Cegah Karies Gigi Balita

Cegah Karies Gigi Balita

  Jumat, 22 July 2016 10:01

Berita Terkait

Gigi balita rentan mengalami karies. Ini terjadi karena gigi susu pada anak sering terkena zat asam yang diproduksi oleh bakteri dalam waktu yang lama. Pencegahan sejak dini harus dilakukan agar anak tidak sakit gigi hingga proses pergantian gigi baru. 

Oleh : Marsita Riandini

Penyebab karies gigi pada balita sama dengan yang terjadi pada orang dewasa, yaitu terpaparnya gigi dalam waktu yang lama oleh asam sehingga mineral-mineral email gigi larut. Bakteri dalam mulut mengubah gula yang berasal dari makanan atau minuman menjadi asam.  Sama dengan orang dewasa, anak juga bisa mengalami rasa sakit, ngilu yang mempengaruhi kemampuan anak memproses makanan. 

Kepada For Her, drg. RR Ratri Dini Prasiwi menjelaskan masalah karies gigi pada balita cukup kompleks. Kondisi ino juga tergantung dari orangtua dalam merawat gigi anaknya. 

“Pada usia balita kemampuan anak untuk menyikat gigi tentu belum baik. Orang tualah yang harus mendampingi anak sikat gigi sampai anak bisa dengan sendirinya menyikat gigi dengan baik,” ujar Ratri, sembari mengatakan orang tua harus lebih paham menyikat gigi anak. 

Kepala Puskesmas PAL III Pontianak ini menuturkan anak yang mengonsumsi susu formula lebih rentan mengalami kerusakan gigi dibanding anak yang mengonsumsi air susu ibu (ASI). Kenapa? Sebab, selain jumlah glukosa dalam ASI itu sedikit, saat menyusui, ASI tidak meleleh-leleh ke banyak tempat. 

“Berbeda halnya saat anak minum susu formula, apalagi minumnya sambil baring. Air susunya meleleh kemana-mana. Akhirnya merusak gigi. Di susu formula juga ada kandungan gula tambahan yang memicu semakin mudahnya gigi mengalami kerusakkan,” jelasnya. 

Ratri menuturkan gigi tidak bisa sembarang dicabut. Sementara proses pergantian dari gigi susu menjadi gigi tetap itu cukup lama. 

“Biasanya usia satu tahun saja, gigi anak sudah rusak parah. Sementara gigi atas anak itu baru berganti usia tujuh tahun, dan gigi bawah itu usia enam tahun,” katanya. Kalau dari usia satu tahun gigi sudah rusak, lanjut Ratri, anak akan merasakan sakit dan  gigi terus bengkak. Akhirnya mereka terpaksa rutin minum obat selama empat sampai lima tahun.

Jika gigi rusak, anak sulit makan. Hal tersebut juga akan mempengaruhi asupan gizi yang dibutuhkan. “Inilah yang kemudian ada anak yang stunting, gizi tidak terpenuhi sehingga mempengaruhi tumbuh kembangnya. Maka ketika anak tidak mau makan, mungkin saja ada giginya yang rusak, atau nyangkut di gigi yang berlubang,” papar dia. 

Menjaga gigi sejak kecil sangat penting karena gigi setiap orang berbeda. Ada yang email giginya tebal, ada pula yang tipis. Ada gigi orang yang kokoh, ada pula yang mudah rapuh. “Gigi ini juga dipengaruhi oleh gen. Nah, saat hamil, ibu bisa mengonsumsi banyak ikan, terutama yang memiliki tulang banyak seperti ikan teri dan ikan sarden,” ungkapnya. 

Saat gigi balita sakit, dokter tidak bisa sembarangan mencabutnya. Sebab ada masanya gigi anak baru bisa dicabut. Tetapi, akibat dari gigi anak yang mengalami kerusakan sering kali menyebabkan gigi lepas sebelum waktunya. 

“Kalau dari usia setahun gigi mulai rusak, maka kekuatan gigi di gusi semakin lemah. Akhirnya gigi goyang, sering bengkak, dan lepas,” tuturnya. 

Jika lepas sebelum waktunya, gigi anak bisa tumbuh tidak beraturan. Ada yang agak miring sedikit, ada pula yang menyempil akibat rahangnya tidak berkembang secara maksimal. Selain mempengaruhi tampilan estetika, akan kesulitan menyikat giginya. “Tidak perlu takut bila gigi anak tumbuh tidak beraturan. Terpenting orang tua harus menjaga gigi anak sejak awal, terutama memastikan anak teratur dalam menyikat gigi. Jika memang memungkinkan, teknologi sekarang sudah canggih. Ada teknik merapikan gigi,” pungkasnya. **

-----------------------------

*Tips 

Mengajak Anak Gosok Gigi

Tak sedikit anak enggan menyikat gigi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua agar sang buah hati mau menyikat gigi, seperti yang dikemukakan dokter gigi RR Ratri Dini Prasiwi berikut ini:

*Tidak memaksa anak buka mulut

Karakter anak beragam. Ini tentu membuat orang tua harus bisa menyesuaikan dengan karakter itu dalam mengajarkan anak untuk terbiasa menyikat gigi. Prinsipnya, tidak memaksakan anak buka mulut. Jika memaksakan anak buka mulut, nantinya sampai usia lima atau enam tahun pun akan sulit membiasakan anak sikat gigi. 

*Sambil bermain

Orangtua bisa mengajak anak sambil bermain. Tahap awalnya, tidak langsung menggunakan sikat gigi untuk membersihkan gigi anak. Tetapi bisa menggunakan kain kasa ataupun handuk bersih. Kemudian masukkan ke air hangat, lalu peras. Lap gigi anak sampai bersih. Jika anak tidak mau membuka mulutnya, ajak anak bermain misalnya melihat cecak ke atas, dan meminta anak buka mulut. Orangtua bisa memasukkan jarinya ke dalam mulut anak. Tentu saja harus menjaga kebersihan jarinya. 

*Gunakan sikat gigi sesuai mulut anak

Gunakan kepala sikat sesuai usia anak. Jika terlalu besar, nanti tidak sampai ke gigi bagian belakang. Sebab ada empat gigi graham yang kiri, kanan, atas bawah yang bukan lagi berupa gigi susu. 

*Jangan gunakan odol

Pada usia balita, kemampuan anak untuk kumur-kumur dan ludah belum baik. Itu sebabnya, jika menggunakan odol kemungkinan anak akan menelannya. Meskipun ada odol yang aman jika tertelan oleh anak, tetap saja itu bukan hal yang baik. Ketika anak sudah bisa memahami kumur-kumur, boleh gunakan odol tetapi tidak terlalu banyak. Cukup sebesar biji kacang hijau saja. 

*Periksakan diri ke dokter

Biasakan mengajak anak untuk memeriksakan anak diri ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Jika ada yang berlubang bisa ditambal. (mrd)

Berita Terkait