Bidikan Kamera Pak Guru Cegah Murid untuk Mengantuk

Bidikan Kamera Pak Guru Cegah Murid untuk Mengantuk

  Jumat, 7 September 2018 10:00
INOVASI MENGAJAR: Abdul Karim menunjukkan komik strip. Foto: Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Berita Terkait

Abdul Karim Menyulap Materi Matematika Menjadi Komik Setrip

Abdul Karim selalu memilih kalimat, rumus, dan contoh perhitungan matematika yang ringkas untuk dimasukkan komik setrip. Para murid yang dipilih secara candid untuk jadi ”model” pun malah senang.

M. HILMI SETIAWAN, Semarang

TIAP kali masuk kelas, tentengan Abdul Karim berbeda dengan kebanyakan guru lain. Tidak sekadar membawa buku-buku bahan ajar, alat peraga, dan sejenisnya.

Guru kelahiran Cirebon, 26 November 1969, itu membawa serta dua kamera profesional. Masing-masing kamera DSLR Canon 1300D dan Canon 760D.

”Untuk menjepret wajah anak-anak,” katanya ketika ditanya untuk apa dua kamera tersebut. 

Setiap kali mengajar di kelas IX, Karim memang selalu menyempatkan diri untuk memotret anak didiknya. Hasilnya dia kumpulkan untuk menjadi bahan baku pembuatan komik setrip. 

Bukan sembarang komik setrip yang Karim buat. Melainkan sebuah komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika. Aplikasi yang dia gunakan untuk membuat komik setrip adalah Comic Life, yang di dalam kelas dihadirkan dalam wujud slide Powerpoint atau Geogebra.

”Saya foto anak-anak secara candid,” katanya ketika ditemui di kediamannya di Semarang, Jawa Tengah, 16 Agustus lalu. 

Pengambilan gambar bisa dia lakukan saat duduk di meja guru atau ketika berkeliling kelas menghampiri siswa. Dengan cara itu, menurut Karim, anak didiknya menjadi terjaga selama pelajaran berlangsung. Sebab, jika kedapatan tertidur, si siswa akan difoto, kemudian masuk dalam komik setrip.

Menurut suami Beta Nurbety Tsany itu, upayanya menghadirkan komik setrip yang berisi materi pelajaran matematika dimulai pada awal 2016. Waktu itu dia menjadi guru matematika full time di kelas IX SMP Nasima, Semarang. 

Hanya, ketika itu dia belum berbekal kamera profesional. Karim memotret wajah siswanya dengan tablet Samsung Galaxy.

Dia baru menggunakan perangkat kamera profesional pada 2017. Ketika dia sudah tidak mengajar full time di SMP Nasima. Sebab, banyak waktunya tersita untuk organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI). Dia tercatat sebagai pengurus IGI pusat periode 2016–2021.

Nah, pada 2017, Karim menjadi guru kolaborasi atau team teaching mata pelajaran matematika kelas XI di SMA Plus Muthahhari, Bandung. Setiap dua minggu dalam sebulan dia bolak-balik Bandung–Semarang untuk mengajar. 

”Saat mengajar di Bandung, saya mulai menggunakan dua kamera profesional untuk memotret siswa,’’ jelasnya. 

Memasuki 2018, aktivitas Karim di IGI semakin padat. Menuntut dia keliling Indonesia untuk menjadi guru pelatih. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berkonsentrasi penuh mengajarkan teknologi pembelajaran kepada guru-guru. Akitivasnya sebagai guru pun berhenti sementara.

Tidak hanya di bawah bendera IGI. Karim juga menjadi pelatih pada kegiatan yang digelar Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Kemendikbud Bidang Matematika yang bermarkas di Sleman, Jogjakarta. Selain itu, dia master trainer Casio.

Yang dia tekankan tiap kali mengisi pelatihan adalah pemanfaatan media teks, gambar, video, dan simulasi untuk pembelajaran. ”Saat ini sebagian guru masih berkutat pada (media pembelajaran, Red) teks,’’ tuturnya. Padahal, pembelajaran, apalagi matematika, bisa dibuat lebih asyik. Dengan penggabungan teks, gambar, video, dan simulasi.

Semangat itu pula yang mendorong bapak Fikra Mahardika Karim dan Zahra E. tersebut. Titik awalnya, saat dia mengisi sebuah pelatihan di Bima, Nusa Tenggara Barat. 

Ketika itu salah satu materi pelatihan yang dia bawakan adalah pemanfaatan media teks, gambar, video, dan simulasi untuk pembelajaran. ’’Saat ini sebagian guru masih berkutat pada (media pembelajaran, Red) teks,’’ tutur suami Beta Nurbety Tsany itu. Padahal pembelajaran, apalagi matematika, bisa dibuat lebih asyik dengan penggabungan teks, gambar, video, dan simulasi.

Dari sanalah Karim memutuskan untuk sering membuat komik setrip. Yang memadukan gambar atau foto dengan teks pelajaran matematika. Dia mengatakan, sebaiknya memang menggunakan gambar karya sendiri. Layaknya sebuah komik pada umumnya. Namun, dia mengakui bahwa kesibukan guru sudah cukup padat. Jadilah akhirnya dia memilih untuk menggantinya dengan foto peserta didik, bahkan rekan sesama guru, untuk bahan membuat komik setrip.

Salah satu murid Karim yang pernah menjadi bahan komik setrip adalah Vieska Pradita Utami. Tahun lalu dia adalah murid Karim di kelas XI SMA Plus Muthahhari. Sampai saat ini komik setrip yang memampang wajah Vieska masih diabadikan dalam blog mumatika.wordpress.com dengan judul Investigasi Hubungan Jumlah dan Hasil Kali Akar-Akar Persamaan Pangkat Tiga.

”Waktu difotonya sadar, meski candid juga,’’ tutur remaja yang sekarang duduk di kelas XII-IPA SMA Plus Muthahhari itu. 

Meskipun sadar difoto, Vieska tidak mengetahui bahwa dirinya bakal dijadikan bahan komik setrip. Tiba-tiba besoknya Vieska dikirimi link blog oleh Karim.

Awalnya, Vieska mengira link tersebut sebatas materi pelajaran. Untuk dipelajari di rumah. Supaya digunakan untuk belajar dan ada persiapan sebelum masuk kelas. Eh, ternyata dia kaget karena isinya adalah komik setrip yang berisi wajahnya. ”Saya melihat itu senang. Nggak menyangka,” ucap dia.

Kedekatan Karim dengan urusan teknologi pembelajaran dimulai saat dirinya menjadi pelatih di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kemendikbud di Jawa Tengah. Selain itu, dia menjadi pelatih di Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BPTIKP) Jawa Tengah. 

Profesi pelatih freelance di dua lembaga tersebut dia lakoni pada periode 2007 sampai 2015. Fokus materi pelatihannya adalah pembuatan media pembelajaran berbasis TIK.

Komik dengan Vieska sebagai ”model” itu ditunjukkan Karim kepada Jawa Pos. Isinya, materi pelajaran bilangan prima. Kemudian, karya komik setrip berikutnya berisi foto siswi lain yang disisipi materi tentang pemfaktoran.

”Kelas langsung geger ketika mengetahui bahwa yang ada di komik setrip itu adalah salah satu di antara mereka, hehehe,” tuturnya. 

Gambar komik setrip itu ditampilkan melalui proyektor dan dibahas bersama-sama. Selama itu pula siswa yang wajahnya muncul dalam komik setrip hanya bisa tersenyum.

Vieska masih ingat betul, setiap kali Karim memunculkan komik setrip di dalam kelas, suasana menjadi heboh. Siswa yang wajahnya muncul kerap disoraki ramai-ramai. Vieska menyebut Karim sebagai guru pertama dengan komik setrip sebagai materi ajar yang kelasnya pernah dia ikuti. ”Pak Karim itu guru yang baik, ramah, dan enak diajak ngobrol,” katanya. 

Selain itu, menurut dia, Karim memiliki cara yang membuat materi matematika lebih mudah untuk dipelajari. Termasuk, lewat komik setrip. Apalagi, komik setrip tersebut dikirim lebih dahulu kepada seluruh siswa sebelum pelajaran dimulai melalui aplikasi percakapan WhatsApp. 

Karim yang menjabat ketua bidang peningkatan mutu guru di IGI pusat menyatakan selama ini tidak pernah diprotes murid. Khususnya dari murid yang wajahnya dia foto secara diam-diam. ”Mereka malah senang,” kata dia.

Karim menyebutkan kunci mengajar matematika versinya. Yakni, di awal pelajaran, guru harus bisa menarik perhatian siswa. Guru harus membuat anak-anak secara psikologis tertarik dengan materi yang diajarkan. Karena itu, Karim selalu menghindari menyodorkan materi yang ada saat permulaan sesi mengajar.

Dia mendorong guru-guru matematika maupun mapel lain berinovasi. Dengan komik setrip tersebut, Karim mengatakan bisa membuat siswa tidak bosan. 

Apalagi, dalam pelajaran matematika, terlalu banyak simbol yang harus dipelajari anak didik. ”Laptop jangan sekadar menjadi pengganti mesin ketik,’’ tuturnya. 

Menurut Karim, membuat komik setrip tidaklah sulit. Apalagi, saat ini sudah banyak aplikasi atau software yang bisa digunakan untuk membuat komik setrip.

Yang perlu dilakukan oleh guru sebatas mengumpulkan stok foto anak-anak atau gambar menarik lain. Kemudian, masukkan dengan jitu materi pelajaran yang bakal diajarkan. Dia mengingatkan, tulisan jangan terlalu banyak atau panjang karena bakal membosankan. (*/c11/ttg)

Berita Terkait