Budidaya Madu Kelulut, Prospek Menjanjikan dari Setompak

Budidaya Madu Kelulut, Prospek Menjanjikan dari Setompak

  Rabu, 13 February 2019 11:09
MADU KELULUT: Produksi madu kelulut milik Pak Mukminun dan warga sekitarnya di Setompak membantu perekonomian warga setempat. sugeng/pontianakpost

Berita Terkait

Ambil Sarang di Hutan, Langsut Diternak di Rumah

Tidak seperti madu lebah pada umumnya, madu kelulut baru mulai dibudidayakan secara besar di masyarakat termasuk di beberapa tempat di Kabupaten Sanggau. Selain punya banyak khasiat, madu ini juga punya prospek bagus dari segi perekonomian masyarakat. Pontianak Post menyajikan liputannya.

SUGENG ROHADI, Setompak

MENGGUNAKAN motor, jam 10.00, saya bergegas menuju Lingkungan Setompak, Kelurahan Sungai Sengkuang. Sepuluh menit perjalanan, saya sudah sampai di lokasi peternakan lebah kelulut (Meliponini) milik Mukminun ditemani oleh Pak Lurah, Abang Usman.

Sehari sebelumnya, saya sudah janjian dengan pak lurah untuk melihat produksi madu kelulut yang dikembangkan oleh warganya. Madu ini memang berbeda dari segi rasa namun punya khasiat yang tidak kalah bagus bagi kesehatan, penyembuhan sejumlah penyakit dan kecerdasan anak.

Mukminun atau disapa Pak Minun sudah berada didepan rumah saat menyambut kedatangan saya. Ngobrol sejenak, ia kemudian langsung membawa saya menuju ke salah satu sarang kelulut miliknya. Ada sedikitnya dua puluhan sarang yang sudah dikembangkan di sekitar area rumahnya.

Saat berada di samping sarang, ratusan kelulut sudah mulai beterbangan mengitari kami. Pak Minun lalu menenangkan kami agar jangan khawatir. Ternyata itulah salah satu reaksi kelulut saat memproteksi kemungkinan bahaya yang akan menyancam mereka.

Kami diminta diam sejenak dan tidak terlalu banyak bergerak. Membiarkan kelulut-kelulut tersebut mendekati kami. Ketika kehadiran kami bukan merupakan ancaman maka kelulut-kelulut tadi akan kembali ke sarangnya. Melihat itu, kami kemudian mencoba menyesuaikan diri agar bisa melihat sarang dengan lebih dekat.

Ia menunjukkan potongan batang pohon yang menjadi sarang utama. Lalu membuka plastik (penutup) kotak yang berada tepat di atas sarang tersebut. Di dalamnya terlihat banyak sekali kantung-kantung berisi madu yang siap dipanen.

Pria kelahiran Sanggau 21 September 1979 ini memperlihatkan bagaimana cara mengambil madu yang berada di kantung-kantung itu dengan tidak mengganggu aktivitas kelulutnya. Alat penyedot racikannya kemudian secara bergantian mulai menyedot madu dari satu persatu kantung yang berisi penuh madu itu.

Sampai dengan selesai, tak satu pun (hewan) kelulut mengganggu kami yang hadir di situ. Ternyata mudah sekali (mengambilnya) tanpa membuat hewan kecil itu merasa terganggu. Setelah disedot, ia menutup kembali kotak tersebut dengan plastiknya.

Pria 39 tahun tersebut membawa kami ke rumahnya untuk menikmati madu kelulut. Sambil duduk santai, ia kemudian menceritakan bagaimana menekuni usaha barunya itu sejak Juli 2018 lalu.

Baginya, berternak kelulut tidak ribet dan tidak perlu biaya yang besar. Cukup dengan mengambil sarangnya di hutan kemudian bisa dibawa ke rumah dan dikembangbiakkan. Penempatan sarang juga dapat ditempatkan dimana saja, asalkan lokasinya tidak terlalu lembab atau terlalu panas.

 “Tempatnya yang kira-kira sedang-sedang saja. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab. Kalau kita punya sarang, maka pengembangbiakannya akan lebih mudah. Nanti dari situ baru dibuat kloni-kloni baru. Tetapi harus ada ratu kelulutnya di setiap kloni,” jelasnya, Selasa (12/2).

Mengenai panen madu ini, bila musim penghujan maka panen bisa dilakukan sebulan sekali. Musim panas akan lebih menghasilkan yakni dua kali atau dalam dua minggu satu kali panen.

 “Kalau musim hujan, panennya sebulan sekali. Tapi kalau pas cerah (musim panas) bisa panen sebulan dua kali,” ujarnya.

Dalam sekali panen, madu kelulut yang dihasilkan bisa mencapai tujuh sampai delapan liter atau tujuh belasan botol berukuran 460 mililiter (ml). Harga jualnya juga terjangkau yakni seratus lima puluh ribu per botol.

Selain madunya, stok makanan kelulut atau disebut bipolen atau ceneneng (bahasa kampung setempat) bisa dijadikan sebagai masker dan pelembab. Sejauh ini, ia dan juga beberapa warga telah menjual produk tersebut. 

 “Ternak ini tidak mengganggu masyarakat. Selain itu juga, insya Allah, aman untuk (keselamatan) anak-anak. Ya paling tidak ini menjadi tambahan penghasilan kami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama ini (yang kami rasakan) hasilnya sangat membantu dari segi perekonomian,” ungkapnya.

Kemarin, ada juga Pak Mukmin. Pria kelahiran Sanggau 1 Mei 1973 ini adalah perintis madu kelulut di Lingkungan Setompak tersebut. Sampai dengan kemarin sudah ada 30an sarang yang dimilikinya tersebar di rumah dan kebun miliknya. Untuk wilayah Setompak sendiri total tiga ratusan sarang yang telah dikelola oleh masyarakat.

 “Tahunya juga dari (daerah) Bonti. Adik ipar saya yang memperkenalkan, lalu saya coba dan bisa menghasilkan. Saya kemudian mengembangkannya bersama keluarga dan saudara di sini,” ungkap dia.

Ia bisa menghasilkan lebih dari satu juta dalam sebulan dari menjual madu tersebut. Hasilnya digunakan untuk menabung anak-anaknya. Sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 “Modal tenaga jak sih sebenarnya. Adalah modal sedikit uang untuk membeli kemasan dan juga barang-barang bekas untuk dimanfaatkan dalam memodifikasi sarang kelulut. Barang bekas ini kayak barang-barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan (untuk sarang),” terangnya. (*)

Berita Terkait