BNN Akui Tak Ada Personil Pemberantasan

BNN Akui Tak Ada Personil Pemberantasan

  Jumat, 20 July 2018 10:00
JELASKAN KINERJA: Kepala BNN Mempawah, AKBP AH Daulay beserta jajarannya saat menggelar konferensi pers | WAHYU ISMIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MEMPAWAH - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Mempawah mengakui salah satu kelemahan jajarannya dalam upaya memerangi kejahatan narkotika yakni tidak adanya personil bidang pemberantasan. Sehingga, pihaknya fokus pada tindakan pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan barang terlarang itu.

“Sampai saat ini kita belum bisa melakukan tindakan pemberantasan. Sebab, kita memang tidak memiliki personil yang menangani bidang pemberantasan,” ungkap Kepala BNN Mempawah, AKBP Abdul Haris Daulay, SH kepada awak media di kantornya, kemarin pagi.

Meski demikian, menurut Daulay bukan berarti BNN Kabupaten Mempawah hanya berpangku tangan. Sejak awal dibentuk, BNN Kabupaten Mempawah pro aktif melakukan aksi pencegahan dan rehabilitasi terhadap para korban narkotika di wilayah Kabupaten Mempawah.

“Pencegahan kita laksanakan dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan di masyarakat. Mulai dari lingkungan instansi pemerintah, perusahaan swasta, sekolah dan masyarakat umum,” papar Daulay.

Terkait rehabilitasi, Daulay menyebut, saat ini sudah melayani rawat jalan dan rawat inap. Untuk rawat jalan, masyarakat dapat memilih sejumlah fasilitas yang ada di Kota Mempawah. Mulai dari klinik pratama sehati milik BNN Kabupaten Mempawah dan klinik lainnya.

“Tapi untuk saat ini, kuota pasien yang kami tanggung sudah terpenuhi. Pada tahun 2018 ini, kuota pasiennya hanya 10 orang dan sudah terisi semua,” ujar Daulay.

Namun, imbuh dia, pasien narkoba masih bisa menikmati pelayanan rawat jalan di Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah (LRIP) yang ada di Rumah Sakit DR Rubini Mempawah. Tempat rehabilitasi milik Pemerintah Kabupaten Mempawah itu siap memberikan pelayanan optimal.

“Kalau di LRIP, kuota pasiennya juga 10 orang. Saat ini sudah ada 7 pasien yang melakukan rawat jalan. Jadi masih ada kuota 3 pasien lagi hingga akhir 2018 nanti,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Daulay, ada pula fasilitas rawat jalan Lembaga Rehabilitas Komponen Masyarakat (LRKM) di Kota Mempawah. LRKM ini pun memiliki kuota 10 pasien narkoba dan saat ini sedang menangani 6 orang. 

“Mudah-mudahan hingga akhir 2018 nanti, target penanganan pasien narkoba di klinik-klinik rawat jalan ini bisa tercapai,” harapnya.

Sedangkan untuk rawat inap, Daulay menjelaskan, pihaknya belum memiliki fasilitas. Hanya saja, pihaknya bekerjasama dengan lembaga serupa di luar daerah Kalbar. Misalnya di Bogor, Batam hingga Sulawesi Selatan.

“Akan tetapi kita memiliki anggaran untuk biaya pengantaran pasien. Jadi biayanya harus ditanggung oleh keluarga pasien. Saat ini, sudah ada 2 pasien yang dirawat inap di Lembaga Rehabilitasi Badoka di Sulawesi Selatan. Satu orang sudah kembali ke Mempawah,” katanya.

Masih dalam upayanya memberantas jaringan gelap dan penyalahgunaan narkoba, Daulay mengatakan pihaknya membuka akses keterbukaan informasi publik melalui media sosial. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan kegiatan BNN Kabupaten Mempawah melalui akun resmi.

“Kami akan share informasi dan kegiatan BNN Kabupaten Mempawah di facebook, whatapps dan instagram. Jadi setiap kegiatan akan kami upload ke media sosial agar dapat diketahui masyarakat secara luas,” pungkasnya.(wah)

 

Berita Terkait