Cultural Visit Media Gathering Lima Kota Pulau Jawa

Cultural Visit Media Gathering Lima Kota Pulau Jawa

  Senin, 16 July 2018 10:00

Berita Terkait

Bahan Baku SKT Dipasok Kabupaten Tetangga

Tak harus punya bahan baku dari kawasannya sendiri untuk memasok kebutuhan pabrik. Hal ini juga terjadi di Kudus, Jawa Tengah. Di Kudus boleh dibilang tak sebatang pun pohon tembakau ditanam. Tetapi, pabrik rokoknya bisa mencapai puluhan unit yang mencakup ratusan hektar. Pabrik mengandalkan tembakau impor dari kabupaten tetangga.

Moeslim Minhard, Kudus

SEJAK panitia Cultural Visit Media Gathering mewanti-wanti, saat memasuki kota Kudus sebaiknya tidak pagi sekali. Kenapa? Supaya tidak macet. Sebab, bila pagi ribuan tenaga kerja pabrik rokok SKT (Sigaret Kretek Tangan) pasti akan memenuhi jalanan.

Masuk akal, sebab, ada puluhan ribu kaum ibu yang menjadi pelinting tembakau tersebut yang bergegas menuju pabrik.

Karenanya, panitia memilih masuk ke Kudus sekitar jam sepuluh. Lengang. Tak ada kemacetan. Perjalanan pun mulus. Hingga memasuki sebuah kawasan pabrik. Menjejak ke dalam ruangan wangi cengkih dan tembakau menyeruak. Di dalamnya, 4.500 pekerja asyik dengan ketelitiannya. Masing-masing dengan alat pelinting, papir dan tembakau yang sudah diracik.

Di Kudus, kata Purwono Nugroho, Senior Manager PT Djarum Kudus, ada 25 pabrik. Yang terbesar, adalah yang kami kunjungi, yang terletak di SKT Karang Bener, Kudus.

Pabrik-pabrik ini menyebar di Kudus, Jepara, Pati dan Rembang.

‘’Sebagian besar ada di Kudus,’’ imbuhnya.

Uniknya, masih kata Purwono, Kudus sendiri tidak memiliki lahan bertanam tembakau. Karena tanahnya tidak cocok. Jadi, untuk kebutuhan pabrik, bahan baku pun dipasok dari kabupaten tetangga Pati, Rembang maupun Jepara.

Keunikan lain, pekerja pabrik semua adalah wanita. Berusia emak-emak.  Sejak tahun 2014 lalu, tidak ada pendaftaran baru buat pekerja. Jumlah yang ada sekarang sudah terbilang mencukupi.

‘’Kalau dijumlah semuanya mendekati seratusan ribu,’’ katanya. 

Salah seorang ‘’mandor’’ di sana pun mengatakan, bahwa untuk sekarang produksi Sigaret Keretek Tangan (SKT) lebih mengutamakan pesanan. Di pabrik –pabrik di bawah naungan PT Djarum tersebut, memproduksi SKT Djarum 76, Istimewa dan Cokelat. Masing-masing, punya kekuatan pemasaran sendiri-sendiri. Misalnya untuk jarum cokelat, kuat di daerah Sumatera.  Demikian juga daerah-daerah tertentu yang senang dengan SKT Istimewa dan Cokelat.

‘’Dari daerah-daerah tersebut, pesanan pun datang. Baru kemudian diorder. Berapa bal rokok yang harus dibuat. Yang pasti, setiap harinya pasti ada. Karyawan tidak sempat nganggur, meski sehari,’’ imbuhnya. 

Karena terbiasa, dalam membuat satu SKT, terbilang sangat cepat. Usai dilinting sisa tembakau di kedua sisinya, dirapikan dengan gunting. Per limapuluh batang, kemudian disatukan. Selanjutnya, batang-batang rokok tersebut bergulir ke bagian kemasan plus perekatan pita cukai.

‘’90 persen bahan baku dalam negeri. Selebihnya, dari luar. Khususnya untuk papir (kertas rokok) dan kemasan. Sedangkan di SKM (sigaret keretek mesin) untuk filter, juga dari luar negeri,’’ kata Pur.

Pur mengatakan bahwa, keberadaan SKT tetap harus dipertahankan. Disamping, masih banyak penggemarnya, SKT ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Cukup banyak yang kebagian kerja. Mulai pelinting, hingga warga yang menjadikan lahan rumahnya untuk dijadikan lahan parkir motor dan sepeda para pekerja.

Jadi, meski pun divisi SKM (Sigaret Keretek Mesin), bisa memproduksi lebih banyak, malah dilengkapi dengan robot, pasarnya mencakup mancanegara, SKT tetap menjadi bagian paling dasar dan harus jalan beriringan. Disamping historisnya, hingga Kudus dikenali sebagai Kota Kretek di Indonesia.

Pelopor Keretek

Penemuan rokok kretek sendiri bisa dibilang secara tak sengaja. Adalah H Djamari yang mengawalinya. Sebagai perokok, H Djamari selalu ingin mencari kenikmatan lebih. Saat itu, jamannya masih rokok tingwe (melinting dewe(bahasa jawa)-melinting rokok sendiri). Djamari mencampur tembakau dengan rajangan cengkih. Suara letupan kecil, terbakarnya cengkih yang berbunyi tek..tek..tek..menjadi muasal disebutnya rokok kretek hingga sekarang. Menjamurnya pabrik rokok di Kudus ini pula yang kemudian kata Kretek disematkan pada kota Kudus.

Tak perlu keterampilan tinggi dalam melinting rokok. Apalagi, dengan bantuan alat pelinting. Yang jadi masalah, adalah kebisaan pelinting memasukkan tembakau pada alat pelinting tadi. Terlalu padat akan membuat rokok keras, kebalikannya terlalu sedikit membuat rokok cepat terbakar.

‘’Tentu kita juga memiliki quality control untuk menyamakan produk. Soal rasa, tidak ada masalah. Karena yang mereka linting, semua satu racikan. Pun untuk diameter rokok. Sudah ada lubang pengukurnya.

Terpenting, sebelum diserap pasar, adalah penentuan masa berlaku dari rokok yang diedarkan. Orang awam, sulit mengerti, karena kode-kode yang tercantum hanyalah bilangan-bilangan. Tetapi, bagi produsen, tentu mudah mengenalinya. Karenanya, rokok yang tersimpan di etalase rokok, secara berkala diperiksa untuk kemudian digantikan yang baru.

Yang lama? Yang lama tetap digunakan untuk dicampur lagi dengan racikan tembakau dan cengkih baru. Yang pasti sejak puluhan tahun lalu, PT Djarum keberadaannya sangat membantu masyarakat sekitar. Bukan hanya buruh pabrik. Tetapi juga pemda setempat. Disamping pajak, lewat CSR-nya PT Djarum membangun banyak sarana dan prasarana di kota Kudus yang sudah ada sejak jaman sembilan wali itu.

Gerbang kota saja misalnya. Dengan bahan baja, dibuat menyerupai bentuk daun tembakau dengan tulang-tulang yang memiliki arti bagi masyarakat setempat. Sebelum SKT PT Djarum, sebelumnya ada beberapa perusahaan rokok di sini. Namun, seiring dengan kemajuan jaman, ada yang jalan di tempat, selebihnya gulung tikar. (*)

 

Berita Terkait