Devi Raissa dan Proyek Rabbit Hole; Terbitkan Buku Berkualitas Sesuai Usia

Devi Raissa dan Proyek Rabbit Hole; Terbitkan Buku Berkualitas Sesuai Usia

  Selasa, 5 July 2016 10:57

Berita Terkait

Mengenalkan anak supaya cinta terhadap buku punya banyak manfaat untuk tumbuh kembang mereka. Berikan buku-buku berkualitas sesuai dengan usia. Devi Raissa, alumnus psikologi Universitas Indonesia, berusaha memenuhi kebutuhan itu lewat Rabbit Hole.

 
RABBIT Hole berawal pada 2013. Ketika berpraktik, Devi kerap menjumpai para orangtua  yang mengeluhkan sulit berkomunikasi dengan anak. Padahal, komunikasi yang kurang baik antara ayah, ibu, dan anak akan memunculkan beragam masalah. Harus sejak dini membangun bonding yang erat.
Berdasar riset, ketika dibacakan buku, seorang anak merasa lebih nyaman dan terbuka untuk bercerita. ”Membacakan buku untuk anak 5 sampai 10 menit perhari sudah cukup, asalkan rutin,” ujar perempuan kela hiran Malang, 2 Desember 1987 tersebut.
Penting juga diingat, pastikan buku untuk anak berkualitas dan tepat usia. Namun, itu kerap menjadi hambatan. Buku-buku yang berkualitas untuk anak kebanyakan impor dan harganya mahal. Belum banyak buku berkualitas produksi lokal yang harganya terjangkau.
”Lantas terpikir, saya punya ilmunya, kenapa saya tidak coba bikin sendiri?” ungkap Devi yang mengambil S-2 psikologi anak.
Ketika dimulai pada 2013, Rabbit Hole membuat buku customized yang jumlahnya limited. Biasanya, dipesan untuk ulang tahun anak.
Devi membuat cerita, ilustrasi dikerjakan partnernya, Guntur Gustanto. Mulai Agustus 2014, Rabbit Hole berganti konsep menerbitkan buku massal yang tetap diproduksi dan didistribusikan sendiri. Konsep dan tampilan halaman buku dibuat semenarik-menariknya sehingga menjadi buku interaktif.
Misalnya, si anak yang jadi tokohnya. Dia bisa memasang stiker huruf, menggunting, dan menempel gambar identitas. Kemudian, ada halaman flap (buka tutup) serta pop-up.
Setiap buku ditujukan untuk anak sesuai tahap perkembangan, mulai usia 6 bulan hingga 7 tahun. Hingga saat ini sudah delapan buku yang dibuat. Buku pertama adalah Asal Mula Namaku yang tokoh-tokohnya hanya satu huruf. Yaitu, huruf vokal
A, I, U, E, O. ”Pemikirannya, kalau anak suka bukunya, hafal nama tokohnya, otomatis jadi hafal huruf vokal,” tutur Devi.
Lantas, dia melihat buku untuk bayi belum ada atau sangat sedikit. Dia membuat Cilukba untuk bayi usia 6 bulan. Karena bayi belum bisa melihat banyak stimulus, di
setiap halaman buku hanya ada satu objek.
”Sambil membacakan buku, minta anak untuk menunjuk, ’Papa yang mana? Kalau Mama mana?’,” contohnya.
”Selain menstimulus anak, ortu jadi lebih komunikatif saat membacakan isi buku. Ini membantu ortu yang merasa tidak jago mendongeng,” urai sulung di antara empat bersaudara itu.
Ada juga buku pengenalan emosi untuk anak usia satu tahun dengan objek yang bisa
disentuh (touch and feel). Banyak feedback menarik yang disampaikan para ortu setelah membacakan buku Rabbit Hole kepada anak mereka.
”Ada yang minta dibikinin nasi lapola karena ada resepnya di buku Liburan Terbaik.
Sampai dibuatkan oleh mamanya dan fotonya dikirim ke saya,” kata Devi, lantas tertawa.
Lewat buku itu, anak-anak juga mengenal Indonesia, kota, adat, budaya, makanan,
serta tempat wisata yang indah. Bukan hanya buku, ada pula versi buku digital kerja sama Rabbit Hole dengan developer Sabda Drupadi yang pada Januari 2014 mengeluarkan aplikasi dongeng interaktif untuk iOS berjudul Bella dan Kelima Balon. Si kecil dilibatkan untuk berinteraksi. Tokoh utama yang bernama Bella bisa diubah
namanya sesuai dengan nama si kecil. Dia juga bisa menentukan jalan cerita berikutnya dengan memilih opsi yang ada. (nor/c6/ayi)

 

Berita Terkait