Bersedekah dengan Sampah di Kampung Brajan

Bersedekah dengan Sampah di Kampung Brajan

  Minggu, 14 Oktober 2018 08:10
SEJAK 2013: Ananto Iswantoro memilah sampah di gudang penyimpangan sementara Shadaqah Sampah di Bantul. TAUFIQURRAHMAN/JAWAPOS

Berita Terkait

Semua Sampah Bernilai, Tinggal soal Pilih dan Pilah 

Dengan prinsip setor dan lupakan, sedekah sampah yang dipandegani Ananto Iswantoro sejak 2013 berhasil membantu warga sekitar. Mulai untuk lansia, biaya pendidikan anak-anak, sampai hajatan kampung. 

TAUFIQURRAHMAN, Jogjakarta

MATAHARI belum terlalu lama menampakkan diri. Tapi, di pelataran masjid itu, puluhan anak, remaja, dan orang tua sudah ramai meriung. Masing-masing membawa satu atau dua karung aneka macam sampah. Mulai kardus, botol plastik, sampai barang-barang rusak.

Tak lama berselang, kendaraan roda tiga yang dikendarai Rahmatullah masuk halaman Masjid Al Muharram, Kampung Brajan, Bantul, Jogjakarta, tersebut. Bak belakangnya juga penuh berisi berbagai macam sampah. 

”Anak-anak muda ini relawan semua. Mereka akan memilih dan memilah sampah sebelum dijual ke pengepul,” kata Ananto Iswantoro Minggu pagi. 

Sampah-sampah yang dikumpulkan di pelataran masjid tersebut bagian dari program sedekah sampah. Ananto-lah penggagas sekaligus ketua kegiatan yang dimulai pada 2013 itu.

Dulu, saat memulainya, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 41 tahun lalu tersebut harus merombak mobil Kijang miliknya. Kursi tengah dicopot untuk memberi ruang kargo. Dia berkeliling kampung-kampung, bahkan sampai ke Sleman, untuk mengumpulkan sampah-sampah sedekah. 

Sekarang sedekah sampah sudah bisa membeli mobil pikap dan satu unit motor niaga Tossa. Dalam seminggu pengumpulan sampah saja, bisa terkumpul Rp 1 hingga 2 juta. Tapi, tujuan utama sebenarnya bukan uang. Melainkan nilai-nilai sosial dan religiusitas. Ananto ingin mengajarkan bahwa sedekah bisa dilakukan baik pada saat lapang maupun susah. 

Itu yang mungkin membedakan sedekah sampah dengan bank sampah di banyak tempat lain. Di bank sampah, seseorang menyetor sampah seperti menyetor uang ke bank. Bank kemudian mengidentifikasi nilai sampah yang disetor dan menggantikannya dengan uang bagi nasabah alias penyetor. 

Sedangkan sedekah sampah menganut prinsip setor dan lupakan. Seperti hakikat ajaran sedekah itu sendiri. Barang apa pun yang disetorkan ke masjid ya jadi milik umat. ”Balasannya cuma pahala,” tutur Ananto. 

Tapi, tanpa terduga prinsip itu malah membuat orang-orang sekitar, dari yang paling kaya sampai yang paling miskin, semakin enteng berpartisipasi. Sampah yang disedekahkan pun kian unik dan beragam. 

Di sedekah sampah, semua sampah bernilai. Tinggal masalah memilih dan memilah. Dan itu ada tekniknya. Ananto mengajarkan kepada para relawannya untuk teliti terhadap material dasar sampah. Itu bertujuan agar nilai ekonomisnya tidak menurun. 

Botol plastik bekas minuman, misalnya, harus dilepaskan dulu dari plastik labelnya. Lalu dikumpulkan dengan sesama botol plastik. Tutup botolnya juga harus dipisahkan dan dikumpulkan sesama tutup botol. 

Kepada para relawan, alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu menerangkan, bodi botol terbuat dari plastik tipe PET atau polyethylene therephthalate alias plastik bodongan. Ringan dan mudah diremukkan. Sedangkan tutup botolnya terbuat dari bangsa plastik lain, yakni high density polyethylene alias HDPE alias plastik emberan. Harus dikumpulkan ke sesama bangsanya. Bahkan, ring perekat tutup botol pun dicabuti satu per satu dengan teliti. 

Botol bekas sampo tidak boleh dilempar begitu saja ke tumpukan. Bodi botol yang berwarna putih dipisahkan dengan tutupnya yang berwarna merah atau biru. ”Kalau botol plastik yang warna putih lebih mahal, bisa Rp 3.500. Kalau yang berwarna biasanya cuma Rp 2.000,” jelasnya. 

Sebuah magic jar bekas juga diremukkan dan dipereteli. Kalau dijual begitu saja ke tukang loak, hanya akan dihitung kiloannya. Padahal, magic jar bisa dipilah menjadi lima material berbeda: kaleng, besi, aluminium, plastik, dan kabel. Selama ini keuntungan ekonomis didapatkan para rombeng dan pengepul karena pabrik mau membayar mahal untuk sampah yang sudah disortir berdasar materialnya. 

”Berarti selama ini kita dibohongi tukang rombeng?” tanya salah seorang relawan. ”Ya ndak juga. Mereka kan ya butuh untung dagang,” jawab Ananto. 

Di Jogjakarta, Kampung Brajan yang masuk wilayah Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, dikenal sebagai salah satu sentra industri kreatif. Markas salah satu produk clothing terkenal juga berada di situ.

Ananto mulai masuk Jogjakarta saat kuliah. Dia mengambil Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

Sehari-hari Ananto dikenal sebagai dai keliling. Dia juga menjadi sekretaris eksekutif Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Sekaligus ketua takmir Masjid Al Muharram, Brajan. Di kampung itu pula, atas tugas dari Yayasan Aisyiyah, Ananto mengelola PAUD (pendidikan anak usia dini). 

Sejak awal punya ide mengelola sampah, Ananto berusaha mencari pola yang berbeda dengan bank sampah pada umumnya. Menurut dia, sistem bank sampah tersebut memang punya manfaat besar berkurangnya sampah lingkungan. Tapi, di sisi lain, tidak akan banyak memberikan dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. 

Orang-orang mampu, pemilik pertanian, ataupun industri rumahan pasti setoran sampahnya lebih banyak. Akhirnya nilai rekening mereka juga semakin tinggi. Sebaliknya, warga dengan penghasilan ekonomi rendah setorannya juga akan tetap rendah. Demikian pula nilai rekening mereka. ”Selain itu, tidak ada nilai religiusnya. Apa yang disetor balik lagi ke yang menyetor,” jelasnya.

Dengan model sedekah sampah, sampah yang disetor juga sangat variatif. Hampir semua jenis barang ada. Mulai gitar sampai WC keramik jongkok. Deras berdatangan tiap minggu. Wajar. Sebab, niatnya sedekah. Mungkin sekalian dimaksudkan sebagai kesempatan membersihkan gudang. 

Diversifikasi jenis sampah itu justru membawa berkah bagi Ananto dan relawan sedekah sampah. Suatu ketika seorang tetangga bersedekah menyetorkan dua buah proyektor LCD yang sudah rusak. Satunya kena bintik-bintik, satunya kena garis-garis. 

Ananto membawa keduanya ke tukang servis. Yang garis-garis bisa diselamatkan. Yang bintik-bintik tidak. Yang bintik-bintik lantas masuk rombeng, yang garis-garis jadi inventaris kegiatan masjid. 

Pernah pula ada yang bersedekah kulkas dua pintu. Katanya rusak. Setelah diutak-atik ternyata berfungsi. Akhirnya nangkring di pojok masjid. Dibuat menyimpan teh dan gula ibu-ibu yang tadarusan. Kalau Idul Adha dibuat menyimpan daging kurban. 

Masjid pun akhirnya punya inventaris kipas angin, etalase, sampai jam dinding. Semuanya hasil sampah sedekah. Ada juga yang pernah menyedekahkan motor merek Kymco protolan. Kata si pemilik, sudah tidak hidup lagi. Tapi, setelah diutak-atik, ternyata hidup. 

Dengan memelas Eric Maulana, salah seorang pemuda Brajan, meminta motor itu untuk dia pakai ke sekolah. Para relawan menyanggupi. Eric bercerita, kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Di Jogjakarta dia hanya tinggal bersama nenek dan bibi. Tiap bulan orang tua hanya memberikan uang SPP. Untuk ke sekolah, Eric harus berjalan kaki atau bersepeda onthel selama 20 menit. ”Sekarang alhamdulillah, saya sudah bisa pakai motor,” katanya senang. 

Muhammad Hamid, warga RT 04 Dusun Brajan, juga mengakui pengaruh positif sedekah sampah bagi warga dusun. Selain itu, ada kekuatan ekonomi baru untuk menolong kaum duafa. 

Setidaknya dua kali setahun, saat Idul Fitri dan hari besar keagamaan Islam lainnya, sedekah sampah bisa menyantuni sedikitnya sepuluh orang dari tiap RT di Brajan. ”Mulai lansia, janda, difabel, hingga orang-orang yang tidak produktif lagi,” ujar Hamid. 

Bahkan, dana yang terkumpul dalam sedekah sampah bisa digunakan untuk membantu biaya pendidikan (beasiswa) beberapa anak dusun. Mulai siswa SD, SMP, hingga SMA. Di samping tetap bisa menyumbang hajatan bersama kampung. ”Malah tahun depan insya Allah kami sudah mampu membiayai yang kuliah,” ucap Hamid. 

Yang lebih menggembirakan bagi Ananto, kesadaran bersedekah sudah menyebar secara merata. Baik di kalangan mereka yang berada maupun di antara kaum papa.

Ananto bercerita, orang paling miskin di desanya pun kini tak lupa bersedekah. Paling tidak, memunguti sampah di jalanan untuk disetor. ”Dalam ajaran Islam, apa pun yang baik itu bisa jadi sedekah,” tuturnya. Sampah itu sebenarnya bernilai. ”Cuma banyak tidak diakui,” imbuhnya. (*/c9/ttg) 

Berita Terkait