Boeing 737 Max Jatuh Lagi

Boeing 737 Max Jatuh Lagi

  Senin, 11 March 2019 08:57
TINGGAL PUING: Sejumlah orang berjalan di dekat puing pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh pada Minggu (10/3). Pesawat Boeing 737 Max itu jatuh di dekat kota Bishoftu, sebelah selatan Addis Ababa, Ethiopia. REUTERS/TIKSA NEGERI

Berita Terkait

ADDIS ABABA – Wendy Otieno tak kuasa menahan air mata. Berkali-kali dia berusaha menelepon ibunya, tapi tak kunjung berhasil. Ibu Otieno adalah salah satu penumpang pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302. Pesawat yang terbang dari Addis Ababa, Ethiopia, menuju Nairobi, Kenya, itu jatuh. Tiada korban selamat. 

”Kami berharap dia naik pesawat yang berbeda atau penerbangannya ditunda,” ucap Otieno seperti dikutip Reuters. Dia masih terus berharap selama belum ada kepastian bahwa ibunya termasuk korban meninggal dunia. 

Dia dan ratusan kerabat penumpang lain kini hanya bisa menanti kepastian di Bandara Internasional Jomo Kenyatta, Nairobi. Beberapa jam setelah jatuhnya pesawat nahas itu, keluarga korban tidak mendapatkan informasi apa pun dari pihak bandara maupun maskapai. Mereka mengetahui perkembangan situasi lewat pemberitaan di media. 

”Kami hanya bisa berdiri di sini, berharap yang terbaik,” terang Robert Mutanda. Padahal, saat itu sudah lebih dari tiga jam pesawat dikabarkan jatuh. Pria 46 tahun tersebut menanti saudara iparnya yang datang dari Kanada. 

Pesawat jenis Boeing 737 Max-8 milik Ethiopian Airlines itu lepas landas dari Bandara Internasional Bole, Addis Ababa, pukul 08.38 waktu setempat. Enam menit kemudian pesawat itu jatuh di Bishoftu yang berjarak 62 kilometer dari Addis Ababa. Di antara 157 orang di dalamnya, tak ada yang selamat. Perinciannya, 149 penumpang dan 8 kru pesawat.

”Penumpang dari 33 negara ada di dalam pesawat itu,” ujar CEO Ethiopian Airlines Tewolde Gebremariam. Dari keterangan resmi maskapai, ada seorang warga negara Indonesia yang turut menjadi penumpang. Namun hingga kini masih belum diketahui identitasnya.

Dari berbagai foto yang beredar, tampak pesawat tersebut sudah hancur berkeping-keping. Sepatu, tas, dan kursi pesawat terlempar ke berbagai penjuru. Pun demikian pecahan pesawat tersebut. Gebremariam sudah berada di lokasi jatuhnya pesawat. Melalui akun resmi perusahaannya, dia mengucapkan belasungkawa untuk semua korban. 

Boeing 737 Max-8 milik Ethiopian Airlines merupakan jenis yang sama dengan pesawat Lion Air yang jatuh akhir Oktober tahun lalu. Kala itu pesawat yang terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, menuju Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, tersebut jatuh sekitar 12 menit setelah lepas landas. Sebanyak 189 orang di dalamnya tewas. Itu adalah jenis pesawat baru milik Boeing yang dirilis pada 2016. Ethiopian Airlines menggunakan Boeing 737 Max-8 sejak Juli tahun lalu.

Penyebab pasti kecelakaan kemarin masih diselidiki. Website Flightradar24 mengungkapkan, kecepatan vertikal pesawat Ethiopian Airlines tidak stabil setelah lepas landas. Di pihak lain, Pemimpin Redaksi Airline Ratings Geoffrey Thomas mengungkapkan, kecelakaan Lion Air berbeda dengan Ethiopian Airlines.

Pada kecelakaan Lion Air, kecepatan udara pesawat mengalami fluktuasi yang tidak teratur. Data sejak pesawat bermasalah hingga jatuh tetap terekam. Nah, pada kecelakaan Ethiopian Airlines, tidak ada gejolak di udara dan transmisi pesawat tiba-tiba hilang. ”Transmisi yang berhenti itu menunjukkan bahwa kegagalan besar telah terjadi di udara,” terang dia seperti dikutip CNN. 

Jatuhnya pesawat ET302 tersebut menjadi pukulan bagi Boeing. Sebab, pesawat itu adalah produk baru Boeing dan terjadi kecelakaan dua tahun berturut-turut. ”Tim teknis Boeing disiapkan untuk membantu jika diminta dan atas pengarahan Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS,” bunyi pernyataan Boeing.

Sementara itu, salah satu penumpang berhasil lolos dari maut. Dia adalah Ahmed Khalid yang terbang dari Dubai. Seharusnya, dia berada dalam pesawat ET302. Tapi, dia ketinggalan pesawat. Dia lalu terbang dengan pesawat lain menuju Kenya. Khalid berhasil sampai di Bandara Internasional Jomo Kenyatta dengan selamat dan disambut ayahnya. 

Maskapai Ethiopian Airlines selama ini dikenal sebagai yang paling aman di Afrika. Pesawat milik maskapai tersebut kali terakhir celaka pada Januari 2010. Kala itu pesawat yang terbang dari Beirut jatuh di Laut Mediterania. Akibatnya, 90 orang di dalamnya tewas. (sha/c11/sof)

Berita Terkait