Dari 500 Tenaga Bidan di Sintang, Baru 50 Persen yang Berstatus PNS

Dari 500 Tenaga Bidan di Sintang, Baru 50 Persen yang Berstatus PNS

  Minggu, 22 July 2018 10:06
FOTO BERSAMA: Sejumlah bidan di Kabupaten Sintang berfoto bersama dalam sebuah frame atau figura kreasi mereka di HUT IBI Sintang. PAGE FACEBOOK YULINA

Berita Terkait

Peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia di Sintang

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Sintang, Memi Sukaesih, menyebut saat ini masih ada lulusan bidan yang belum memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Sebagian di antaranya tidak bekerja sesuai dengan kompetensinya sebagai bidan, bahkan tak sedikit yang masih berstatus pengangguran.

SITI SULBIAH, Sintang

“TIDAK sedikit yang masih menganggur, bahkan ada yang akhirnya bekerja tidak sebagai bidan, misalnya jadi pegawai bank,” kata dia, Sabtu (21/7) pada peringatan HUT IBI di Kabupaten Sintang. Memi menyebut saat ini di Sintang ini ada 500 lebih bidan, yang mana 50 persen di antaranya sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selebihnya, kata dia, ada yang bekerja di rumah sakit dan klinik swasta. “Sisanya menganggur,” ucapnya.

Kondisi ini, menurutnya, dikarenakan tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi para alumni ilmu kebidanan di Sintang. Ketersediaan pelayanan kesehatan, kata dia, juga masih minim sehingga bidan yang tertampung hanya sebagian saja. 

“Di sini RS negeri hanya satu, RS swasta juga satu, dan hanya beberapa saja yang ada kliniknya. Sehingga untuk menampung bidan ini masih agak terhambat,” jelasnya.

Dari jenjang pendidikan, lanjut Memi, saat ini dari total bidan yang ada di Sintang, 90 persen di antaranya merupakan D3 Kebidanan, disusul setelahnya D4, S1, dan S2. Sehingga untuk kompetensi sendiri, menurutnya, sudah layak untuk menjadi seorang bidan.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Sintang Askiman menilai, saat ini Sintang justru mengalami kekurangan tenaga kesehatan, salah satunya bidan. Kekurangan ini, diakui dia, terjadi di daerah-daerah pelosok yang akses ke lokasi sulit. Untuk itulah, dia beranggapan bahwa lulusan kebidanan ini menumpuk di perkotaan, sehingga itulah yang mungkin membuat adanya pengangguran. “Sama seperti tenaga pendidik, kebanyakan menumpuk di perkotaan,” kata dia.

Untuk itulah hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sintang, menurut dia, terus memperbaiki tata kelola tenaga kesehatan, termasuk bidan, agar sebarannya merata. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Pusat maupun organisasi seperti IBI, dirasanya sangat diperlukan.

Dia juga berharap agar para bidan yang telah ditempatkan di daerah-daerah tidak minta untuk dimutasi ke perkotaan, atau daerah lainnya. Jika permintaan mutasi terus dilakukan, pihaknya akan terus mengalami kesulitan dalam mengatur keberadaan bidan yang ditempatkan di daerah-dearah terutama di  pelosok. 

“Kita ingin bidan yang mengabdi di Kabupaten Sintang mengerahkan kemampuan dan ketermapilan mereka dengan maksimal. Bagi yang sudah berkomitmen, maka jalankanlah komitmennya itu,” pungkas Wabup. (*)

Berita Terkait