Betulkah NKRI di Tahun 2030 Lenyap?

Betulkah NKRI di Tahun 2030 Lenyap?

Sabtu, 24 March 2018 09:27   355
Prabowo Subianto dan Ghost Fleet (Foto: Coconuts.co)

PERTANYAAN ini disusun dari sepucuk pesan singkat elektronik yang diterima 22-3-2018 subuh. Berikut pesan yang diterima itu. “Pak Leo, di media massa utama ramai dibicarakan pernyataan Bpk Prabowo tentang NKRI di tahun 2030 lenyap. Betulkah itu? Apa kata penelitian?”

Terima kasih atas kiriman pesan singkat elektronik ini. Sesungguhnya, kolom ini tidak didekasikan untuk masalah politik praktis. Sebaliknya, kolom ini menyajikan diskusi imajiner yang argumentasinya berbasis  hasil-hasil penelitian. Sesuai dengan judul kolom “Semakin profesional lewat penelitian”. Sehingga, kesimpulannya diserahkan pada masing-masing individu pembaca  sesuai dengan sudut pandang yng digunakannya.

Isu keadaan Indonesia di tahun 2030 sudah bubar berawal dari sambutan Ketua Umum Partai Gerinda, Letjen Purn. Prabowo Subiyanto pada bedah buku “Nasionalisme, sosialisme dan pragmatisme: pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusuma, 18 September 2017. Acara diadakan di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok.

Pernyataan ini menjadi viral di media sosial bermula dari video penggalan pidato Prabowo pada acara tersebut yang diunggah Facebook partai Gerinda, 18 Maret 2018. Sepotong pidato itu, di antaranya berbunyi: “Di sini, bendera, lambang negara dan gambar-gambar pahlawan masih ada. Tetapi, di negara-negara lain sudah membuat kajian dimana dinyatakan Indonesia sudah tidak ada lagi di tahun 2030. Mereka ramalkan kita ini bubar...”.

 

Buku novel PD III

Penyataan itu didasarkan pada buku “Ghost Fleet” karya P.W. Singer, seorang ahli strategi perang abad ke-21 bersema August Cole, mantan reporter The Wall Street Journal. Novel ini, berkisah sepenggal kejadian Perang Dunia III di Amerika Serikat, Tiongkok dan Rusia. Perang Dunia III adalah perang tektologi persenjataan terkini dan diperkuat oleh perang teknologi informasi dan komunikasi canggih. (P.W. Singer dan August Cole, Ghost Fleet: A Novel of the Next World War, Penerbit: Eamon Dolan/Houghton Mifflin Harcourt, 30 Juni, 2015). 

Perang itu terjadi sekitar 30 tahun mendatang. Setelah pemerintahan Partai Komunis China dilengserkan, Rejim teknokrat baru yang disebut kelompok Directorate, gabungan para pebisnis kelas kakap dan para ilmuwan teknologi perang dan informasi-komuniksi, berambisi untuk menjadi penguasa dunia. Kisah perang dimulai dengan kejatuhan pengakalan perang Amerika Serika di Hawai ketangan pasukan China dibantu Rusia. Armada perang masing-masing dilengkapi  dengan teknologi perang yang canggih, termasuk pasukan pesawat tak berawak ‘Drone’.

China tidak hanya mengembangkan teknologi perang tetapi juga teknologi informasi-komuniasi termasuk pasukan malware yang merusak program-program satelit. Virus ini mampu melumpuhkan seluruh armada AS yang sangat mengandalkan teknologi canggih.

Istilah Ghost Fleet (Armada Hantu) merujuk pada sejumlah kapal armada perang  AS yang sementara ini ‘dipensiunkan’. Kapal-kapal ini masih menggunakan peralatan ‘jadul’ dan tidak terlalu tergantung pada teknologi canggih. Armada inilah yang selamat setelah Perang Dunia III itu.

Ghost Fleet ‘ke luar’ dari pangkalannya dan salah satu penggal perjalanannya melewati wilayah yang di dalam novel ini disebut sebagai ‘bekas wilayah Indonesia-former Republic of Indonesia’. Istilah “former Republic of Indonesia muncul beberapa halaman 13, 19, 29, 62 dan 119 dari 400 halaman novel itu. Penjelasan mengapa menjadi ‘former’ juga tidak ada. Kecuali disebut “setelah perang Timor II”.

Salah satu kelemahan novel ini  yaitu banyak tempat disebut tetapi tidak ada penjelasan sejarah dari tempat-tepat itu. Kelemahan lainnya adalah karakter yang dangkal. Tampaknya, penulis novel ini lebih menekankan pada deskripsi perang teknologi canggih itu ketimbang perang umat manusia.

 

Masa depan Indonesia

Dalam laporan Price Waterhouse and Coopers & Lybrand (PwC), 2015, yang berjudul  “The World in 2050: Will the shift in global economic power continue?” (www.pwc.co.uk/economics), pada tahun 2030,  ekonomi Mexico dan Indonesia diprojeksikan  melebihi tingkat ekonomi Inggris dan Perancis.  GDP Indonesia yang pada tahun 2014 pada urutan ke-17, pada tahun 2030 aka berada pada urutan ke-12 dan pada tahun 2050 akan berada pada urutan ke-4/$ 8,742 di bawah Tiongkok (ke-1/$53,553), AS (ke-2/$41,384),dan India (ke-3/$27,937).

Tentu saja projeksi ini sungguh akan terwujud jika syarat-syarat cukup berikut terpenuhi. Di antaranya adalah investasi pada infrastrutur yang efektif dan berkelanjutan serta  peningkatan kualitas yang memadai dalam lembaga-lembaga politik, ekonom dan sosial. Selain itu juga tetap terbuka terhadap aliran teknologi dan gagasan, serta para ahli.  

OECD report, “Active with Indonesia”, 2016, menyebutkan Indonesia sebagai salah satu anggota G20 termasuk negara yang perkembangan ekonominya terbesar di kawasan Asia Tenggara. Indonesia merupakan  negara yang ke-4 terbesar di dunia serta negara demokrasi terbesar ketiga dengan  politik  yang stabilitas, pasar domestik yang besar, serta kaya akan berbagai macam sumber daya serta kualitas manusia yang muda, dinamis dan kompeten.

Finance Nation Brands, Oktober 2017, menempatkan Indonesia  pada  urutan ke-16 dengan label AA- termasuk dalam lima negara Asia yang berada pada ‘Top 20’. Tiongkok pada urutan ke-2 dengan label AA, Jepang pada urutan ke-4 dengan label AAA-,  India pada urutan ke-8 dengan label AA, serta Korea Selatan pada urutan ke-10 dengan label AA.  

 

Penutup

Inilah beberapa hasil penelitian yang memberik gambaran masa depan Indonesia. Ternyata, bertolak belakang dengan gambaran novel fiksi Ghost Fleet karangan F.W. Singer dan August Cole.

Kembali kepertanyaan yang tertulis dalam judul, “Betulkah NKRI di tahun 2030 lenyap?” Sekali lagi diingatkan, sajian ini tidak dimaksudkan untuk memposisikan menjawab pertanyaan itu. Tetapi, sajian ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa di lingkungan para ahli pun berkembang perbedaan pendapat dengan argumentasi masing-masing. Dalam tradisi konstruktivisme, pendapat yang paling masuk akal, paling lengkap dan paling banyak manfaatnya cenderung akan diterima banyak orang dan selajutnya dianggab yang betul.

Sebagai tambahan,merespons ‘keributan’  di Indonesia berkaitan dengan novel fiksinya, F.W. Singer menulis dalam Twitternya: "Indonesian opposition leader cites #GhostFleet in fiery campaign speeches... There have been many unexpected twists and turns from this book experience, but this may take the cake." (Wikipedia, diunduh 23-3-2018, pkl 07:29).

Semoga!

Leo Sutrisno