Dari Ibu, Kita Semua Belajar Kasih Sayang

Dari Ibu, Kita Semua Belajar Kasih Sayang

Jumat, 22 December 2017 08:53   136

SETIAP bulan Desember ada dua peristiwa penting yang selalu muncul di hati, yaitu: Hari Ibu dan Hari Natal. Hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember dan Hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. 

Di Amerika dan negara lain, seperti  Australia,  Kanada,  Jerman,  Italia,  Jepang,  Belanda,  Malaysia,  Singapura,  Taiwan,  dan Hong Kong, Hari Ibu (Mother's Day)  dirayakan pada hari Minggu pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu disebut Hari Perempuan Internasional (International Women's Day)  diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Di negara-negara itu, Hari Ibu merupakan hari yang dikhususkan untuk menghargai peran seorang ibu dalam keluarganya. Pada umumnya, di hari itu para ibu dibebaskan dari pekerjaan rumah tangga. Di hari itu, suami dan anak-anaknya menggantikan pekerjaan para ibu. 

Di Indonesia hari ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional (Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959). Tanggal 22 Desember dipilih untuk tetap mengobarkan semangat juang kaum perempuan Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Hari Ibu, di Indonesia, juga merupakan hari ulang tahun Kongres Perempuan Indonesia I, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres dilaksanakan di Dalem Jayadipuran, di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Tempat itu,  dewasa ini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini, bagi sebagian orang Inonesia memaknai  Hari Ibu sebagai hari khusus untuk menyatakan rasa cinta terhadap para ibu. Ada kemungkinan, makna ini diadospsi oleh mereka untuk mengikuti gaya hidup ‘modern’ yang mengedepankan sifat kesetaraan jender.

Kalau makna ini sungguh diresapi, maka peran para ibu tidak hanya sebagai ‘penjaga’ rumah tangga. Tetapi, juga sebagai pembawa generasi baru. Ibu yang menjaga dan merawat kehidupan di alam semesta itu tetap berlangsung. Ibu yang merupakan bagian dari karya penciptaan. Ibu yang membawa misi Sang Pencipta. 

Dalam konteks sebagai bagian dari karya penciptaan, peran para ibu menjadi tidak ringan. Ia harus memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Karena, hanya dengan kasih sayang itulah kehidupan di alam semesta ini dapat berlangsung dengan kedamaian. 

Kasih sayang itu tidak hanya diberikan kepada anak-anaknya yang lahir normal tetapi juga kepada mereka yang menyandang ‘difabel’. Dalam kisah pewayangan, ada seorang peremupan yang kecantikannya tanpa tanding, Retna Anjani, ‘harus’ melahirkan seorang anak yang berwujud kera berbulu putih, Anoman, namanya. Tentu Anjani sangat sedih. Tetapi, ia tetap memberi kasih sayang kepada anaknya. 

“Oh, anakku, apakah dosamu? Biarkanlah aku menemanimu, meski aku harus hidup dalam rupa kera sepertimu. Andaikan kau mengerti, betapa kuingin secepatnya mati, karena sebenarnya tidak ada lagi kasih sayang ibumu ini” Retna Anjani menangis. Kesedihan ibunya membuat anak kera itu makin menangis keras, seperti tak mau diyinggal ibunya. 

“Anakku, kenapa kau menangis?” Retna Anjani mengibur anaknya. “Tidurlah dalam kehangatan bulan, aku akan terus memelukmu. Oh bulan, sinarkan kebahagiaan pada anakku, aku sangat mencintainya”

Anjani terharu memandang anaknya yang tidak sempurna. Dibiarkan Anoman menyusu sekeras-kerasnya. Sehari-hari dirawatnya Anoman dengan penuh kasih sayang. Di pagi hari dimandikan Anoman dengan kabut-kabut hutan. Hari menjelang senja, Anjani menantikan kedatangan anaknya. Dan, betapa terkejut Anjani, ketika melihat Anoman datang diiringi dengan segala macam binatang hutan. 

Bila malam tiba, dibelainya Anoman dalam pangkuannya. Mata anaknya dibiarkan kerpendaran bersama sinar bintang dan bulan. 

Sepenggal kisah ini hendak menyampaikan kehangatan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, walau anak itu tidak sesempurna manusia. 

Peristiwa kedua, Hari Natal, 25 Desember. Tanggal itu jua tepat hari penutupan Konggres Perempuan I. Hari Natal mengingatkan peristiwa yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu di sebuah desa  kecil, Nazaret, di  wilayah Timur Tengah sekarang ini.

Di desa itu, hidup seorang perempuan sederhana, Maria.   Sebagai perempuan miskin dan sederhana, Maria harus membantu meringankan Yusuf, suaminya, mencari nafkah. Seperti perempuan Nasaret yang lainnya, Maria harus menggiling  gandum, menimba air di sumur, mengandangkan domba dan kambing. Pendeknya, ia harus bekerja keras.  

Maria melahirkan seorang bayi yang diberi nama Yesus. Oleh sebagian orang dipercaya sebagai “Sang Putera, Sang Penyelamat Manusia, Sang Penebus Dunia”.

Karena kepercayaan itu, Maria   harus menanggung duka sepanjang hidup. Ia mengandung tanpa noda. Ia bersama Yusuf, suaminya, harus  meninggalkan tanah kelahirannya dan terlunta-lunta untuk menyelamatkan Sang Putera  dari kejaran orang-orang yang tidak sepaham. Ia pedih karena melihat Sang Putera tersia-sia dan tersiksa di jalan salib derita. Ia tabah di kaki salib Sang Putera yang menderita dan mati. Ia teguh memangku jenasah Sang Putera yang hancur ngeri. Ia juga rela melepas Sang Putera dalam pemakaman-Nya.

Bagi orang yang percaya, Maria dari Nasaret ini merupakan telaga yang berlimpah kasih. Ia adalah lautan teladan kerendahan hati serta semudra kekuatan menghadapi godaan sesat. Maria menjadi ibu yang selalu menemani mereka yang mengalami kesulitan hidup, menjadi sumur sukacita bagi yang mereka menyandang sedih serta menjadi cahaya pengiburan bagi yang menderita.

Dua hari raya di bulan Desember, membawa kita pada sumber-sumber kasih sayang. Para ibu semuanya memberikan seluruh kasih sayangnya kepada anak-anak mereka. Bagi orang yang percaya, Maria dari Nasaret menjadi ‘talang’ cinta yang mengalirkan kasih sayang kepada umat manusia.

Mengingat peran itu, wahai para ibu dan calon ibu, ajarlah kami, anak-anakmu, dengan kasih sayangmu agar dapat hidup berdampingan dengan sesama dalam kedamaian. Semoga!

Leo Sutrisno