Bongkar Sindikat Uang Palsu untuk Pilkada di Kalimantan

Bongkar Sindikat Uang Palsu untuk Pilkada di Kalimantan

  Senin, 7 December 2015 20:34

Berita Terkait

JAKARTA -- Upaya penggunaan uang palsu untuk pemilihan kepala daerah di wilayah Kalimantan berhasil dibongkar jajaran Dittipideksus Bareskrim Polri sepanjang November 2015. Dalam pengungkapan itu, delapan orang diringkus di sejumlah lokasi berbeda. Seperti di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Bogor Timur, Garut, Karawang, Cikampek dan Bekasi, Jawa Barat.
Para tersangka sudah dijebloskan ke sel tahanan. Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brgijen Bambang Waskito mengatakan, uang palsu itu berbentuk pecahan rupiah hingga dollar Amerika Serikat.

"Kita tahu sendiri dua hari (jelang) pilkada ada relevansinya. Wilayahnya di daerah kalimantan memang ada permintaan. Kami segera tangkap sebelum diedarkan," ungkap Bambang di Bareskrim Polri, Senin (7/12).

Hanya saja, Bambang enggan membeberkan siapa pemesan uang palsu ini. Yang pasti, kata Bambang, uang palsu itu dipesan oleh pihak dari wilayah Kalimantan dan Indonesia bagian Timur. Jumlah uang palsu yang dipesan pun nilainya fantastis. "Barang bukti yang besar itu relevan dengan banyaknya permintaan," kata mantan Kapolrestro Jakarta Barat ini.
Ia menambahkan, modus operandi para pelaku sudah tidak asing lagi. Mereka menggunakan printer, sablon hingga mesin fotocopy. "Hasil yang paling sempurna ialah kombinasi printer n sablon," katanya.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak percaya dengan iming-iming uang untuk menentukan pilihan di pilkada. "Pilih sesuai hati nurani, jangan terpengaruh," ungkap Bambang.

Ia menambahkan, selama Januari hingga November 2015 berhasil mengungkap 10 laporan polisi terkait kasus uang palsu. "Kasus terbanyak diungkap pada November karena berkaitan dengan pesta demokrasi," katanya.

Kepala Divisi Pengelolaan ‎Data dan Penanggulangan Pemalsuan Uang Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Hasiholan Siahaan mengatakan, sepanjang Januari-November 2015, BI dan Polri berhasil menemukan 280.655 lembar uang palsu yang tersebar di masyarakat. Uang palsu itu terdiri dari beberapa pecahan yakni Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu.
"Biasanya yang paling banyak dipalsukan itu uang Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu," kata Hasiholan di kesempatan itu.

Ia menambahkan, selama 10 bulan terakhir laporan perbankan ke BI uang palsu yang ditemukan ada 136.558 lembar atau 49 persen. "Sedangkan temuan uang palsu dari penyidikan Polri ada 144.097 lembar atau 51 persen. Total seluruhnya ada 280.655 lembar," tutur dia. Menurut dia, sebaran uang palsu itu dominan terjadi di di Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten hingga Jawa Tengah.

 

Peredaran Uang Palsu Meningkat
Peredaran uang palsu semakin meningkat. Kepala Divisi Pengelolaan Data dan Penanggulan Pemalsuan Uang Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Hasiholan Siahaan mengatakan, hingga Oktober 2015 jumlah uang palsu yang ditemukan 280,655 lembar. Jumlah ini meningkat tajam dibanding 2014 yang hanya ditemukan 122,091 lembar. Bahkan, pada 2013 uang palsu yang ditemukan hanya 141,226 lembar.
Menurut Hasiholan, sanksi pidana terhadap produsen maupun pengedar uang palsu harus dioptimalkan. "Supaya ada efek jera," tegas Hasiholan di Bareskrim Polri, Senin (7/12). Karenanya, kata dia, BI, Polri dan Kejaksaan akan terus berupaya meningkatkan sanksi pidana dalam kasus uang palsu ini.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Bambang Waskito menambahkan operasi pengungkapan uang palsu pada November digencarkan karena berdekatan dengan momen pilkada serentak. "Kita tahu sendiri dua hari (jelang) pilkada ada relevansinya. Wilayahnya di daerah Kalimantan memang ada permintaan. Kami segera tangkap sebelum diedarkan," ungkap Bambang di Bareskrim Polri, Senin (7/12). (boy/jpnn)

Berita Terkait