Buah Hati Curhat di Medsos

Buah Hati Curhat di Medsos

  Rabu, 6 February 2019 11:28

Berita Terkait

Perkembangan zaman membuat remaja lebih senang mencurahkan isi hati melalui media sosial. Masalah yang harusnya hanya jadi konsumsi diri dan orang terdekat, justru dengan mudah dibaca orang banyak. Bagaimana orang tua menghadapinya? 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Belum lama ini jagat media sosial dihebohkan dengan video sepasang selebgram muda yang mengunggah video putusnya di platform YouTube. Video yang sudah ditonton lebih dari 12 juta viewers ini mengundang komentar negatif dari masyarakat. Bukan hanya dari gaya yang diperlihatkan semasa pacaran, tapi pernyataan salah satunya yang terkesan membongkar aib.

Kejadian seperti ini mungkin akan sulit diterima masyarakat generasi X dan Y. Namun, lebih mudah diterima generasi Z yang lahir di atas tahun 2000-an. Bagi anak-anak generasi Z hal ini wajar dilakukan, mengingat smartphone dan media sosial terasa lebih dekat dengan kehidupannya. Perkembangan zaman memang membawa perubahan yang signifikan bagi anak-anak saat ini.

Ketika mendapati masalah, anak-anak generasi ini lebih senang mencurahkan isi hatinya (curhat) melalui unggahan di media sosial. Membiarkan masalah yang dihadapi dibaca oleh orang banyak. Padahal, sikap ini dinilai sangat merugikan anak dan orang tua. 

Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan untuk menghindari hal-hal tersebut, orang tua wajib menjalin kedekatan emosional dengan anak. Sehingga, apapun yang terjadi pada anak tak luput dari perhatian. Jalinan kedekatan emosional yang baik membuat anak tak mudah membicarakan atau menyebar luaskan masalah yang dihadapinya pada publik.

“Termasuk menyebar luaskan masalah tersebut di media sosial yang sejatinya bisa dikonsumsi oleh orang banyak,” ujarnya. 

Wajib bagi orang tua untuk memberikan penekanan pada anak akan hal-hal yang boleh dan tak boleh disampaikan pada orang lain. Seperti yang diketahui anak-anak generasi Z ini berada pada usia remaja awal. Usia remaja awal ini dikenal dengan pribadi yang mudah galau dan labil. Sikap galau dan labil inilah yang membuat anak lebih senang terbuka di media sosial. 

Orang tua wajib melakukan introspeksi diri. Dalam mendidik harus bisa bersikap fleksibel. Di satu sisi, orang tua bisa bersikap otoritas layaknya ada jenjang antara ayah, ibu, dan anak. Terlebih jika berkaitan dengan norma-norma yang berlaku, baik sosial, agama, dan lainnya yang sifatnya prinsipil dan fundamental. 

Namun, di satu sisi orang tuga juga harus bisa bersikap layaknya teman. Dimana anak bisa bebas membagikan apapun yang sedang dialaminya. Orang tua yang memposisikan dirinya sebagai teman curhat akan membuat anak merasa lebih dihargai dan dipercaya. Sehingga, ketika ada masalah ia hanya akan mencari orang tuanya dan melupakan keinginan untuk berbagi di media sosialnya.

Menurut pimpinan di Biro Konsultasi Psikologi Indigrow ini, orang tua juga harus bisa melihat dari beragam sudut pandang. Terkadang, cerita yang diumbar anak di media sosial adalah bentuk keinginan akan eksistensi diri. Anak beranggapan dengan melakukan hal tersebut ia memiliki kelebihan yang mungkin tak dimiliki rekan seusianya. 

Tanpa anak sadari bahwa perilakunya tersebut justru membuatnya masih terlihat labil, memiliki krisis identitas diri, dan mudah emosional. Serta, membuat anak sangat mudah dipengaruhi teman. Akan mudah bagi anak untuk melakukan hal-hal negatif hanya karena kata-kata ‘Tak gaul jika belum free sex atau lainnya’. Semakin parah jika hubungan anak dan orang tua tak dekat. 

Dosen prodi PG-PAUD FKIP Untan ini menilai anak yang kerap mengunggah masalah di media sosial adalah tipikal anak yang kesepian. Ia menganggap pengikut yang ada di media sosialnya adalah pendengar yang baik. Meski tak kenal, namun like dan komentar yang diberikan menjadi bentuk dukungan dan empati terhadap masalah yang sedang dihadapi anak.  

“Padahal belum tentu teman di media sosialnya ini  adalah teman yang seusngguhnya. Karena pengikut di media sosial tak mengenal karakter dan pribadi diri anak sesungguhnya,” tambah Desni. 

Lantas, apakah anak bisa sadar akan perilakunya yang dinilai berlebihan ini? Desni mengungkapkan kembali pada diri anak tersebut. Apakah akan semakin larut dengan kondisi ini, atau ingin berubah dan mengintrospeksi diri. Ketika anak ingin berubah, orang tua memiliki peran penting untuk menyadarkan anak dan membantu agar tak melakukan hal yang bersifat merugikan dirinya. ** 

Berita Terkait