Daftar 200 Penceramah Kemenag Menuai Polemik

Daftar 200 Penceramah Kemenag Menuai Polemik

  Minggu, 20 May 2018 15:04
Dahnil mengaku dirinya belum pantas, karena banyak utsad dan ulama lain yang lebih layak dan bekomitmen terhadapa nilai-nilai kebangsaan. (JawaPos.com)

Berita Terkait

Daftar 200 penceramah yang direkomendasikan Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya menimbulkan polemik. Selain banyak nama ustad kondang yang tak masuk, ada juga sejumlah nama yang ingin namanya dicoret.

Salah satunya Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah masuk dalam daftar 200 mubalig yang direkomendasikan Kemenag. Namun, dia meminta dirinya dicoret dari daftar itu. 

Dahnil mengaku dirinya belum pantas. Menurut dia, masih banyak ulama lain yang lebih cocok direkomendasikan Kemenag. Di antaranya Ustad Abdul Somad (UAS).

Ustad Abdul Somad saat berbincang dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan. (JawaPos.com)

"Ustad berilmu tinggi dan berakhlak baik seperti Abdul Somad, Adi Hidayat dan banyak ustad-ustad lain yang tinggi komitmen kebangsaannya pantas didengar oleh umat," kata dia dalam akun Twitternya @Dahnilanzar, Sabtu (19/5).

"Terus terang saya merasa tidak pantas ada di list tersebut, karena banyak sekali yang harus saya pelajari, dan saya bukan ahli agama seperti UAS dan Adi Hidayat serta Ustad baik lain," tambah dia.

Semestinya, kata Dahnil, Kemenag mendengar semua pihak terkait daftar nama penceramah yang direkomendasikan tersebut. "Jadi, tidak perlu menghidangkan selera satu kelompok kepada kelompok lain. Kemenag penting mendengar semua pihak," sambung dia.

Diketahui, Ustaz Abdul Somad yang sedang beken di masyarakat memang tak masuk dalam daftar 200 nama penceramah yang direkomendasikan Kemenag. Sementara itu, Dahnil Anzar Simanjuntak ada di urutan ke-59. 

BENTUK SENSOR ULAMA

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon  angkat bicara soal rekomendasi 200 penceramah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Jumat (18/5). Melalui akun Twitternya, politikus Partai Gerindra ini mengkritik bahwa rekomendasi Kemenag tersebut merupkan kebijakan yang cacat.

Anak buah Prabowo Subianto ini menilai, langkah tersebut akan menguatkan segregasi yang ada di tengah masyarakat. Ia menganggap seharusnya Kemenag bisa menjadi moderator yang bijak di tengah pluralitas pemahaman masyarakat muslim Indonesia.

"Mengeluarkan daftar 200 nama penceramah yang direkomendasikan dari 200 juta populasi penduduk muslim bukan sebuah kebijakan yang mudah diterima. Kebijakan semacam itu cacat secara metodik," kata Fadli melalui akun Twitternya @fadlizon, Minggu (20/5).

Fadli menilai, rekomendasi 200 penceramah tidak akan memenuhi kebutuhan tempat-tempat ibadah seperti mushola dan masjid yang ada di Indonesia. Namun, Kemenag hanya merekomendasikan 200 nama tersebut.

"Jangankan untuk level Indonesia, di Jakarta saja, yang memiliki ribuan masnid, mushola dan majlis taklim, ada ribuan ustad dan mubalig di sana," papar Fadli.

Atas dasar itu, Fadli pun mempertanyakan dasar Kemenag untuk menyaring para penceramah tersebut.

"Katakanlah jumlah mubalig atau ulama sekitar 5 persen dari populasi muslim yang 200 juta, maka jumlahnya ada sekitar 10 juta orang. Bagaimana bisa @Kemenag_RI mengeluarkan rilis 200 nama dari 10 juta orang tadi? Bagaimana menyaringnya," ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Oleh karena itu, Fadli meminta Kemenag untuk memaklumi jika rekomendasi yang dirilisnya itu menuai kontroversi di tengah masyarakat. "Makanya jangan salahkan jika kemudian publik mencurigai rilis daftar penceramah itu sebagai bagian dari sensor terhadap para penceramah atau ulama yang tak sehaluan dengan pemerintah," tutur Fadli.

Ia memandang, penceramah yang tidak sejalan dengan pemerintah tidak masuk dalam rekomendasi 200 pencermah. Lebih lanjut, Fadli menyatakan seharusnya pemerintah tidak memeruncing konflik.

Menurutnya, pemerintah seharusnya dapat membangun dialog terhadap kelompok-kelompok yang dianggap bersebrangan. "Kita sekarang ini sedang berdiri di ambang krisis ekonomi. Semua celah yang bisa memicu terjadinya konflik sebaiknya segera kita tutup dan bukannya malah kita eksploitasi," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai, rekomendasi yang dikeluarkannya merupakan sebuah upaya untuk memudahkan masyarakat mencari penceramah yang dibutuhkan.

"Selama ini, Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi mubalig oleh masyarakat. Belakangan, permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama mubalig,” tegas Lukman Jumat (18/5).(aim/JPC)

Berita Terkait