk menghelat resepsi di tempat tidak lazim itu, persiapannya terbilang singkat. Hanya 15 hari. Desain area dikerjakan dengan gotong royong oleh keluarga Dardi. 

Singkat, tetapi konsepnya sangat matang. Itu juga terlihat dari penganan tradisional yang disuguhkan. Ada undo, lawar, dan jepa. 

Sementara untuk hiburan, ditandai dengan adanya suara gendang bertalu-talu. Lalu, dua pesilat beradu jurus.  

Bahkan, sebelumnya, ritual penyerahan mahar pun dilakukan dengan konsep atau tradisi Maccanring dan Mattanda Jari. Dengan menggunakan rakit di Sungai Mandar. 

Hasrawati pun mengaku bahagia sekali lantaran hari bersejarah dalam hidupnya dirayakan dengan cara yang menurutnya istimewa. 

”Kebahagiaan apa lagi yang saya dustakan,” katanya, lalu tersenyum agak tertawa.

”Saya bahagia,” sambungnya. 

Hutan Bambu Alu Tiga yang berada di kawasan Delta Alu belakangan kian dikenal namanya. Itu tak lepas dari dihelatnya Festival Sungai Mandar. 

Tahun lalu festival tersebut memasuki edisi kelima dan dihelat pada Juli. Mengutip mandarnesia.com, Festival Mandar 2018 itu berlangsung selama tiga hari dengan penutupan berbagai pertunjukan tari, musik tradisi, dan pembacaan puisi.

Sungai Mandar merupakan salah satu sungai yang memiliki peran penting dalam tinggalan budaya dan peradaban sejak ratusan tahun lampau di Mandar. Sungai itu berhulu di Pegunungan Ulumanda 

Pesta pernikahan di hutan bambu itu pun mengundang perhatian luas warga sekitar. 

”Baru ini ada seperti ini. Bukan keluarga, tapi saya mau lihat,” ujar Sadaria, 35, salah seorang warga kampung.

Irma, 40, warga lainnya, mengaku kagum. ”Iya, kita hanya dengar bilang mau menikah Dardi di hutan bambu. Betul-betul indah,” katanya. (*/rif-zuk/c10/ttg)

Berita Terkait