Di Cirebon Tak Harus Melulu di Pusat Kota

Di Cirebon Tak Harus Melulu di Pusat Kota

  Rabu, 8 June 2016 09:30
KOKOH: Masjid Syekh Abdurrahman tampak dari depan berdiri di Blok Kauman, Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. HAIRUL FAISAL/Jawa Pos

Berita Terkait

Cirebon termasuk salah satu wilayah yang berani mendobrak pakem seputar kampung kauman. Jika di daerah lain kauman selalu identik dengan masjid agung dan alun-alun di pusat kota, di Cirebon, kauman tampil dengan cerita berbeda. Kauman di salah satu kabupetan di Jawa Barat tersebut lebih menepi dari hiruk pikuk kota.

LAPORAN HAIRUL FAISAL 

Kauman di Kabupaten Cirebon merupakan salah satu nama blok di Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered. Blok merupakan istilah lain kampung. Di wilayah tersebut terdapat 120 kepala keluarga dari dua RT, yakni RT 13 dan 15, Desa Kaliwulu.

Kampung itu terpisah jarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Dari Terminal Cirebon, waktu tempuh menuju ke lokasi tersebut sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan pun tampak mulus sebagai bukti kawasan tersebut memang mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah setempat.

Di tengah kampung, berdiri masjid yang menjadi tonggak sejarah penyebaran Islam di Kabupaten Cirebon. Masjid itu bernama Masjid Kaliwulu yang familier disebut Masjid Syekh Abdurrahman. Arsitektur masjid yang berdiri di atas lahan 1.500 meter persegi itu tampak berbeda dengan masjid lain di Cirebon. Nuansa keraton terasa sangat kental di luar dan dalam masjid. Warna merah bata mendominasi setiap area bangunan. Mulai dinding masjid, tempat wudu, hingga pagar setinggi 1,5 meter yang mengelilingi area masjid. 

Bangunan masjid dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama yang berukuran 10 x 10 meter merupakan tempat imam memimpin salat. Di dalamnya ada mimbar yang dibuat dari jati murni. Bagian kedua berada di belakang ruang utama yang dipakai untuk para jamaah atau makmum.

Dua bagian lagi berada di kanan dan kiri ruangan makmum yang tidak menggunakan dinding. Angin sepoi pun menjadi hadiah alam bagi warga yang kerap bersantai di tempat itu ketika menunggu waktu salat. 

Selanjutnya, bagian terakhir yang berukuran sekitar 4 x 4 meter berada di samping kiri ruang imam. Di dalamnya terdapat barang-barang peninggalan pendiri masjid, Syekh Abdurrahman, seperti beberapa keris dan tongkat.

Abdurrahman merupakan putra Sunan Panjunan. Menurut tokoh masyarakat setempat sekaligus pengurus Masjid Syekh Abdurrahman, Masari, Sunan Panjunan masih memiliki ikatan nasab dengan salah satu Wali Sanga, Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah. Syekh Abdurrahman membangun masjid itu sekitar abad ke-17 sebagai pusat kegiatan keagamaan yang dirintisnya di Blok Kauman. Mulai salat lima waktu hingga pengajian.

Masjid Syekh Abdurrahman hingga kini masih berperan sebagai simbol keagamaan masyarakat Blok Kauman. Tradisi keislaman masih dipegang erat oleh masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai perajin mebel. Mulai maulidan, rajaban, hingga selamatan setiap 27 Ramadan. 

Untuk ibadah ritual harian, masyarakat Blok Kauman juga rajin datang ke masjid untuk salat berjamaah. Pemandangan itu tampak saat saya ikut salat Duhur berjamaah di Masjid Syekh Abdurrahman Senin lalu.

Bagi Masari, Masjid Syekh Abdurrahman selamanya akan punya arti bagi masyarakat Blok Kauman. Yakni, menjadi sarana merawat tradisi dan budaya Islam yang diwariskan para pendahulu mereka. Juga, menjadi tempat mengubur amarah dalam sujud-sujud pasrah ketika masyarakat dilanda konflik. 

Karena itu, bersama aparat desa setempat, dia selalu mengingatkan pentingnya masjid bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat. Termasuk saat Ramadan seperti sekarang. ’’Seperti tahun lalu, kami mengadakan buka puasa bersama di sini (masjid, Red),’’ ujar Masari.

Dia semakin tertantang untuk terus mengembangkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat Blok Kauman. Apalagi dia sadar bahwa setiap tahun warga yang tinggal di daerah tersebut semakin berkembang. Semakin banyak penduduk, kegiatan keagamaan pun harus semakin digalakkan. Dengan begitu, sinergi kehidupan bisa berjalan beriringan. ’’Awalnya di sini tidak sampai 10 rumah. Sekarang kan sudah banyak,’’ ungkap pria yang sudah dua periode terpilih sebagai juru kunci Masjid Syekh Abdurrahman tersebut.

Berbicara tentang juru kunci Masjid Syekh Abdurrahman, ternyata bukan sembarang orang yang bisa menyandangnya. Ada syarat dan kriteria khusus. Antara lain, alim, berakhlak baik, bertanggung jawab terhadap kondisi kampung, dan tentu saja memiliki pengetahuan di atas warga lain.

Lantas, apakah Masari akan kembali masuk dalam bursa calon juru kunci periode selanjutnya? ’’Ini saja (dua periode, Red) udah cukup. Jadi juru kunci itu berat tanggung jawabnya,’’ ungkap Masari yang mengaku sejak kecil dekat dengan tokoh-tokoh agama Islam.

Pohon-pohon besar nan rindang yang berdiri perkasa di sekitar masjid ikut menjadi saksi tekad Masari tentang masa depan kampungnya. Sebagai orang yang lahir dan besar di Blok Kauman, bagi dia, tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik untuk masyarakat. Apalagi, meski Blok Kauman tidak berlokasi di tengah kota, godaan duniawi tidak kalah sengit. ’’Di sebelah sananya nih sudah ada supermarket. Jadi, sama saja,’’ katanya.

Tanggung jawab yang sama tertanam kuat di benak Kepala Desa Kaliwulu Gonzales Muslim. Sebagai orang nomor satu di wilayah tersebut, dia menilai Blok Kauman merupakan anak sejarah yang harus dirawat dan dipelihara dengan baik. Baik kesejahteraan masyarakatnya maupun budaya serta tradisi di dalamnya. 

Gonzales pun mengajak saya melihat-lihat beberapa rumah penduduk di sekitar masjid. Semua warga tampak ceria dan bersalaman dengan pemimpin mereka. Wajah-wajah bahagia itu disimpan erat oleh Gonzales dalam benaknya. Mungkin sebagai salah satu bahan pertanggungjawaban atas jabatannya jika kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. (*/c5/agm)

Berita Terkait