Cerita Puasa Pertama Mualaf di Bulan Ramadan

Cerita Puasa Pertama Mualaf di Bulan Ramadan

  Minggu, 19 May 2019 09:13
MUALAF : Sintia Laratih, mualaf yang baru menyatakan keislamannya sekitar sebulan yang lalu. Ramadan tahun ini adalah Ramadan pertamanya. SITI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tak Terbiasa Berpuasa, Sebotol Air Nyaris Membuat Batal

Puasa di bulan Ramadan untuk pertama kali begitu spesial bagi mereka. Meski berstatus mualaf, mereka tidak merasa canggung. Semua itu karena pengaruh lingkungan dan dukungan orang di sekitar mereka.

SITI SULBIYAH, Pontianak

HAMPIR saja Sintia Laratih menenggak segelas minuman di hadapannya. Ia lupa bahwa dirinya sedang berpuasa. Jika tidak dicegah oleh rekannya, barangkali puasanya di hari itu akan batal. Maklum, waktu itu adalah pertama kalinya ia berpuasa di bulan Ramadan setelah memeluk Islam. Sintia belum terbiasa.

Wanita kelahiran 1994 ini baru resmi menjadi seorang muslim sekitar sebulan yang lalu. Pada hari pertama menjalankan ibadah wajib ini, ia begitu terkesan. Dukungan dari orang terdekatnya sangat besar.

“Alhamdulillah, pada puasa Ramadan yang pertama, saya mendapatkan dukungan dari keluarga calon suami saya. Tarawih, sahur, sampai berbuka, bersama-sama kami lakukan,” ungkap Sintia, saat ditemui di Masjid Raya Mujahidin, kemarin.

Di hari-hari berikutnya, boleh dibilang Sintia harus belajar untuk menjalankan puasa secara mandiri. Wanita yang tinggal di Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya ini menetap sendiri di salah satu kompleks perumahan yang ada di sana. Lantaran hal itu, tidak ada orang yang membantu membangunkannya sahur.

“Sahurnya ya sendiri. Kadang kalau capek karena pulang kerja agak malam, buat sahur jadi sulit bangun. Bahkan pernah sahur hanya dengan segelas air putih karena waktunya sudah mepet dengan azan subuh,” tuturnya.

Kendati demikian, dari awal Ramadan hingga saat ini, puasanya belum ada yang bolong. Rutinitasnya dalam bekerja diakuinya tidak terlalu mengganggu. Sebaliknya, di tempat kerja ia justru merasa lebih senang, karena bisa bertemu dengan teman-temannya yang juga menjalankan ibadah yang sama.

“Syukurnya dukungan dari teman-teman sangat besar. Di awal saya menjadi mualaf, ada yang memberikan saya buku-buku Islam, mukenah, jilbab, dan barang-barang lainnya. Di Ramadan ini pun saya bersyukur karena teman-teman saya memberikan dukungan,” ucapnya.

Momen berbuka menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu Sintia. Ia pun kadang membeli hidangan favorit untuk berbuka. “Rasanya lega kalau sudah menyelesaikan puasa,” katanya.

Ia bertekad untuk berpuasa sebulan penuh. Ibadah-ibadah lainnya saat ini masih ia dalami, salah satunya adalah salat. Mengaji pun secara rutin ia pelajari. “Saat ini masih belajar iqra,” pungkasnya.

Berbeda lagi dengan Devia. Mualaf berusia 26 tahun ini justru baru menyatakan keislamannya pada hari kedelapan Ramadan di tahun ini. Meski begitu, berpuasa baginya bukanlah sesuatu yang baru lantaran sebelumnya ia juga pernah ikut berpuasa. “Dulu waktu teman-teman saya puasa, saya juga ikut puasa,” tutur Devia.

Ramadan kali ini pun demikian. Sejak hari pertama, ia telah berpuasa. Meski saat itu ia belum mengucap dua kalimat syahadat. Hal itu juga dilakukan sebagai bentuk latihan agar dirinya terbiasa. “Dari awal niatnya memang mau berpuasa di Ramadan tahun ini sejak hari pertama,” katanya.*

Berita Terkait