Demi Sekolah, Tinggal di Gubuk Sederhana Berlantaikan Tanah

Demi Sekolah, Tinggal di Gubuk Sederhana Berlantaikan Tanah

  Kamis, 31 January 2019 09:36
GUBUK : Kondisi gubuk tempat tinggal sementara para pelajar di Dusun Sentalang, Desa Setia Budi, Kabupaten Bengkayang. ISTIMEWA

Berita Terkait

Perjuangan Pelajar di Pedalaman

BENGKAYANG-Kisah perjuangan 24 pelajar asal Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang untuk menuntut ilmu patut diapresiasi. 

Demi sekolah yang layak, mereka rela tinggal sementara di gubuk sederhana di Dusun Sentalang Desa Setia Budi yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal asli mereka. 

Sudah belasan tahun sejak masih berada di bangku SD, mereka harus menempuh perjalanan dengan waktu sekitar tiga hingga empat jam dari daerah asli mereka untuk bisa bersekolah di SD 04 dan SMP 04, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang. 

Demi mendapatkan pendidikan yang setara dengan pelajar pada umumnya mereka harus rela menginap di bangunan yang bisa dibilang tak layak huni. Kondisi tempat tinggal sementara itu cukup memprihatinkan, hanya gubuk yang terbuat dari kayu seadanya.

Hunian yang mereka sebut asrama itu terdiri dari delapan pondok yang semuanya terbuat dari kayu. Berdinding papan dan beratapkan daun sagu. Fasilitasnya pun sangat sederhana, termasuk kamar untuk mereka tidur dan dapur yang masih menggunakan kayu bakar. 

Di dalam pondok sederhana itu, seluruh pelajar menggunakan peralatan seadanya untuk belajar. Lantainya masih berupa tanah, bangunan belasan tahun itu di beberapa sisi juga sudah terlihat rapuh. 

Kepala Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar Iyun mengatakan lokasi tempat tinggal para pelajar itu sebenarnya berada tidak jauh dari jalan nasional yang menghubungkan Kecamatan Bengkayang dan Kecamatan Jagoi Babang. Diakuinya hingga kini dareah tersebut memang belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah daerah. 

"Mereka berada di asrama itu semenjak mereka kelas satu SD, karena kalau dari kampung asal mereka menuju ke SD dan SMP 04 perjalanan mencapai empat jam, makanya mereka menginap di asrama agar bisa bersekolah di Kecamatan Lumar," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (30/1).

Menurut Iyun, selain ke-24 pelajar yang menghuni pondok sangat sederhana itu, beberapa kakek dan nenek dari pelajar tersebut juga ikut menginap di tempat yang sama. Para orang tua ini sengaja tinggal di sana agar bisa mengasuh para cucu demi mendapatkan pendidikan yang sama dengan warga lainnya. "Alasan mereka selain jauh dari kampung asal, mereka bisa mengasuh cucu-cucu yang menjadi pelajar di SD dan SMP 04 Kecamatan Lumar," jelasnya. 

Salah satu siswa yang menginap di asrama, Franhina Lina bercerita jika pondok sederhana itu terpaksa ia huni karena ingin bersekolah tanpa harus melakukan perjalanan panjang dan lama. "Kami tinggal disini semenjak kelas satu SD, dan sekarang sudah kelas enam. Kalau kebutuhan pokok biasa dikirim orang tua, tapi kadang juga ambil sendiri ke kampung, seperti beras dan sayuran," kisahnya. 

Mendapat informasi tersebut, Gubernur Kalbar Sutarmidji berjanji akan menindaklanjuti permasalahan tersebut. Ke-24 pelajar itu menurutnya perlu dibantu agar mendapat fasilitas yang layak. 

"Kami akan bantu kelayakannya," ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/1).

Orang nomor satu di Kalbar itu mengatakan akan memastikannya secara langsung. Ia pun berencana akan segera mengunjungi pondok sederhana yang dianggap cukup memprihatinkan itu. "Nanti saya akan ke sana," katanya singkat.(bar/r)

Berita Terkait