Dari Sekolah Dagang, Terus Mencetak Manusia Berkualitas

Dari Sekolah Dagang, Terus Mencetak Manusia Berkualitas

  Selasa, 14 Agustus 2018 10:00
SEKOLAH: Persekolahan Bruder yang awalnya merupakan sekolah dagang. ISTIMEWA

Berita Terkait

Karya dan Perjuangan Persekolahan Bruder Pontianak 

Sekolah Menegah Pertama Bruder sebagai karya pendidikan para Bruder Maria Tak Bernoda (MTB). Lembaga itu sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan akan ketertinggalan bidang pendidikan di Kalimantan Barat. Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder dikelola oleh para Bruder-bruder MTB yang berpusat di Pontianak.  

BUDI MIANK, Pontianak 

KETIKA Belanda menyerah, memberi dampak pada dunia pendidikan di Indonesia, termasuk sekolah yang dikelola para Bruder MTB di Pontianak, Kalbar. Kendati begitu, para pejabat kolonial, termasuk bruder yang bertugas sebagai guru diberi kesempatan untuk memilih kewarganegaraan. 

Mengutip ensiklik Maximum Illud, Mgr Van Valenberg menyatakan, “para misionaris dianjurkan tidak melibatkan diri dalam politik, menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat dengan mempelajari bahasanya dan tidak membawa adat kebiasaan tanah air sendiri serta tidak mengabdikan diri demi kepentingan tanah air sendiri.” 

Setelah mendengar kutipan dari Mgr Valenberg, para bruder yang waktu itu menjabat sebagai kepala sekolah atau pimpinan lokal dengan senang hati menjadi warga negara Indonesia dan terus menangani sekolah. 

Cikal bakal SMP Bruder, tidak terlepas dari sekolah dagang. Ini dimulai pada 1937 sampai 1946. Bruder Bruno MTB dipercaya sebagai kepala sekolah. Sekolah dagang ini didirikan atas keprihatinan para Bruder-bruder Maria Tak Bernoda terhadap situasi anak-anak Tionghoa. 

Sekolah ini menjadi favorit karena lulusannya bisa mendapatkan pekerjaan di kantor pemerintahan dan perusahaan. Bahkan pengusaha dari Jawa memakai jasa perantara untuk menarik lulusannya agar bekerja pada perusahaannya (huijbergen dan ujung-ujung dunia 179, 2004). 

Sekolah Dagang ini tidak bisa bertahan lama. Kemudian berganti menjadi sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP). Sekolah ini tidak lama karena setelah Indonesia merdeka sistem pendidikan Indonesia hanya mengenal tiga tingkatan sekolah yaitu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, baik SMA, SMEA, maupun STM. Maka pada 1956-1957 SMEP beralih nama menjadi sekolah menengah pertama.

Oleh pemerintah, SMEP diperuntukan untuk anak setingkat SMP. Pada 1956 hingga sekarang, sekolah itu beralih nama menjadi SMP. Banyak suka duka dalam pengelolaan SMP Bruder. Hal ini tak terlepas dari raihan prestasi para nahkoda yang menjalankannya.

Kini, sekolah itu semakin menunjukkan karyanya dalam bidang pendidikan. Pada 2003, bergulir rencana untuk membangun gedung baru persekolahan tersebut. Sebab, tuntutan dunia pendidikan mengharuskan sekolah memiliki gedung secara mandiri. 

Saat usia sekolah itu 60 tahun, ketika reuni akbar digelar, civitas persekolahan sepakat untuk memulai pembangunan gedung baru SMP Bruder Pontianak pada akhir 2016. Pada usianya yang ke-62 tahun, selesai direnovasi. Rencananya pada 16 Agustus 2018, gedung baru itu akan diresmikan sekaligus pemberkatan oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. (*)

Berita Terkait