Bunuh Diri Bukan Solusi

Bunuh Diri Bukan Solusi

  Senin, 7 May 2018 11:00

Berita Terkait

KASUS bunuh diri remaja kian menjamur. Akhir bulan lalu kita sempat dikejutkan dengan berita tewasnya mahasiswa Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak akibat bunuh diri dengan motif asmara. Fenomena ini banyak disayangkan oleh masyarakat. Terlebih pelaku bunuh diri tergolong masih muda. Seharusnya memiliki masa depan yang masih panjang justru mempersempit pikiran dengan bunuh diri. Mengapa demikian?

 “Masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa.  Masa ini membuat sebagian besar orang mengalami krisis mental yang sangat labil. Bisa tampak pada keadaan emosi dan perilakunya. Mungkin saat itu dia merasa sudah dibuang oleh pasangannya, sakit hati, depresi dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri,” jelas psikolog Umi Kalsum, S. Psi., M. Psi.

Memang sih kalau sudah jatuh cinta bisa lupa segalanya. Ets, tapi jangan terlalu cinta. Terlalu cinta terhadap seseorang bikin kamu terlalu dalam terluka saat ditinggalkan. Alhasil, kamu merasa nggak berguna lagi setelah kepergiannya bah lagu butiran debu milik Rumor. 

Menurut psikolog yang juga sekretaris di Ikatan Psikolog Klinis Indonesia wilayah Kalbar ini, penyebab utama depresi pasca putus cinta adalah kesepian. Rasa sepi akan membuat orang jadi tak bergairah dalam menjalani aktivitas hariannya. Ini juga akan membuat mereka enggan bergerak dan berujung pada rasa malas.

Malas ini tak cuma berarti enggan, malas ini lebih kepada ketakutan yang membuat seseorang memilih tetap di zona yang dianggapnya nyaman, mengakhiri hidup misalnya. Apakah kamu merasakannya wahai engkau yang baru putus cinta? Stop it! Dunia belum berakhir. Jika kamu merasakan kesepian teramat sangat, cobalah melakukan hobimu. Hubungi teman, ajak hangout dan ceritakan semua masalahmu.

Tak melulu soal cinta, ada banyak faktor pemicu remaja bunuh diri. Seolah nyawa tidak lagi berarti, bunuh diri menjadi solusi untuk megakhiri perkara hidup. Padahal bunuh diri bukan solusi, loh! Terlebih kehidupan modern era digital saat ini menjadikan orang semakin nggak peduli dengan sekitarnya.  Komunikasi secara langsung sudah jarang terjadi.

Nah, menyikapi hal ini sebaiknya kita harus lebih peka dan aware dengan perubahan teman sekitar kita yang memiliki kecendrungan bunuh diri. “Beberapa gejala yang bisa diamati dari seorang yang beresiko melakukan bunuh diri adalah stres, takut, cemas, kecewa, tertekan, perasaan benci, pikiran pesimistik terhadap masa depan, dan perilaku menarik diri,” ujar psikolog yang bekerja di RSJD Sui. Bangkong ini.

Jika menemukan teman dengan ciri demikian, langsung deketin dan beri dukungan. Bantu dia melihat sisi positif dalam dirinya. “Misalnya perihal putus cinta, kamu bisa ajak dia untuk memperbaiki diri supaya mantannya menyesal telah meninggalkannya. Meskipun terlihat bercanda, kita tidak boleh mengabaikan kalimat seperti ‘ah, aku ingin bunuh diri saja!’, ‘sepertinya cintaku ditolak, lebih baik aku mati’,” tambah Umi.

Siapa yang pernah nyilet-nyilet nama doi di lengan waktu putus? Atau mungkin sempat kepikiran mengakhiri hidup lantaran asmara yang berakhir? Beruntunglah kamu kalau nggak pernah, tapi buat kamu yang pernah melakukan hal itu segeralah bertobat. Percayalah, akan ada orang lebih baik yang akan diberikan Tuhan jika kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan lupa bahagia hari ini! (dee)

 

Berita Terkait