Calon Jemaah Mulai Manasik Haji, Memahami Kondisi Makkah Terkini

Calon Jemaah Mulai Manasik Haji, Memahami Kondisi Makkah Terkini

  Minggu, 3 March 2019 21:28

Berita Terkait

PONTIANAK--Sudah 50 persen paspor jemaah calon haji Kalbar dari total 2527 jemaah rampung.Mi’rad Kepala Bidang penyelanggara haji dan umrah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalbar menjelaskan paspor harus sudah selesai sebelum perekaman biometrik berlangsung. Adanya aturan baru tentang biometrik ini mengharuskan pihaknya lembur menyelesaikan paspor.

“Harus selesai sebelum rekam biometrik. Rabu depan kami rapat di Jakarta untuk bahas persiapan biometrik dengan VFS Tasheel,” katanya. 

Sementara itu, jemaah calon haji Kalbar yang diperkirakan berangkat tahun ini sudah mulai melakukan manasik.  Salah satunya jemaah calon haji yang menggunakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Arafah. Ahmad Kholil mengatakan ada 135 jemaah calon haji yang mendaftar di KBIH pimpinannya. Manasik mulai dilakukan pada 10 Februari lalu dan sudah empat kali pertemuan.

Menurut Direktur PT Muzdalifah Travel & Tour ini,  manasik akan berlangsung hingga seminggu sebelum keberangkatan. Banyak informasi terkini yang harus diinformasikan jemaah. “Kami tidak mengukur manasik itu setelah 10 kali atau 12 kali selesai. Bukan itu. Karena apa, banyak informasi terkini yang harus disampaikan. Makanya berakhir seminggu menjelang keberangkatan,” katanya. 
 
Hingga saat ini, lanjut dia masih banyak informasi terkini yang belum didapatkan. Seperti penginapan dan lokasi yang bisa saja berubah dari perkiraan.  “Seperti penginapan, hotelnya apa, lokasinya di mana. Itu belum. Jalan menuju ke Masjidil Haram itu ada berapa lokasi, berapa tempat. Nah, kalau kita selesai sekarang ya lupa semuanya.  Sedangkan maktab, lokasi, itu bisa berubah.  Menurut perkiraan kita sebelah kanan, ternyata setelah di undi ada di sebelah kiri. Itu bagaimana, nantinya jemaah tidak memahami itu,”jelasnya. 

Menurut dia, tidak semua jemaah bisa membaca peta lokasi. Makanya pentingnya manasik agar jemaah memiliki pengetahuan dan kemandirian. Tidak hanya soal ibadah saja tapi secara keseluruhan. 

 Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata dia masih ada jemaah yang tidak memahami mana ibadah yang wajib, sunnah, dan mana yang rukun. Akibatnya, kata dia keliru dalam pelaksanaaanya. Jika rukun haji dilanggar, lanjut Kholil maka jemaah harus mengulang, sedangkan haji hanya terjadi setahun sekali. 

“Contohnya  pada tawaf. Yang seharusnya rukun justru jemaah mementingkan bacaan. Padahal bacaan itu sunnah. Ketika bacaan sudah selesai, jemaah menganggap tidak perlu lagi menyelesaikan tawafnya,” ungkapnya. 

Capek dalam bertawaf, tidak menyelesaikan putaran, bahkan ada yang lanjut sa’i juga sering ia temukan. “Sa’i pun hanya berapa putaran. Itu dianggapnya bukan rukun. Dianggapnya hanya sunnah atau wajib,” kata dia. 

Peran KBIH, kata Kholil menjaga jemaah bimbingannya, terutama pada  kualitas ibadah agar tidak salah atau keliru ketika praktik. “Kita letakkan pondasi yang sebenarnya. Ini sunnahnya, ini wajibnya begini.  Ini rukun yang tidak boleh dilanggar seperti ini. Sehingga kita disana ini akan membantu jemaah memilah itu. Mereka paham, sebelum mereka praktik.  Disana tinggal kita meluruskan dan mengarahkan saja,” pungkasnya. (mrd)

Berita Terkait