Bukti Hargai Ulama, Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi

Bukti Hargai Ulama, Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi

  Jumat, 10 Agustus 2018 10:17

Berita Terkait

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengumumkan keputusan maju kembali sebagai calon presiden (capres) 2019-2024, Kamis (9/8). Pengumuman itu disampaikan setelah Jokowi bertemu dengan sejumlah ketua umum partai politik pendukungnya. “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya memutuskan untuk kembali sebagai Calon Presiden RI 2019-2024,” kata Jokowi dalam jumpa pers di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8).

Para ketua umum partai politik pengusung Jokowi juga ikut hadir dalam jumpa pers itu. Ada Megawati Soekarnoputri (PDIP), Surya Paloh (Nasdem), Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), M Romahurmuziy (PPP), Oesman Sapta Odang (Hanura), Hary Tanoesoedibjo (Perindo), Grace Natalie (PSI) dan Diaz Hendropriyono (PKPI).

Jokowi menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai capres sudah melalui masukan para ulama, ketua umum partai politik, relawan pendukungnya, dan aspirasi masyarakat. Menurut Jokowi, keputusannya maju lagi sebagai capres berkaitan dengan ikhtiarnya meneruskan pembangunan yang merata dan berkeadilan di seluruh pelosok Nusantara. “Insyaallah pada periode kedua kepemimpinan saya,” ujar mantan gubernur DKI Jakarta, itu.

Teka-teki siapa yang menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) juga terjawab. Mantan wali kota Solo, itu akhirnya resmi mengumumkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres 2019-2024 mendampinginya. Jokowi menjelaskan, penunjukan nama Ma’ruf sudah sepersetujuan para ketua umum partai politik pengusungnya. 

“Saya memutuskan dan telah mendapatkan persetujuan dari Koalisi Indonesia Kerja bahwa yang akan mendampingi saya sebagai calon wakil presiden 2019-2014 adalah Prof Dr KH Ma’ruf Amin,” ucap Jokowi yang mengenakan kemeja putih itu.

Jokowi menguraikan bahwa  Kiai Ma’ruf adalah ulama kelahiran 11 Maret 1943 yang pernah duduk di DPRD, DPR, MPR, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rais Aam PBNU dan kini ketua umum MUI.  Ma’ruf saat ini duduk sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). 

Jokowi menambahkan, Kiai Ma’ruf merupakan ulama yang bijaksana. Selain itu, keputusannya menggandeng Kiai Ma’ruf juga untuk saling melengkapi. “Kami saling melengkapi, nasionalis relijius,” tuntasnya.

Politikus Partai Nasdem Syarif Abdullah Alkadrie mengatakan bahwa Jokowi-KH Ma’ruf merupakan keterpaduan yang ideal antara sosok nasionalis-relijius. “Pas lah ini, Pak KH Ma’ruf Amin sosok yang the best sebagai pendamping Pak Jokowi,” kata Syarif, Kamis (9/8) menjawab Pontianak Post.

Menurut dia, sosok Jokowi yang sangat nasionalis, dipadukan dengan KH Ma’ruf yang relijius dan tidak diragukan lagi keulamaan dan keilmuannya, sudah sangat pas menjadi pasangan capres dan cawapres di Pilpres 2019. Dia menegaskan keinginan masyarakat selama ini juga sudah terjawab bahwa Jokowi adalah sosok yang menghargai ulama. 

“Pak Ma’ruf adalah Rais Aam PBNU, dari sisi keilmuwan beliau menguasai bidang agama. Pak Ma’ruf juga memiliki nama besar, dan sisi pendidikannya pun tidak diragukan lagi,” ungkap legislator daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Barat (Kalbar) ini.

Lebih lanjut Syarif yakin bahwa pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin nanti bisa memenangkan Pilpres 2019. Menurut dia, jika dilihat dari kacamata rasional dalam mendudukkan persoalan selama menjadi presiden, Jokowi dalam tiga tahun sudah membuat banyak terobosan yang luar biasa. Misalnya, kata dia, infrastruktur yang mungkin selama ini mangkrak, bisa terlaksana di zaman pemerintahan Jokowi. Kemudian, lanjut dia, ketika diisukan sebagai penganut paham neoliberalisme,  Jokowi justru membuktikan nasionalismenya dengan mengambilalih pengelolaan Blok Rokan, maupun PT Freeport Indonesia. 

“Pembangunan infrastruktur juga berjalan. Di Jawa, jalan tol sudah sambung menyambung, termasuk juga di Sumatera. Bahkan, di Kalbar juga 96 persen jalan nasional sudah  dalam kondisi mantap,” katanya.

Dia mencontohkan, salah satunya adalah jalan lintas timur di Kalbar yang sudah puluhan tahun mengalami kerusakan. Menurut dia, ketika Jokowi menjabat tiga tahun, jalan itu sudah berhasil dibangun dalam kondisi yang mantap. Pun demikian kondisi perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar sudah jauh lebih bagus. “Border kita sudah kelas satu. Jalan dari Sajingan ke perbatasan juga sudah licin. Dari Sambas sampai ke border bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Jadi, dari sisi kerja, beliau (Jokowi) orang kerja,” ujarnya.

Mahfud MD Legowo

Sementara itu, Mahfud MD mengaku legowo atas keputusan koalisi Jokowi yang batal memilihnya sebagai cawapres. Menurutnya, itu kewenangan mutlak Jokowi yang didasarkan pada pertimbangan politik. Mahfud sendiri mengaku tidak kecewa.

"Kaget saja karena sudah diminta mempersiapkan diri," ujarnya di Kantor MMD Institute, Jakarta, tadi malam. Bahkan, lanjutnya, permintaan yang disampaikan sudah agak detail ke persiapan pendaftaran.

Meski demikian, dia menilai hal itu sebagai sesuatu yang biasa. Yang terpenting dilakukan secara konstitusional. Mahfud menambahkan, dalam politik, yang harus diutamakan adalah kepentingan negara. "Dari pada sekadar nama Mahfud MD," imbuhnya.

Pria asal Madura itu mengakuisisi dirinya sempat berencana hadir di acara deklarasi Jokowi. Namun jelang sore, informasinya masih simpang siur terkait dirinya. Sehingga dia memutuskan untuk pulang.

"Kalau sudah lebih setengah jam berita simpang siur berarti tidak akan ada sesuatu yang diharapkan ya pulang ya," tuturnya.

Mahfud sendiri mengaku sudah bertemu dengan Jokowi beberapa saat setelah deklarasi. Dalam kesempatan itu, dia menyatakan memaklumi keputusan tersebut. Dia sadar dalam politik segalanya bisa berubah.

"Pak Jokowi gak usah merasa bersalah atau apa, saya bilang nggak usah, wong sayapun tidak apa," pungkasnya. (ody/far) 
 

Berita Terkait