Di Balik Layar Rekapitulasi Hasil Pemilu yang Kuras Tenaga dan Pikiran (1)

Di Balik Layar Rekapitulasi Hasil Pemilu yang Kuras Tenaga dan Pikiran (1)

  Kamis, 23 May 2019 10:44
KURANG TIDUR: Ketua Bawaslu Abhan saat mengikuti rekapitulasi perhitungan suara Pemilu 2019. Selama proses rekapitulasi berlangsung, Abhan hanya tidur beberapa jam saja.

Berita Terkait

Pas Jeda Baru Sadar Kaus Kaki Sebelahan 

Nyemil kuaci dan mengonsumsi suplemen adalah sebagian cara para personel Bawaslu untuk menjaga konsentrasi dan stamina. Keluarga sudah paham, janji dengan sang bapak pasti tentatif: sewaktu-waktu berubah.

Bayu Putra, Jakarta

RUANG rapat pleno utama Komisi Pemilihan Umum (KPU) begitu sibuk. Rekapitulasi pemilu untuk wilayah luar negeri tengah dilangsungkan. Semua pihak sudah menempati meja masing-masing.

Termasuk Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan. Sebagai pengawas, dia harus memastikan tidak ada aturan yang dilanggar saat pelaksanaan rapat pleno terbuka pada Sabtu (4/5) dua pekan lalu itu.

Di tengah perdebatan mengenai penggunaan hak pilih dan kelelahan yang mulai menghampiri, konsentrasi peserta rapat mulai agak kendur. Saat itulah staf Bawaslu menyodorkan sebungkus camilan kepada Abhan. Camilan tersebut berbeda dengan kue yang sejak awal disajikan KPU. Itu adalah senjata andalan Bawaslu di kala rapat: kuaci.

Rekapitulasi hasil pemilu tingkat nasional yang berjalan sejak 4 Mei lalu memang sangat menguras tenaga dan pikiran para anggota Bawaslu dan KPU. Rapat-rapat maraton yang membutuhkan stamina prima dan konsentrasi tinggi harus mereka jalani. 

Untuk itu, berbagai cara pun ditempuh personel dua lembaga tersebut agar tetap bisa menjalankan tugas, seberapa lelahnya pun. Sepanjang jalannya rapat pleno pada Sabtu dua pekan lalu, misalnya, Abhan tidak berhenti membuka dan mengunyah kuaci. 

Begitu pula anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin yang duduk di sebelahnya. Sembari menyimak jalannya rapat pleno, keduanya tidak henti mengunyah jajanan yang cukup populer di kalangan siswa sekolah dasar dan menengah itu. ”(Kunci) untuk menghilangkan rasa kantuk itu ya kuaci ini,” ungkap Abhan saat ditemui di KPU, Jakarta, kemarin dini hari (21/5).

Kebiasaan itu pun berlanjut pada rapat pleno di hari-hari berikutnya. Saat masuk bulan Ramadan, kuaci tetap tersedia. Camilan tersebut disediakan untuk sesi pleno malam yang berlangsung setelah salat Tarawih. Saat itulah jam-jam rawan menurunnya konsentrasi. 

Ide awal camilan kuaci tersebut datang dari jajaran Bawaslu provinsi. Mereka selalu makan kuaci ketika rapat, khususnya yang potensial berlangsung lama. Cara itu diterapkan saat rapat pleno rekapitulasi. ”Mulut tetap beraktivitas, tangan beraktivitas, tetap konsentrasi, karena makan kuaci itu,” lanjutnya.

Kebiasaan itu pun akhirnya ditiru peserta rapat lain. Tidak jarang, begitu melihat rombongan Bawaslu tiba, peserta rapat lainnya menagih ”pembagian” kuaci. 

Entah sudah berapa puluh bungkus kuaci yang dihabiskan selama rapat pleno. Tingkat kesulitan dalam mengupas dan effort mengunyah membuat konsentrasi terjaga. ”Jadi guyub rukun karena sama-sama makan kuaci,” ucap pria kelahiran Pekalongan itu.

Tentu saja, kuaci bukan satu-satunya senjata. Secara keseluruhan, proses rekapitulasi nasional begitu menguras tenaga. Kadang rekapitulasi diskors pukul 00.00 atau bahkan 01.30 dan dimulai lagi paginya pukul 10.00. 

Selain makan kuaci, Abhan punya cara lain untuk menjaga stamina: makan yang teratur plus mengonsumsi suplemen. ”Suplemen saya madu dan jus buah,” lanjut pria kelahiran 1968 tersebut. Menurut Abhan, lelah itu manusiawi. Namun, selama pola makan bisa dijaga, dia masih bisa segar hingga selesainya rapat pleno.

Ramadan memang menjadi salah satu tantangan rekapitulasi. Di saat mayoritas umat Islam memperbanyak ibadah, sebagian harus berkutat pada perdebatan di forum pleno sepanjang hari. Meskipun demikian, Abhan mengaku masih bisa menyiasati. Apalagi, KPU memberikan jeda cukup panjang sejak jam berbuka hingga selesai Tarawih.

Biasanya, menjelang jam berbuka puasa, KPU menskors rapat pleno. Saat itulah Abhan dan para anggotanya kembali ke Bawaslu. Setelah berbuka, dia menuntaskan pekerjaannya di kantor seperti memberi disposisi ke sejumlah dokumen sembari menunggu salat Isya sekaligus Tarawih. ”Saya masih sempat ngimami di musala Bawaslu. Tapi tentu yang delapan rakaat,” urainya.

Tarawih selesai pukul 19.45 dan dia langsung kembali ke KPU karena pleno dimulai lagi pukul 20.00 hingga malam. Jam tidur pun ikut berubah. Rata-rata, selama Ramadan, Abhan hanya punya waktu tidur singkat. Khususnya bila rekapitulasi berlangsung hingga tengah malam. Bahkan, saat rekap baru diskors dini hari, mau tidak mau dia baru tidur sejenak menjelang subuh. Lalu lanjut lagi setelah subuh.

Panjangnya proses pleno juga membuat Abhan harus lebih sering memberikan pengertian kepada keluarga. Bahwa dia tidak bisa berbuka puasa bersama di rumah. Meskipun pada dasarnya keluarga sudah bisa memahami ritme kerjanya sebagai penyelenggara pemilu. ”Saya sampai sekarang baru satu kali buka puasa bersama keluarga,” ungkapnya. 

Cukup sering pula sang putri protes karena ayah dua anak itu seperti tidak kenal waktu. ”Jadi, kalau janji sama bapak itu tentatif, sewaktu-waktu ada perubahan,” sambung Abhan, lantas tertawa. 

Hampir sama dengan Abhan, anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin pun harus ikut mengubah ritme hidup. Apalagi, dia ditugaskan sebagai penanggung jawab pengawasan rekapitulasi sehingga setiap hari harus hadir. ”Ketika puasa, tantangan utamanya adalah ketika dimulai pagi,” bebernya.  

Bagaimana tidak, sering kali Afif –sapaan Afifuddin– baru tiba di rumah menjelang waktu sahur. Atau setidaknya pukul 01.00. Dalam kondisi demikian, kadang rasa kantuk juga tidak bisa dihindarkan di siang hari. Afif mencontohkan, dirinya pernah tertidur di kantornya setelah salat Jumat. Ketika terbangun, dia pun buru-buru berangkat ke KPU untuk melanjutkan pleno. 

Afif cepat-cepat mengenakan kaus kaki dan sepatu, lalu berangkat. ”Saat break (jeda) asar, saya ke ruangan Mas Arief (Budiman, ketua KPU, Red). Pas mau buka sepatu, eh ternyata kaus kakinya sebelahan,” ucapnya lantas tertawa. 

Rapat pleno yang panjang juga membawa hikmah tersendiri bagi Afif. Dia jadi bisa lebih sering berdiskusi dengan KPU meski singkat saat jeda salat. Khususnya mengenai forum rapat pleno. Misalnya agar pleno tidak molor. ”Lalu kami salat berjamaah di ruangan Mas Arief, imamnya gantian. Kalau nggak Mas Arief, ya Mas Abhan,” sambung pria asal Sidoarjo itu.

Dan yang tidak kalah penting, lanjut Afif, dirinya dan Arief bisa melampiaskan kerinduan untuk mengobrol dengan dialek Suroboyoan. Itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam kondisi normal. Sebab, mayoritas staf Bawaslu tidak berasal dari Surabaya dan sekitarnya. Tidak jarang Afif tidur rebahan begitu saja di kursi tamu di hadapan ketua KPU dan Bawaslu sembari mengobrol ringan.

Tidak seperti Abhan yang sempat mendapatkan momen buka puasa bersama keluarga, hingga Senin (20/5) lalu Afif belum merasakan momen yang sama. Afif hanya menjanjikan kepada keluarganya, setelah rekapitulasi selesai, dirinya akan berbuka puasa bersama di rumah atau di mana pun bersama keluarga. 

Untung, pihak keluarga bisa memahami ritme kerja penyelenggara pemilu sehingga tidak banyak protes saat momen bersama itu hilang. ”Tapi, saat sahur saya upayakan meski tidak setiap hari. Karena belakangan nginep terus (di kantor Bawaslu, Red),” akunya.

Disinggung rencana ke depan setelah semua proses pemilu selesai, Afif mengaku belum memiliki pandangan. Dia malah berencana melakukan evaluasi sendiri, lalu mempersiapkan pengawasan pilkada 2020. Sebab, bagi Afif, hidup adalah mengabdi. ”Mengalir seperti air, jadi tidak pernah merencanakan sesuatu;” tambahnya.

Jawaban berbeda disampaikan Abhan. Dia masih punya tanggung jawab pribadi. ”Saya mau menyelesaikan kuliah S-3,” ungkap Abhan yang tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (*/c9/ttg)

Berita Terkait