Buah Hati Tak Semangat Belajar

Buah Hati Tak Semangat Belajar

  Rabu, 5 December 2018 11:08

Berita Terkait

Memasuki musim ulangan semester, orang tua mulai memberikan rambu pada buah hati untuk giat belajar. Diharapkan hasil ujian yang didapatkan lebih maksimal. Namun, ada kalanya anak mengalami kesulitan belajar atau yang dikenal dengan learning disability. Lantas, bagaimana menghadapinya? 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Seringkali orang tua marah ketika anak malas atau mengalami kesulitan belajar. Bahkan, tak sedikit yang beranggapan learning disability yang dihadapi adalah pertanda lemahnya inteligensi pada buah hati. 

Padahal, kesulitan belajar tak selalu memberikan tanda bahwa anak memiliki inteligensi yang rendah. Justru jadi pertanda bagi orang tua untuk mencarikan cara belajar yang tepat. Kesulitan belajar merupakan fenomena umum yang terjadi dalam suatu proses belajar dan pendidikan bagi seorang anak. Kesulitan dan tak optimalnya belajar ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa karena memang tak bisa mengikuti proses belajar yang diterapkan. Ketika dilihat dari Intelligence quotient (IQ), nilai anak tersebut lebih rendah dibandingkan teman seumurannya sehingga sulit menerima informasi sesuai usianya.

Faktor lainnya adalah tak ada motivasi. Anak tak tahu belajar, sekolah, dan manfaat dari mendapatkan nilai. Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi  menuturkan anak merasa apa gunanya ia belajar, jika tak ada motivasi di dalam dirinya dan  lingkungan tak mendukung. Anak ingin belajar, tapi kondisi rumahnya tak memungkinkan. Misalnya, adik menangis, mendengar suara televisi, atau teman-teman sekitar komplek berteriak mengajak dirinya bermain di lapangan. 

“Bisa juga dari faktor lingkungan lainnya, seperti guru dan teman bisa memengaruhi dirinya dalam belajar,” ujarnya.   

Psikolog di Sekolah Kristen Immanuel Pontianak ini mengungkapkan sebelum masuk sekolah orang tua wajib menanamkan lingkungan belajar bagi anak. Bisa mengenalkan ada waktu khusus untuk belajar. Sediakan waktu selama 30 menit untuk anak belajar sesuatu tanpa ada gangguan. Usahakan saat belajar suasana yang dihadirkan kondusif, tanpa gangguan suara televisi maupun gadget.

“Dalam kondisi ini anak juga dilarang untuk belajar sambil makan atau bermain. Anak bisa dikasih satu buku yang disuka, atau lewat permainan seperti lego dan puzzle,” tutur Verty. 

Ketika proses sedang berjalan, orang tua wajib menemani anak. Karena anak usia dini belum memiliki sikap kemandirian dan menganggap hal ini sebagai sebuah permainan. Orang tua bisa menjadikan proses ini agar anak bisa fokus dalam belajar. Ketika anak masuk dalam lingkup sekolah, proses ini diperpanjang kembali. Wajib bagi orang tua menanamkan waktu wajib belajar. Saat mendampingi anak, orang tua harus turut mencontohkan. **

Berita Terkait