Debat Cawapres Nyaris Tanpa Debat

Debat Cawapres Nyaris Tanpa Debat

  Senin, 18 March 2019 09:13
Ma’ruf Amin

Berita Terkait

Tak Ada Saling Sanggah, Hanya Pamerkan Visi-Misi 

JAKARTA – Debat calon wakil presiden (cawapres) tadi malam lebih mirip paparan visi-misi. Hampir tidak ada adu argumen yang berarti antarkandidat. Cawapres 01 Ma'ruf Amin tidak banyak mendebat paparan cawapres 02 Sandiaga Uno. Begitu pula sebaliknya.

Debat cawapres yang diadakan di Hotel Sultan, Jakarta, itu dimulai sekitar pukul 20.00. Dalam paparan perdana, Ma'ruf Amin menekankan pentingnya keberlanjutan pembangunan yang sudah dijalankan selama masa kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla. Ma'ruf menegaskan bahwa dirinya akan melanjutkan program-program yang sudah ada. "Kami bertekad memperbesar manfaat program yang telah ada," ujarnya. 

Dia lantas menyebut program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Cakupan dua program itu akan diperluas. Untuk pendidikan, program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dilanjutkan dan ditingkatkan levelnya hingga jenjang kuliah. "Orang tua tidak perlu khawatir masa depan. La tahzan wala takhaf. Negara telah hadir dan akan terus hadir," ujarnya.

Ma'ruf juga memperkenalkan kembali dua program tambahan. Yakni kartu sembako dan kartu prakerja. Kartu sembako diberikan sebagai solusi bagi ibu-ibu agar bisa membeli sembako murah. Sedangkan kartu prakerja memberi kemudahan pelatihan dan pekerjaan bagi anak muda. Ma'ruf  juga mengeluarkan tiga kartu andalan pemerintah. Yakni KIP kuliah, kartu sembako murah, dan kartu prakerja. ''Supaya anak-anak miskin bisa kuliah, supaya ibu-ibu bisa belanja murah, dan supaya mudah mendapatkan kerja,'' katanya.

Sandiaga juga lebih sering memaparkan program kerjanya ketimbang  mengkritisi paparan Ma'ruf. Dia menekankan visi misinya pada hal-hal mendasar yang dia peroleh dari hasil menyerap aspirasi rakyat. Mulai dari pembukaan sektor usaha untuk lapangan kerja, akses kesehatan yang mudah, hingga pendidikan dan listrik yang murah. Sandi menjanjikan solusi atas sejumlah persoalan yang masih terjadi di sektor-sektor tersebut.

Di sektor pendidikan, Sandi berjanji menuntaskan persoalan ketidakjelasan status dan kesejahteraan guru honorer. Selain itu, sistem Ujian Nasional juga akan dihapuskan. "Sistem UN dihentikan, diganti minat dan bakat," tegasnya. Sandi menilai, sistem pendidikan dengan mengikuti minat dan bakat lebih bermanfaat dan linier dengan kemampuan setiap siswa.

Persoalan linieritas dan kesinambungan menjadi konsen pasangan 02. Sandi menilai, pendidikan dan dunia kerja harus link and match. Dia berpendapat, salah satu penyebab banyaknya pengangguran adalah tidak bertemunya kualitas SDM yang ada dengan kebutuhan dunia kerja.

Ma'ruf sendiri mengaku memiliki pendekatan yang sama. Karena itu, kata Ma'ruf, ke depan pemerintah akan mengomunikasikan tenaga kerja dengan dunia kerja. Dia menyebutnya dengan istilah Dudi. "Dunia usaha dan dunia industri," katanya.

Di sektor kesehatan, Sandi menetapkan penyelesaian persoalan defisit di tubuh Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) sebagai prioritas. Dia menargetkan, dalam 200 hari pertama, persoalan itu bisa dituntaskan. Menurutnya, defisit BPJS berdampak pada kualitas pelayanan rumah sakit yang buruk. "Kita pastikan tenaga kesehatan dibayar tepat, ketersediaan obat juga terpenuhi," tuturnya.

Ma'ruf menilai, meski ada sejumlah persoalan, program JKN melalui BPJS sudah sangat maju. Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat yang terdaftar. "Pemerintah sudah melakukan langkah besar memberi pelayanan dengan harga murah," kata Ma'ruf.

Ke depan, kata dia, perbaikan pelayanan terus dilakukan. Melalui perbaikan infrastruktur fasilitas kesehatan, distribusi tenaga medis, dan kepastian ketersediaan obat. Selain itu, gerakan masyarakat sehat juga dicanangkan sebagai langkah preventif dengan pendekatan keluarga. "Sehingga diharapkan penyakit berkurang," tuturnya.

Sementara itu, keputusan KPU memberikan pertanyaan yang sama untuk melihat perbedaan dan adu gagasan terkesan kurang menarik. Dalam pertanyaan soal strategi riset, misalnya, tidak tampak upaya untuk saling mengkritik gagasan masing-masing. Dalam menjawab tantangan pengelolaan riset misalnya, Ma'ruf tidak membalas konsep Sandi yang menyebut kegagalan pemerintah dalam mengonsolidasikan sistem riset dengan dunia luar.

Sebaliknya, Amin hanya menyebut jika pihaknya akan mengoordinasikan dana menjadi dana abadi riset. "Selama ini terbagi ke lembaga, nanti akan kita satukan dan akan kami bentuk badan riset nasional," ujarnya. Sandi hanya menanggapi bahwa pembentukan lembaga baru itu akan menambah rumit birokrasi.

Persoalan Tenaga Kerja Asing (TKA) menjadi isu yang banyak disuarakan Sandi. Sandi menilai, kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan bagi TKA tidak sejalan dengan kepentingan nasional. Sebab, fakta yang dia temui di lapangan, masih ada sektor yang semestinya bisa diisi tenaga kerja lokal, malah diserahkan ke TKA.

Namun, Ma'ruf membantah tuduhan tersebut. Dia menjamin, secara prosedural, TKA hanya diberikan bagi posisi yang tidak bisa diisi oleh SDM dalam negeri. "Juga untuk transfer pengetahuan," kata dia. Selain itu, jumlahnya juga masih di bawah 0,01 persen.

Hingga beberapa segmen, aksi debat antara Sandi dan Ma'ruf nyaris tidak banyak terjadi. Di beberapa segmen, Sandi tampak berupaya menonjolkan sifat takzim pada Ma'ruf yang jauh lebih senior. 

Kalaupun ada, itu hanya terjadi di segmen lima. Saat Ma'ruf mempertanyakan konsep sedekah putih untuk menuntaskan persoalan stunting. Dalam pemahaman banyak orang, kata Amin, program tersebut tidak efektif mengingat baru dilakukan setelah selesai dua tahun masa ASI.  "Apabila diberikan susu setelah dua tahun, maka gak ngaruh untuk mencegah stunting," ujarnya.

Namun, Sandi membantah hal itu. Menurutnya, program sedekah putih berupa berbagi susu bisa dilakukan kapan saja. Dia kemudian mencontohkan kasus istrinya yang hanya bisa memberikan ASI pada enam bulan pertama. "Banyak anak-anak mengalami kasus serupa. Di situlah, kami ingin mengajak pada donatur untuk membantu gizi ibu," terangnya.

Sementara itu, dua capres, yakni Jokowi dan Prabowo Subianto tidak menyaksikan acara debat di lokasi acara. Jokowi sempat datang. Namun, tak sampai 10 menit, dia meninggalkan lokasi. "Pak Ma'aruf Amin sudah menyiapkan debat ini sampai ke hal yang terpenting. Penguasaan materi, juga penerapannya di lapangan. Beliau sudah paham semua isu yang ada," kata Jokowi sebelum meninggalkan area debat.

Sementara itu, Riski Adam, anggota tim media center Prabowo-Sandi, menyebut bahwa Prabowo sejatinya akan menggelar nonton bareng di kediaman di Jalan Kertanegara. Namun, pesawatnya mengalami keterlambatan. "Baru naik pesawat dari Samarinda," kata Adam saat menyampaikan kabar sekitar pukul 20.00 WIB. Prabowo sendiri baru terlihat hadir di Kertanegara sekitar pukul 21.30 WIB, dan langsung memasuki kediamannya. (far/lum/bay/bin/oni)

Berita Terkait