Demi Lahan, Gerakkan Wakaf Tunai

Demi Lahan, Gerakkan Wakaf Tunai

  Rabu, 28 September 2016 09:30
DIABADIKAN BERSAMA: Ketua Ponpes Tahfiz Baitul Quran Sukadana Burhanudin (tiga dari kanan) diabadikan bersama perwakilan Pengurus Masjid, Majelis Taklim dan Pondok Pesantren se-Kalbar dalam kegiatan Sosialisasi Wakaf Produktif. ISTIMEWA

Berita Terkait

SUKADANA – Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfiz Baitul Quran Sukadana menjalankan gerakan wakaf tunai. Gerakan tersebut mereka lakukan guna memperluas lahan Ponpes.

 
“Program ini telah kita jalankan dan silakan bagi donatur yang diberi kelebihan harta untuk menginfakkan sebagian harta untuk bekal ke surga,” ungkap ketua Ponpes Tahfiz Baitul Quran Sukadana, Burhanudin, Selasa (27/9). Dijelaskannya, untuk lahan Ponpes sekarang yang sudah terbeli dengan buka lahan 11 meter dan panjang 150 meter.  Tanah seluas itu mereka beli seharga Rp100 ribu permeter. “Jadi butuh dana lebih dari Rp150 juta, dan udah kita beli,” katanya.

Tanah yang sudah dibeli itu, diakui dia, yang baru disertifikat hanya sebagian karena ikut program nasional (prona), sehingga luasnya terbatas. “Sisanya belum disertifikatkan dan akan segera kita urus untuk disertifikatkan,” timpalnya.

Tanah Ponpes tersebut, dijelaskan dia, bersumber dari masyarakat yang menghibahkan satu dan dua meter. Bahkan, dia menambahkan, Bupati Kayong Utara Hildi Hamid sampai mewakafkan lebih 100 meter dengan dana Rp17 juta.  “Pada Awalnya tanah 12x100 meter yang sudah disertifikat melalui program Kemenag. Tanah sekarang lebar 23 (meter) dan panjang tidak sama, ada yang 100 meter dan ada yang 150 meter,” kata dia.

Dikatakannya lagi, masih ada sisa tanah sekitar 20x150 meter yang akan dibeli lagi. Dari informasi yang didapatnya, pemilik tanah mau menjual lahan tersebut, namun harga belum diketahui. “Kita fokus memperluas lahan karena ada rencana bangun asrama putri dan rumah pengasuh, dan sekarang mulai kerja dengan bahan bantuan yang dihibahkan dari Pemkab Kayong Utara (bekas perumahan Dinas Puskesmas Siduk, Red). Fasilitas sekarang yang sudah ada di antaranya rumah pengasuh ada satu, musala, bangunan asrama putra (sebanyak) satu lokal, ruang kelas satu lokal, tempat wudu satu ruangan, dapur umum dan ruangan santri putri,” jelasnya.

Sekarang ini, dijelaskan dia, ada dua pengasuh atau ustaz yang disediakan tempat dengan mengontrak rumah warga di sekitar Ponpes. “Maunya disatukan, supaya pengasuh dan santri tidak jaug dan dapat terpantau 24 jam,” timpalnya.

Adapun jumlah santri sekarang ini, menurut dia, sebanyak 178 orang. Para santri tersebut, dikatakan dia, berasal dari Simpang Hilir, Sukadana, Pulau Maya, bahkan Sandai, Kabupaten Ketapang. “Dari santri sebanyak itu, yang mukim baru 12 santri dari Simpang Hilir, Pulau Maya, dan Sandai dan Teluk Batang. Ada juga dari Sukadana dan lainnya pulang ke rumah,” jelasnya.

Mereka lebih fokus pada pendidikan tahfiz atau hafalan Alquran dan didukung dengan pelajaran Bahasa Arab, Fiqih, Tajwid, Akidah, dan Muhadarah. “Untuk muhadarah pada malam minggu. Karena anak yang tidak mukim banyak yang nginap dan mereka mabid di sana,” sambungnya.

Sejauh ini, tahfizulquran Sukadana sudah mengirim santri mereka ke Ponpes Darul Quran Jakarta sebanyak 14 santri. Mereka yang dikirim, dijelaskan dia, memiliki kemampuan hafalan minimal 1 juz, namun dia menambahkan, yang dikirim sudah ada dua hingga tiga juz. “Yang dikirim sudah ada hafiz 30 juz, dan sekarang masih di Ponpes Darul Quran Jakarta untuk menyelesaikan SMA. Di Darul Qur’an mereka dibiayai oleh Pemda Kayong Utara,” ucapnya. (dan)

Berita Terkait