Bertahan Dihimpitan Krisis Ekonomi dan Keterbatasan Bahan Baku

Bertahan Dihimpitan Krisis Ekonomi dan Keterbatasan Bahan Baku

  Minggu, 19 June 2016 10:12
Rumah Arang dan Tumpukan Kayu

Berita Terkait

Oleh: ARIEF NUGROHO

HAMPARAN hutan mangrove di Desa Batu Ampar menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Rimbun dan hijau. Secara umum mangrove mempunyai beberapa fungsi dan kegunaan baik secara konservasi maupun secara ekonomi bagi Negara maupun masyarakatnya.

Salah satu fungsi kawasan mangrove adalah sebagai penghasil kayu, misalnya kayu bakar, arang, serta kayu untuk bahan bangunan dan perabot rumah tangga. Pontianak Post berkesempatan untuk mengunjungi Desa Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, melihat sendiri bagaimana proses pembuatan arang dari batang poton mangrove oleh masyarakat Batu Ampar khususnya Dusun Sungai Limau. 

Sebelum menuju dusun yang sebagian besar masyarakatnya pembuat arang itu, kami meninjau lokasi hutan mangrove yang ada di sana. 

Dengan menggunakan perahu motor, kami menyusuri anak-anak sungai menuju hutan mangrove. Sepintas dari luar,  hutan ini tampak rimbun dan rapat. Namun semakin jauh ke dalam banyak ditemukan bekas-bekas penebangan, entah oleh masyarakat sekitar atau perusahaan yang bercokol di sana. “Di sini hutan mangrove sudah banyak yang rusak. Tampak dari depan masih bagus dan tumbuh lebat tapi coba kita  masuk ke bagian dalamnya sudah bolong-bolong dan terbuka seperti lapangan bola,” ujar seorang warga yang mendampingi kami.

Setelah beberapa saat mengunjungi lokasi hutan mangrove, kami diajak untuk melihat secara langsung proses pembuatan kayu arang di desa itu. Abdul Hadi (54), salah satu petani pengrajin arang bakau ini menuturkan bagaimana proses dan waktu pengerjaannya. Pembuatan arang bakau tradisional memerlukan waktu yang lama kurang lebih 27 hari. Lamanya proses pembuatan arang dikarenakan dikerjakan secara manual, semua serba menggunakan tenaga manusia. Mulai dari tahap penebangan pohon bakau sampai pendistribusiannya.

Kayu yang akan dipilih dijadikan arang berukuran diameter 10 – 25 cm. untuk yang ukuran kecil, mereka tetap membudidayakannya. Setelah kayu bakau terkumpul banyak kemudian kayu tersebut siap untuk dimasukkan ke dalam dapur atau tungku arang. Dapur arang yang digunakan oleh para pengrajin arang terbuat dari tanah liat. “Dapur arang yang saya gunakan ini kurang lebih sudah berumur 26 tahun, yaitu sejak tahun 1987. Dapur arang ini adalah peninggalan ‘datok’ saya”katanya. 

Untuk memasukkan kayu bakau diperlukan kurang lebih satu hari. Dalam 1 buah dapur arang bisa memuat 4 ton kayu. 4 ton kayu bakau yang dimasukkan ke dalam dapur arang diperlukan proses pembakaran selama 17 hari berturut-turut. Proses pembakaran ini tidak boleh berhenti sampai kayu tersebut benar-benar menjadi arang dan tidak ada yang rusak. 

Supaya arang bisa dikeluarkan dari dapur arang, diperlukan proses pendingian kurang lebih selam 10 hari. Arang yang telah jadi kemudian dikeluarkan dan dipilih berdasarkan jenis-jenis arang. Proses terakhir yaitu pengepakan. Untuk pengerjaannya kebanyakan dilakukan oleh ibu-ibu dan perempuan-perempuan. Prosespemotongan dan pengepakan kayu memerlukan waktu kurang lebih 5 hari.

Menurut Dul, usaha yang digelutinya ini merupakan usaha turun temurun. Ia menceritakan banyak sekali tantangan yang dihadapinya sehingga membuat ia jatuh bangun. Kendalanya yang dihadapi sekarang adalah murahnya harga jual, sehingga tidak sebanding dengan biaya operasional. "Dalam sekali produksi harga jual bisa mencapai Rp8 jutaan, tapi dipotong biaya ini itu, habis. Paling-paling satu bulan hanya bisa menghasilkan Rp1,2 juta. Apalagi harga arang kini turun," katanya. (*)

Berita Terkait