Dari Temu Teater se-Kalimantan , Konsep Harus Matang Agar Lakon tak Hambar

Dari Temu Teater se-Kalimantan , Konsep Harus Matang Agar Lakon tak Hambar

  Kamis, 3 December 2015 10:02
ADEGAN: Satu adegan dalam drama berjudul Peace karya Putu Wijaya yang dibawakan Sanggar Seni Pituah Enggang dalam Temu Teater se-Kalimantan di Taman Budaya Kalbar. TEMU TEATER FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kalbar telah menjadi tuan rumah Temu Teater se-Kalimantan ke-8, pada 25-29 November 2015. Teater di Kalbar sedang tumbuh dan berkembang, disertai animo penonton yang luar biasa. Namun berbagai catatan perlu dibubuhkan demi perkembangannya ke arah yang lebih baik.IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

SEJAK hari pertama pelaksanaan, hujan terus mengguyur sedari sore. Namun tak menyurutkan para penonton dan para peserta dari tiga provinsi minus Kalsel dan Kaltara. Semua penonton berkerumun dan berteduh di sepanjang pinggiran gedung di sekitar halaman Taman Budaya Kalbar. Usai magrib hujan mulai reda, tinggal rintik-rintik gerimis happening art pun tetap disuguhkan.
“Cukup menarik, namun di bagian tertentu terasa kepanjangan dan agak menjenuhkan,” ungkap tokoh teater asal Kalbar Jeremias Nyangoen.

Setelah happening art semua penonton masuk ke dalam gedung pertunjukkan. Penonton disajikan dua pertunjukkan tari pembuka yang mengesankan. Berikutnya di malam itu dan di malam-malam berikutnya apresiator yang hadir disuguhkan serangkaian pertunjukan drama. Diantaranya, Liang Menjadi dari Teater Dapur, Awal dan Mira dari Terater Cadar dan Teater Abunawas, Luka Rimba dari Sanggar Pajawan Tinggang, Kalteng, Peace dari Tearter Pitung, Menimang dari UPTD Taman Budaya Kaltim. Kemudian Lena Tak Pulang dari Komunitas Teater Palangka Raya, Polisi dari Komsan, Yang Tertunda dari Teater Topeng, Topeng-topeng dari Komunitas Teater Palangka Raya, Bulan dan Kerupuk dari Rumah Teater dan Sumbi Maha Anu dari Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara. “Saya lihat semuanya penuh dengan semangat dan energi, sebagai tontonan sudah cukup menarik dan menghibur,” ujar Jeremias menilai.

Menurutnya, memang saat ini teater di Kalbar sedang tumbuh dan berkembang. Ditambah animo penonton yang juga sangat luar biasa. Hal tersebut dikatakan bahwa tidak terjadi mendadak turun dari langit. Namun ini adalah hasil dari kerja keras dan jerih payah teman-teman teater yang ada di Kalbar. “Saya berharap begitu pula di Kaltim, Kalteng, Kalsel dan Kaltara,” ucap lulusan IKJ Jurusan Teater tahun 1995 itu.

Melihat antusias para penonton dan para peserta yang menyajikan pertunjukkan, membuat Jerry sapaan akrabnya sangat respect. Akan tetapi itu tentunya di luar persoalan konten yang mungkin perlu dikaji lagi secara serius. Dia menilai hampir semua pertunjukkan memiliki persoalan, yakni konsep pertunjukkan yang kurang matang, pada bagian-bagian tertentu terasa menjenuhkan, bahkan beberapa lakon terasa hambar dan kering.

“Tidak kalah pentingnya lagi, permainan aktor dan aktris kurang maksimal bahkan banyak aktor dan aktris dengan kesadaran yang tinggi berusaha untuk melucu,” ucap pemeran Sumato dalam Film Kanibal-Sumanto tahun 2004 ini. Hal itu menurutnya sangat mengkhawatirkan. Sebab hanya beberapa kelompok teater saja yang terasa memiliki konsep yang mateng di dalam penyajiannya. Selebihnya terasa terburu-buru. Memang proses latihan dan persiapan yang singkat sering menjadi biang keladi dari keadaan dan kemudian akan dimaklumi. Padahal, tidak bisa tidak, teater adalah proses.

“Sebagaimana manusia hidup di dalam proses, demikian pula teater bahkan pertunjukan yang disajikan kemarin, hari ini dan besok pasti berbeda karena teater dan kehidupan berada di dalam bingkai proses.”Masuk dalam esensi salah satu pertunjukan yang dipentaskan dalam temu teater kemarin, dia merasa konsep teater komedi belum dipahami secara utuh. Baik oleh sutradara maupun para pemainnya yang relatif muda. “Setahu saya mereka memainkan drama dengan menggunakan naskah bukan mengandalkan plot dan improvisasi seperti lenong atau lawakan. Kalaulah lucu karena situasinya yang memang lucu bukan mencari efek,” imbuhnya.

Sekalipun pertunjukkan komedi itu berkonsep slepstic tetap pemaparan, konflik dan resolusinya harus  tertata dengan jelas, sehingga dramaturginya pun menjadi kuat. “Bahwa pertunjukkan itu cair dan dekat dengan penonton itu iya dan saya pun menyenanginya tetapi kalau berlebihan hal itu akan menjadi bumerang, pertunjukan akan encer secara konten bukan cair lantaran kedekatannya kepada penonton,” katanya lagi.

Di sisi lain dia melihat penonton yang mayoritas kaum remaja sangat menikmati pertunjukan seperti itu. Maka timbul pertanyaan, apakah remaja-remaja sekarang enggan diajak untuk berpikir. Mungkin juga pengaruh televisi yang sangat luar biasa, karena sering dicekoki acara-acara seperti itu. Atau juga kurangnya pertunjukkan komedi yang baik dan benar. Semua itu kembali kepada penonton remaja yang bisa menjawabnya.

Namun apapun hasil dari temu teater ke-8 ini dikatakan merupakan suatu hal yang sangat positif, mengharukan dan tidak ternilai harganya. “Salut untuk semua panitia tanpa terkecuali yang telah bersusah payah membuat semua ini terjadi,” katanya. Jika melihat animo peserta dan penonton teater sesungguhnya ada pemandangan yang mengharukan Jerry. Gedung pertunjukan di Taman Budaya yang berkapasitas hanya dua ratus lima puluh penonton dipadati oleh penonton yang tumpah. Hingga ke lantai-lantai yang biasanya digunalan untuk berlalu lintas, sehingga  memaksa panitia untuk menggelar terpal plastik agar tidak kotor untuk diduduki.

Tidak hanya itu, banyaknya penonton yang berdiri berdesak-desakan di sepanjang jalan masuk serta ratusan penonton yang masih menunggu di luar memperlihatkan bahwa sesungguhnya gedung pertunjukan sudah tidak layak dan perlu direnovasi total. Kemudian dari informasi yang dia dapat Taman Budaya memang akan direnovasi tetapi tertunda pengerjaannya dan akan dipindahkan ke suatu tempat di luar kota. Menurutnya jika berkaca dari  gedung-gedung pertunjukan atau gedung teater semacam itu baik di Jawa atau di luar negeri, terutama di Eropa, baik bangunan baru maupun gedung tua rata-rata berada di pusat kota. Dengan tujuan mudah diakses dan biasanya akan menjadi ikon kota tersebut.

Dia berharap para pengambil kebijakan bisa melihat hal ini. Agar bisa segera merenovasi gedung teater tersebut. Bukan saja untuk para pekerja seni namun lebih luas demi mengimbangi animo masyarakat terutama generasi muda. “Sebab ini bisa menjadi kegiatan yang positif, selera yang baik dan sehat,” ujar Jerry yang juga aktif sebagai penulis sekenario ini. Kesuksesan yang diraih saat ini adalah tugas berat agar di tahun-tahun mendatang teater Kalbar masih tetap eksis. Ukuran yang bisa digunakan saat ini adalah menjamurnya kelompok-kelompok teater, diikuti banyaknya jumlah produksi, bahkan Kalbar memiliki parade teater sebulan penuh yang belum dimiliki daerah-daerah lain.(*)

 

Berita Terkait