Deadline 3 Hari Buat Gafatar , Warga Lakukan Sweeping

Deadline 3 Hari Buat Gafatar , Warga Lakukan Sweeping

  Sabtu, 16 January 2016 10:16
DATANG: Ribuan warga Mempawah mendatangi basecamp eks kelompok Gafatar di daerahnya. Lainnya, koordinator warga memberikan ultimatum di dusun Moton Asam desa Antibar Mempawah. WAHYU IZMIR/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH-Suasana malam di Kota Mempawah mendadak mencekam. Kamis (15/1) sekitar pukul 20.00 WIB, ribuan warga turun ke jalan melakukan sweeping terhadap tempat tinggal pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang ada di Kecamatan Mempawah Hilir dan Mempawah Timur.

Aksi sweeping bermula ketika ratusan warga Desa Antibar Kecamatan Mempawah Timur mendatangi sebuah rumah kontrakan yang berada di Jalan Pangsuma Rt 26 Rw 08. Mendapat pengawalan ketat pihak kepolisian, warga mengintrogasi delapan kepala keluarga (KK) penghuni rumah. Meski awalnya berkelit, para penghuni rumah pun akhirnya mengakui jika mereka merupakan eks pengikut Gafatar.

“Kami menolak siapapun terkait dengan Gafatar masuk dilingkungan masyarakat Mempawah. Kami beri waktu hingga tanggal 17 Januari 2016 bagi kalian (Gafatar) untuk meninggalkan Mempawah. Jika ultimatum ini tidak diindahkan, maka jangan salahkan kami apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Perwakilan Warga, Aryadi.

Usai menyampaikan ultimatum tersebut, aksi sweeping berlanjut ke wilayah lainnya. Jumlah warga pun semakin bertambah mencapai ribuan orang dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sedikitnya ada  16 lokasi di Kecamatan Mempawah Hilir dan Mempawah Timur yang menjadi tempat tinggal kelompok tersebut. Mulai dari Desa Antibar, Jalan Cempaka, Jalan Bahagia, Kelurahan Terusan, Desa Pasir, BTN Sebukit Indah, Desa Kuala Secapah, Kelurahan Pasir Wan Salim dan beberapa lokasi lainnya.

Dalam aksi sweeping tersebut, warga terlebih dahulu mempertanyakan tentang status keanggotaannya dalam jaringan Gafatar. Setelah memastikan yang bersangkutan pernah mengikuti kelompok yang telah divonis sesat oleh MUI itu, maka ultimatum yang sama yakni angkat kaki dari Kabupaten Mempawah dalam waktu tiga hari pun disampaikan secara tegas dan lugas.

“Tolong, saudara dan rekan-rekan semua yang menghuni rumah ini segera meninggalkan Kabupaten Mempawah. Kami berikan waktu selama tiga hari bagi saudara untuk pergi dari sini (Mempawah),” tegas warga sembari berlalu dan melanjutkan aksinya.

Aksi sweeping di dua wilayah Kecamatan Mempawah Hilir dan Mempawah Timur itu pun berlangsung kurang lebih enam jam hingga pukul 02.00 dini hari. Setelah semua titik didatangi, warga dengan tertib membubarkan diri. Aksi sweeping berjalan lancar dengan pengawalan pihak kepolisian Polres Mempawah dan Polsek Mempawah Kota.

“Kami tidak ingin anak-anak generasi muda Kabupaten Mempawah nantinya terkontaminasi dan terhasut dengan ajaran-ajaran sesat. Selama ini masyarakat Mempawah sudah hidup dengan tenang dan damai. Kami bersikap tegas terhadap hal-hal yang dapat merusak dan mengganggu harmonisasi hidup masyarakat Mempawah,” sebut Aryadi.

Karenanya, Aryadi mewakili masyarakat lainnya mendesak agar MUI, Pemerintah Kabupaten Mempawah dan jajaran Muspida mengambil sikap tegas terhadap masuknya warga pendatang yang terbukti berkaitan dengan jaringan Gafatar.

“Kami menghormati kewenangan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya dalam menangani permasalahan ini. Namun, kami berharap penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat agar tidak menimbulkan gejolak dan keresahan dilingkungan masyarakat Mempawah. Untuk itu, sekali lagi ditegaskan warga Mempawah tidak bisa menerima Gafatar dengan dalih dan alasan apapaun ,” pungkasnya.

Warga Mempawah lainnya, Rudi mengaku sudah sangat resah dengan kedatangan ribuan warga pendatang tersebut. Apalagi belakangan diketahui jika mereka pernah terlibat dalam kelompok Gafatar yang kini sudah berganti nama menjadi Negara Karunia Semesta Alam (NKSA) itu.

“Alasan bercocok tanam dan mencari kehidupan yang baru hanya modus saja. Kami yakin ada motif lain dibalik kedatangan mereka dalam jumlah besar ke berbagai daerah di Kalbar termasuk Mempawah. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya mereka pulang ketempat asalnya,” saran Rudi sembari diamani warga lainnya. (wah)

Berita Terkait