Bersuara di Atas Panggung

Bersuara di Atas Panggung

  Selasa, 5 February 2019 05:59
Agung Wijayanto // 3 Runner Up Mr. Model of the World 2018

Berita Terkait

Pada 2018, Agung Wijayanto berhasil membawa nama Indonesia di kancah internasiol. Dia dinobatkan sebagai 3 Runner Up Mr. Model of the World 2018. Namun, ternyata pria yang akrab disapa Awi ini lebih dulu dikenal sebagai volunteer yang aktif di salah satu organisasi kemanusiaan.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Sebelum terjun mengikuti kontes dan dunia model, Awi sudah lebih dulu aktif sebagai volunteer di Into The Light Indonesia. Organisasi ini bergerak di bidang mental health awareness dan suicide prevention.

Awi pernah menjadi volunteer untuk anak-anak Afghanistan yang mengungsi di Indonesia. Saat itu, dia berada di bawah naungan ‘Church World Service’. Tugasnya menjadi shelter pengungsi anak-anak Afghanistan di Indonesia selama tiga bulan.

“Tugas ini berakhir sampai hasil foto anak-anak ini dipamerkan di World Refugee Day 2017 di Lotte Ciputra Artpreneur,” ujarnya.

Awi merasa menjadi volunteer belum terlalu cukup membantunya menyuarakan hal-hal tersebut (di bidang kemanusiaan). Hingga akhirnya, dia mencoba mengikuti ajang kontes model. Kontes pertama yang diikuti Alumnus Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Untan adalah Manhunt Indonesia 2017.

Awi menjadi perwakilan Kalimantan Barat. Awi yakin saat berada di atas panggung, suara dan advokasi yang disampaikannya ini bisa menjangkau banyak orang.

Manhunt Indonesia merupakan kontes pemilihan role mode pria yang mengedepankan penilaian terhadap wawasan hidup sehat dan tingkat intelektualitas yang tinggi. Tak hanya dinilai dari segi fisik, tapi juga rasa percaya diri, berkharisma, dan sadar akan kesehatan.

Meski sudah menampilkan performa maksimal, kemenangan belum menghampiri Awi. Dalam ajang pemilihan Manhunt Indonesia 2017 ini, Awi hanya berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Best Transformation Award Manhunt 2017.

Namun, berawal dari penghargaan Best Transformation Award Manhunt 2017, pria kelahiran 12 November 1991 ini berkesempatan mewakili Indonesia dalam ajang Mr. Model of The World 2018.

Mr. Model of The World 2018 merupakan kontes dan permodelan untuk remaja putra dunia yang baru pertama kali dilangsungkan di Myanmar. Kontes ini diadakan oleh Myanmar Male Peagent (MMP) Association yang bekerja sama dengan tim dari Filipina.

“Ajang ini dilangsungkan pada bulan Agustus 2018 lalu. Selama satu minggu saya berada di Myanmar untuk mengikuti tahapan demi tahapan ajang tersebut,” tutur Awi.

Berbagai tahapan dijalani Awi demi memberikan penampilan dan hasil yang terbaik. Mulai dari megikuti lomba fisik dan bentuk, pemotretan dan jalan untuk pakaian renang budaya dan warisan, kompetisi kostum nasional, dan pertunjukan fashion pakaian tradisional.

“Termasuk pula acara lelang, malam desainer Myanmar Tourism dan pameran pariwisata, serta promosi media sosial kompetisi bakat,” jelasnya.

Walau terasa berat melewati tahapan tersebut, tetapi kerja keras Awi membuahkan hasil Dia dinobatkan sebagai 3Ru Mr. Model of the World 2018. Tak hanya itu, ia juga memperoleh gelar lainnya, yakni Mr. Model of The Earth 2018 dan Mr. Model Best National Costume 2018.

National costume yang dibawakan Awi cukup menarik perhatian juri. Busana rancangan Jusuf Bachtiar itu diberi nama Prabu Singo Kumbang. Prabu Singo Kumbang adalah salah satu bagian dari tokoh yang ada dalam pertunjukan kesenian Jaranan atau Kuda Lumping.

Unsur warna yang diangkat dalam busana ini adalah merah, kuning, ungu dan hitam. Keempat elemen warna ini memiliki arti tersendiri. Warna merah memiliki arti kekuatan dan keberanian. Warna Kuning yang berarti kegembiraan, kebahagiaan, idealisme, optimisme dan harapan.

“Warna Ungu memberi makna lambang kemuliaan dan kemakmuran dan warna Hitam yang berarti natural atau abadi,” ungkapnya.

Pria yang saat ini sedang mengikuti audisi L-Men of The Year 2019 ini selalu berusaha memperkenalkan budaya Indonesia di setiap kompetisi yang diikutinya. Termasuk saat ikut serta dalam ajang internasional. Awi membawa beberapa busana dari kain tradisional Indonesia, termasuk ikat tenun insang dari Kalbar. Hal ini sebagai bentuk kecintaan terhadap kekayaan khas Indonesia. **

 

Berita Terkait