Buka yang Syahdu Bersama Ratusan Orang di Masjid Biru

Buka yang Syahdu Bersama Ratusan Orang di Masjid Biru

  Selasa, 12 June 2018 10:00
DI TANAH OTTOMAN: Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6). CANDRA KURNIA/Jawa Pos

Berita Terkait

Mengeksplorasi Istanbul sembari Berpuasa 17 Jam

Istanbul kaya destinasi yang sayang dilewatkan jika tengah singgah di ibu kota Turki itu.  Apalagi saat menjelajahinya, mulai beberapa jam setelah sahur sampai datangnya waktu berbuka pada setengah sembilan malam.   

CANDRA KURNIA, Turki

AZAN salat Subuh dari Masjib Biru, Istanbul, itu berkumandang lantang pukul 03.30 waktu setempat. Santap sahur dengan menu sarapan yang dimajukan telah selesai. 

Hanya beberapa jam lagi, saya akan menjajal mengeksplorasi ibu kota Turki yang kaya destinasi itu. Sembari berpuasa. Yang durasinya lebih lama ketimbang di tanah air: sekitar 17 jam. 

Pagi tiba pada Selasa dua pekan lalu itu (29/5), tantangan langsung datang begitu keluar hotel sekitar pukul 08.30. Sebuah restoran Italia, yang berada tepat si seberang jalan, sudah siap menjamu tamu. Aroma yang dibawa angin dari sana, hmmm... Jangan ditanya. Maknyus. 

Karena semalam tiba di hotel pas menjelang dini hari, barulah tersadar bahwa sepanjang jalan menuju Masjid Biru berjajar restoran dan kafe. Baik tradisional Turki maupun makanan Eropa. 

Tidak ada yang tutup. Semuanya buka seperti biasa. Semua menu dipampang di depan restoran. 

Sebagian pemilik atau pekerja di restoran yang berjaga di depan menawari setiap orang lewat untuk mampir. Menikmati menu andalan. 

Tidak ada satu pun restoran yang menjadi lebih ”sopan” dengan memasang kelambu penutup seperti di Indonesia. Semakin tertantang bukan? 

Pemandangan serupa tampak di sekitar taman indah di antara Masjid Biru dan Museum Hagia Sophia. Selain restoran, belasan gerobak penjual simit (roti khas Turki) dan jagung rebus berdiri di mana-mana. Aroma jagungnya menusuk-nusuk hidung. 

Padahal, magrib masih pukul 20.30. Masih 12 jam lagi. 

”Sabar, ini ujian,” gumam saya dalam hati. 

Perhentian pertama di Masjid Sultan Ahmet Camii alias Masjid Biru. Sayang, kurang beruntung. Sebab, masjid terkenal itu tengah direnovasi pada beberapa bagian. Tampak scaffolding berdiri mengelilingi salah satu menara di bagian belakang. 

Di dalam masjid, sebagian langit-langit dan dinding masjid yang berlukis indah kebiruan itu tertutup papan karena sedang ada pengecoran di beberapa titik. Namun, rasa kagum tetap saja tak bisa tertutupi saat menyaksikan setiap sudut masjid yang dibangun selama tujuh tahun pada 1609–1616 tersebut. Terutama pada ornamen dinding yang dilukis tangan pada zamannya tersebut.

Semakin tidak beruntung karena Hagia Sophia yang masyhur tersebut juga tengah direnovasi bagian dalamnya. Pada sisi kiri di depan mimbar, pengerjaan konstruksi sedang berjalan. 

Banyak juga bagian di dalam museum yang ditutup. Jadi, kurang Instagramable buat foto-foto. Namun, tujuan utama ke Istanbul memang untuk merasakan suasana dan tantangan berpuasa di sana. 

Meski sedang ada renovasi, ratusan pengunjung tetap datang ke museum yang dahulu adalah gereja di era Kekaisaran Romawi. Dan, kemudian berubah fungsi menjadi masjid pasca penaklukan Konstantinopel tersebut. 

Ada salah satu spot yang tetap ramai diminati pengunjung. Yakni, wish column. Sebuah pilar dari batu granit dengan lubang kecil di tengahnya. Konon, siapa pun yang mampu memutar ibu jarinya 360 derajat di dalam lubang tersebut tanpa terputus, keinginannya akan dikabulkan. Tak ayal, banyak yang mengantre di sana untuk menguji skill mereka memutar jempol.

Setelah dua jam menghayati sejarah di Hagia Sophia, saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Di sekitar area Sultan Ahmet terdapat sejumlah makam sultan Turki. Pengunjung bisa masuk ke sana untuk berziarah. Sekaligus mengenal sejarah dari masing-masing raja Turki itu. Gratis.

Tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Ketidakberuntungan ternyata berlanjut. Setelah berjalan sekitar 700 meter, sesampai di gerbang, ada pemberitahuan bahwa istana sedang ditutup bagi pengunjung. saya baru bisa menikmati Topkapi keesokan harinya.

Pada titik itu, sekitar pukul 14.00, tenaga mulai terkuras. Panas di luar lumayan menyengat. Sebenarnya, lapar tak terlalu jadi soal. 

Masalah utama pada kerongkongan yang kering. Tapi, tekad untuk berpuasa di tanah Ottoman kembali menguatkan. Apalagi, tujuan berikutnya ikut membangkitkan semangat. Yaitu, Grand Bazaar.

Dengan menggunakan trem yang nyaman, Grand Bazaar bisa dicapai dengan cepat. Sudah mafhum di kalangan traveller bahwa siapa pun yang kali pertama datang ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia itu pasti tersesat. Saking besarnya. 

Jadi, saya memang sengaja menyasarkan diri di dalamnya. Tentu dengan memegang satu pesan dari seorang teman. 

”Selalu ingat pintu di mana pertama masuk ke pasar tersebut,” kata si teman. 

Paling gampang adalah melalui Stasiun Trem Beyazit. Jadi, saat sudah ingin pulang tapi masih tersesat, tinggal tanya pedagang di sana di mana pintu pertama itu. 

Ya, Grand Bazaar berhasil mengalihkan pikiran dari haus dan lapar. Kering di kerongkongan pindah ke kantong. Lapar di perut pindah ke mata. 

Bahkan, jika seharian pun menghabiskan waktu di sana, tetap saja kurang. Jadi, kesimpulannya, kalau boleh memelesetkan lagu Via Vallen, puasa di Istanbul itu ”kuat dilakoni, ora kuat ditinggal shopping”. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait