Bertaruh Nyawa Menembus Pedalaman Kalimantan Demi Pesta Demokrasi

Bertaruh Nyawa Menembus Pedalaman Kalimantan Demi Pesta Demokrasi

  Minggu, 5 May 2019 08:42

Berita Terkait

Pelaksanaan Pemilu yang digelar secara serentak pada 17 April 2019 lalu meninggalkan beragam kisah yang menguras pikiran dan tenaga. Tidak sedikit petugas penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah, mulai dari sakit karena kelelahan, kecelakaan, hingga meninggal dunia. Berat beban yang harus mereka tanggung demi proses pemilu serentak ini berjalan lancar.

Kisah memilukan itu juga datang dari Dusun Belatung, Desa Kereho, Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Minimnya akses menuju lokasi membuat proses pendistribusian terasa sangat berat. Para petugas harus bertaruh nyawa agar surat suara tiba tepat waktu ke lokasi.  

Dusun Belatung sendiri terletak di perhuluan sungai Kapuas dan hulu sungai Bekohuk. Dusun ini merupakan dusun terjauh di Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk sampai di dusun itu, setidaknya harus membutuhkan waktu dua sampai tiga hari melalui alur sungai berriam ganas dan berjalan kaki menelusuri jalan setapak, menaiki bukit, menerobos hutan belantara, melintasi rawa, menyeberangi sungai, lembah dan melewati bibir jurang. 

Hari sudah gelap ketika kami tiba di salah satu dusun di Desa Kereho. Kami pun harus menginap semalam untuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari menyiapkan stamina, perlengkapan, hingga persediaan makanan selama perjalan. Termasuk mengatur bagaimana bagaimana cara  membawa logistik pemilu dengan aman.  

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari satu malam, akhirnya kami pun tiba di Dusun Belatung. Sebuah dusun yang dihuni oleh masyarakat Dayak Punan.

Sepintas, dusun Belatung tidak jauh beda dengan perkampungan di daerah pedalaman Kalimantan pada umumnya. Hidup secara sederhana dengan mendiami rumah papan berukuran kecil. 

Dusun ini nyaris belum tersentuh pembangunan. Tidak ada infrastruktur jalan, puskesmas, sambungan listrik dan jaringan telekomunikasi. Satu-satuya yang menghubungkan mereka dengan kehidupan luar adalah televisi milik warga. Itu pun baru mereka nikmati beberapa tahun terakhir setelah program panel tenaga surya masuk ke dusun mereka. Hanya saja tidak semua rumah dalam kondisi terang benderang kala malam tiba. Masih ada beberapa rumah yang mengandalkan pelita sebagai penerangnya.

Dusun Belatung dihuni 29 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 97 jiwa. Mata pencaharian mereka mengandalkan hasil hutan di sekitar kampung mereka. Mengumpulkan makanan dan buah dari tengah hutan, berburu, serta berladang seadanya. Sebagian lainnya bekerja sebagai penjaga gua burung wallet dan pendulang emas. Meski kondisinya jauh dari akses dunia luar, namun mereka tetap bertahan.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, Rabu. 17 April 2019, Dusun Belatung melaksanakan prosesi pemungutan suara untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta wakil rakyat di parlemen. Setidaknya ada 54 DPT dari 97 jiwa yang berdiam di dusun itu.

Proses pemungutan suara di dusun itu terbilang sedikit beda. Kotak suara yang digunakan bukan kotak suara yang disediakan oleh KPU melainkan kardus bekas kemasan mie instan.

Ketua KPU Kabupaten Kapuas Hulu Ahmad Yani mengatakan, sebelumnya pihak KPU sudah melakukan koordinasi dengan Bawaslu Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu antara PPK dan Panwascam sudah saling berkoordinasi terkait daerah-daerah sulit di perhuluan Sungai Kapuas, terutama untuk TPS 003 Dusun Belatung.

Menurut Ahmad Yani, untuk Dusun Belatung memang ada pengecualian karena akses menuju dusun tersebut sangat sulit dan tidak memungkinkan untuk membawa kotak suara.

Kendati demikian, proses pemungutan suara di Dusun Belatung sesuai dengan prosedur yang berlaku. Dan masyarakat setempat pun antusias menyambut Pemilu Serentak di Dusun Belatung tersebut, karena hal ini adalah pemilu kedua setelah Pilkada 2018 lalu. Sebelumnya proses pemilu maupun pilkada di dusun itu dilakukan dengan cara perwakilan.

Berita Terkait