Depresi Akibat Rekan Kerja

Depresi Akibat Rekan Kerja

  Senin, 12 March 2018 11:00

Berita Terkait

Beragam karakter rekan kerja dapat ditemukan. Ada yang bersifat membangun, tapi ada pula yang dapat membuat diri merasa depresi karena tingkahnya. Depresi karena rekan kerja tak selalu disadari diri. Namun, jika dibiarkan berlarut-larut dapat menimbulkan performa kerja yang tak maksimal, serta merugikan diri sendiri.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

‘Depression is either sad mood for lack of interest in daily activities or the ability to gain pleasure from these activities’. Depresi kerap dirasakan seseorang. Hadirnya depresi dalam diri mampu menurunkan minatnya untuk melakukan sesuatu. Walaupun sebenarnya aktivitas dijalani merupakan kegiatan yang sangat disukai sebelumnya.

Depresi adalah suatu kondisi psikologis dan gangguan mental, dimana keadaan ini jauh lebih berat dibandingkan rasa cemas dan stress.

Depresi akan menyebabkan seseorang merasa sedih berkepanjangan dan mendalam. Penyebabnya pun beragam, kebanyakan disebabkan dari faktor lingkungan. Tak hanya di lingkungan rumah maupun sekitar.

Rasa depresi juga dapat dirasakan di lingkungan kerja. Seperti Tyo yang kerap merasa terganggu dengan tingkah rekan kerjanya di kantor. Awalnya, pegawai swasta ini tak terlalu merasa terganggu akan aksi rekan kerjanya. Namun, rasa depresi muncul ketika ada kesalahpahaman  saat melangsungkan kegiatan.

“Awalnya saya merasa stress akan tingkahnya. Semakin dipendam, benar-benar membuat saya depresi hingga akhirnya sakit selama satu minggu,” curhatnya.

Kini, ia mulai mencoba bersikap biasa dan tak mau terlalu dekat dengan rekannya tersebut. Bukan didasarkan rasa dendam, tapi lebih pada mencegah timbulnya rasa depresi yang merugikan dirinya. Tyo tak ingin memperpanjang masalah, karena ia tahu rekan kerjanya bukanlah tipikal orang yang mudah menerima saran orang lain

Menanggapi permasalahan tersebut, psikolog Dewi Widiastuti Lubis, S.Psi mengatakan setiap orang berpotensi merasakan depresi, termasuk saat berada di lingkungan kerja. Biasanya, depresi di lingkungan kerja hadir dari tingkah laku salah satu rekan kerja yang dirasa sangat mengganggu. Baik dari tingkah lakunya, sampai perkataannya.

Depresi yang dialami tak langsung dirasakan. Dimulai dari rasa stress, cemas, kemudian baru beralih ke depresi. Sangat sulit rasanya, jika seseorang tak mampu menghadapi kondisi dan tekanan yang ada.

Semakin sulit beradaptasi, seseorang akan mendapatkan tekanan yang kuat. Jika sudah begini, seseorang perlu waspada terhadap tingkatan depresi yang dirasakan.

“Depresi terbagi atas tiga tingkatan, ringan, sedang, dan berat. Bergantung pada masalah, kondisi, dan tekanan yang dirasakan,” ujarnya.

Psikolog RSJ Daerah Sungai Bangkong ini menjelaskan depresi tingkat ringan diawali merasa sedih, atau sedikit terganggu dengan perilaku rekan kerja. Akan sangat fatal jika depresi semakin menyelimuti diri, tak hanya menyerang psikis, tapi juga fisik. Hingga, membuat seseorang sakit kepala dan merasa ingin selalu marah. Depresi ini sudah masuk dalam kategori berat.

Banyak hal buruk yang dapat terjadi, khususnya dapat merusak kondisi pertemanan yang telah terjalin. Seseorang yang telah merasa depresi akan sulit menerima rekan kerjanya saat berada di ruangan yang sama.

Saat melihat bisa saja merusak mood seseorang untuk memulai bekerja. Terlebih, jika rekan kerja yang membuat depresi itu memiliki sikap kerap mengkritik, narsis, serta suka merendahkan orang.

Dewi menuturkan, semua kesalahpahaman yang terjadi dapat diatasi, tergantung dengan kemampuan dan keinginan diri seseorang. Bisa dengan mengajak rekan berbicara dari hati ke hati, meminta untuk mengurangi kebiasaannya yang dapat berakibat buruk bagi orang lain. Seseorang bisa kembali bekerja dengan baik, tanpa merasa terganggu atau bahkan mengalami depresi.

Namun, jika rekan bukanlah orang yang mampu menerima saran, serta membuat Anda merasa sulit dan kurang nyaman berada satu tim dengannya, Anda bisa meminta atasan untuk bantu mencarikan  jalan keluar. 

“Komunikasi perlu dibangun antara rekan kerja dan pimpinan. Tujuannya, agar rasa depresi ini tak menghambat dan merugikan suatu perusahaan,” ujarnya**

 

Berita Terkait