Delapan Rumah di Kampung Prajurit Terancam Ambruk

Delapan Rumah di Kampung Prajurit Terancam Ambruk

  Selasa, 31 July 2018 10:00
ABRASI : Delapan rumah di kampung Prajurit terancam ambruk terkena abrasi sungai Kapuas. MUSTA'AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Tergerus Air Sungai, Momok di Musim Hujan 

Jika musim hujan tiba menjadi momok warga yang tinggal di pinggiran sungai. Soalnya dengan musim hujan tiba, tanah-tanah yang ditempati warga di pinggiran sungai akan lebih cepat digerus air. Pemerintah diminta tanggap dengan kondisi rumah warga di pinggir sungai.  

MUSTA’AN, Putussibau

SETIDAKNYA ada felapan rumah di Kampung Prajurit tepatnya di Jalan Sibat RT 01 RW 03 Kelurahan Hilir Kantor Kecamatan Putussibau Utara terancam ambruk. Kelihatannya, delapan rumah warga tersebut tinggal menunggu waktu. Kapan longsor akibat tergerusnya tanah oleh air sungai Kapuas menghempaskan rumah-rumah mereka. 

Saat musim hujan, menjadi momok bagi warga pinggiran sungai tersebut. 

Tanah-tanah yang ditempati warga menjadi goyah akibat, bagian bawah terus digempur ombak abrasi. Pemerintah pun diminta lebih tanggap terhadap kondisi rumah warga yang berada di pinggiran sungai. Sebelum masyarakat menjadi korban longsor nantinya. 

Abang Hanafiah salah satu warga yang tinggal dipinggiran sungai mengaku sangat khawatir jika musim penghujan tiba. Diirnya bersama warga lainnya selalu memantau kondisi tanah jika hujan tiba. 

"Jika tidak cepat ditangani, maka dipastikan beberapa rumah yang berada dipunggiran sungai ini akan ambruk," katanya, Senin (30/7). 

Abang mengatakan, pihaknya sudah pernah mengusulkan agar pemerintah segera membangun barau disekitar tempat tinggal mereka. Soalnya pembangunan barau ini satu-satunya solusi agar rumah warga tidak terancam ambruk. "Tidak ada jalan lain untuk membantu kami disini," ucapnya. 

Lanjut Abang, menurutnya pemerintah pernah memberikan bantuan kepada warganya berupa uang Rp 2 juta untuk merehab rumah. Namun bantuan tersebut dianggap kurang efisien, karena bukan bantuan seperti itu yang diharapkan masyarakat. "Bantuan itu sudah lama, sekarang sudah beberapa tahun kami tunggu, bantuan.pemerintah tak ada lagi," ungkapnya yang.juga Ketua RT 01 ini. 

Sementara itu Erol Aminudin Lurah Hilir Kantor mengatakan, pihaknya bersama Kapolsek Putussibau Utara pernah mengusulkan bantuan ke pemerintah setempat agar warga didaerah tersebut dapat bantuan. "Tiap tahun kami usulkan dalam Musrenbang  untuk pembangunan barau, namun tak pernah diakomodir," ujarnya. 

Erol mengungkapkan, jika tak segera ditanggulangi oleh pemerintah setempat, maka rumah-rumah yang berada dipinggiran sungai tersebut terancam ambruk dihantam longsor mendadak.

"Yang jelas kalau hujan, rumah-rumah disana itu terancam ambruk," tuturnya. 

Erol menilai, pemerintah setempat agak lambat dalam menangani masalah tersebut, ia berharap jangan sampai ketika ada korban baru pemerintah setempat turun. "Kasihan kami melihat mereka, kita berharap pemerintah segeralah turun tangan membantu mereka,"kata dia.(*)

Berita Terkait