Berpeluang Enam Tahun Jadi Kapolri

Berpeluang Enam Tahun Jadi Kapolri

  Sabtu, 18 June 2016 10:49

Berita Terkait

JAKARTA – Meroketnya Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri tidak hanya meloncati empat angkatan senior. Dengan usia yang masih 52 tahun, Tito berpeluang memecahkan rekor sebagai Kapolri dengan masa jabatan terlama, yakni enam tahun. Tentu lima angkatan di bawah Tito harus menahan diri untuk menjadi Kapolri. Kondisi itu bisa berpengaruh negatif, tapi juga bisa positif untuk Polri.

Pengamat kepolisian Mufti Makarim menuturkan, menjadi Kapolri dengan usia yang cukup muda membuat masa tugas Tito bisa lebih panjang daripada Kapolri terdahulu. Praktis, angkatan Polri di bawah Tito cukup sulit untuk bisa mendapatkan kepastian karir buat posisi pucuk pimpinan korps Bhayangkara. ”Namun, semua itu bisa dimanfaatkan, menjadikan Polri jauh lebih baik,” terangnya.

Hal itu tentu bisa dilakukan dengan mengubah pola pikir petinggi Polri bahwa yang diutamakan bukan jabatan, melainkan kinerja yang lebih baik dalam setiap posisi. Artinya, dalam setiap posisi, bila bekerja secara profesional dan berpikiran visioner, yang didapatkan akan jauh lebih baik. ”Ya, kalau sekarang yang difavoritkan posisi Kapolri, maka ke depan seharusnya yang difavoritkan itu bagaimana caranya membuat prestasi,” jelasnya.

Buat angkatan di atas Tito, tentu harus ada kemauan dari Tito untuk memberikan ruang lebih bagi senior-senior itu. Dengan begitu, mereka bisa bekerja dengan lebih aktif dan meningkatkan produktivitas Polri. ”Baik soal penegakan hukum dan independensi,” paparnya.

Kalau angkatan di atas dan di bawah Tito kurang solid, justru bisa menjadi ganjalan. Misalnya, sebagai Kapolri, performanya dianggap kurang bagus oleh presiden. ”Tentunya Tito harus merangkul angkatan di atas dan di bawahnya,” jelasnya.

Yang juga penting, lanjut Mufti, jangan sampai ada mobilisasi angkatan, di mana angkatan yang saat ini menjadi Kapolri mengesampingkan angkatan di atas dan bawahnya. ”Semua harus seimbang sesuai dengan prestasinya,” terangnya. 

Di tempat terpisah, Direktur Imparsial Al Araf menilai langkah presiden mengajukan nama Tito sebagai calon Kapolri harus dipandang positif. Penunjukan Tito dilakukan dalam rangka reformasi dan perbaikan institusi Polri ke arah yang lebih profesional. ”Mengacu pada konstitusi, pergantian Kapolri adalah kewenangan presiden. Secara legal, pengajuan Tito sebagai calon Kapolri sah,” kata Araf di Jakarta kemarin (17/6).

Secara objektif, Araf menilai Tito memiliki rekam jejak dan karir yang memenuhi syarat. Pernah menjadi Kapolda tipe A, Tito juga berhasil mengatasi persoalan terorisme yang kompleks. Namun, yang paling penting dalam pergantian saat ini, Kapolri bisa memberikan arah baru dalam meningkatkan profesionalisme Polri. ”Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Tito,” kata Araf.

Araf menyebutkan, Tito harus menindak segala bentuk intoleransi yang sering kali menggunakan kekerasan. Juga memastikan bahwa kebebasan berekspresi dan berpendapat terlindungi serta membangun kultur polisi ke arah yang lebih humanistis-persuasif dengan melindungi dan mengayomi masyarakat.

Selain itu, Tito harus bisa mengatasi berbagai persoalan sengketa agraria dengan membangun mekanisme resolusi konflik agraria yang lebih dialogis. Juga mengantisipasi serta mengatasi persoalan terorisme secara proporsional dan professional plus meningkatkan kapasitas peralatan dan SDM Polri ke arah yang lebih profesional. ”Tito juga harus memiliki penghormatan terhadap nilai-nilai HAM (hak asasi manusia, Red),” papar Araf.

Araf juga berharap Kapolri baru bisa membuat blueprint arah pembangunan Polri yang profesional dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Menurut dia, prioritas jangka pendek yang penting adalah tidak melanjutkan kasus-kasus bernuansa kriminalisasi terhadap aktivis.

Terhadap proses di Senayan, Araf berharap DPR segera melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap Tito. Sebab, secara legal dan kompetensi serta track record, semuanya telah terpenuhi. ”Dalam konteks itu, DPR seharusnya fokus membahas agenda-agenda krusial bagi proses perbaikan Polri ke depan,” ucap dia.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjamin bahwa tidak ada gejolak dalam pengajuan Tito sebagai calon Kapolri. Semua jenderal bintang tiga tentu memiliki kemampuan untuk memimpin Polri. ”Dari segi akademik, manajerial, dan komunikasi, tepat memang memilih Tito,” kata dia.

Untuk lebih memuluskan jalan Tito sebagai Kapolri, dalam waktu dekat ada pertemuan internal skala staf di Polri. Pertemuan itu khusus untuk menjelaskan pemilihan Tito dan memastikan bahwa seluruh anggota Polri siap menerima instruksi presiden. ”Nanti akan dijelaskan semua,” ujarnya.

Soal Wakapolri untuk Tito, Badrodin mengaku tidak tahu. Tentu hal tersebut bergantung keputusan Kapolri selanjutnya. ”Itu bergantung Kapolri ke depan, bukan saya lagi,” jelasnya.

Sementara itu, dukungan atas pengajuan Tito sebagai Kapolri juga datang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Dia menuturkan, Tito punya prestasi yang gemilang. Prestasi itu bisa dilihat dari karir Tito di pendidikan Polri. ”Tito itu baik. Prestasinya banyak,” kata dia di Istana Wakil Presiden kemarin.

Dia pun yakin bahwa Tito bisa menjadi Kapolri yang membawa kepolisian lebih maju lagi. Secara khusus, JK menuturkan bahwa Tito juga punya pengalaman di lapangan yang tidak kalah hebat. ”Kami harapkan ini jadi dorongan bagi Polri supaya lebih baik lagi,” tutur dia. (idr/bay/jun/c11/agm)

Berita Terkait