Berpamitan Sekaligus Berbagi Pengalaman

Berpamitan Sekaligus Berbagi Pengalaman

  Senin, 7 May 2018 11:00
KUNJUNGI RSI UNISMA: Bupati Kayong Utara Hildi Hamid dan sejumlah rombongan ketika melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Islam Universitas Islam Malang (RSI Unisma), belum lama ini. HUMASKAB FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Hildi Hamid Berkunjung ke RSI Unisma

Kebanyakan kepala daerah berlomba dalam membangun rumah sakit. Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, justru sengaja mengulur. Walau diakui dia banyak yang kontra atas sikapnya dengan memperlambat pembangunan rumah sakit, dan cenderung mementingkan peningkatan pelayanan puskesmas.

BUPATI Kayong Utara ini masa jabatannya tinggal menghitung hari. Di akhir jabatannya, dia baru membangun rumah sakit. Untuk yang satu ini, dia tentu memiliki alasan tersendiri. Seperti yang diiungkapkannya saat kunjungan ke Rumah Sakit Islam Universitas Islam Malang (RSI Unisma), belum lama ini.

"Sengaja saya baru sekarang membangun rumah sakit. Alasannya, banyak hal. Alasan utama, masalah kesiapan sumber daya manusianya. Lebih baik puskesmas kita tingkatkan pelayanannya setara rumah sakit, daripada rumah sakit tapi pelayanan sekelas puskesmas," terang Hildi.

Bersama direktur dan jajaran RSI Unisma, Bupati berbagi pengalaman. Dikisahkannya, saat mengemban amanah sebagai Bupati defenitif pertama di Kayong Utara, dirinya dihadapkan dengan berbagai tugas berat. Disebutkan dia, mulai dari anggaran terbatas, minimnya infrastruktur, serta diperparah dengan sumberdaya manusianya yang tertinggal. Tak heran, baginya, membangun rumah sakit di Kayong Utara saat itu bukan skala prioritas. 

"Saya dihadapkan dua pilihan ketika memulai mengurus kabupaten yang resmi mekar dari Ketapang pada 26 Juni 2007. Antara infrastruktur dan sumber daya manusianya. Akhirnya, saya memilih peningkatan kualitas SDM lebih utama, sekalipun infrastruktur berjalan pelan," jelasnya lagi.

Karena itu, setelah dilantik sebagai kepala daerah pada 2008, program pendidikan dan kesehatan gratis langsung diterapkan. Semula, diakui dia, banyak yang komentar miring terhadap programnya karena menelan anggaran APBD cukup besar. Namun dirinya begitu konsisten menerapkan program sembari perlahan-lahan memberikan pencerahan kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan tersebut. 

Hildi mengakui, untuk dapat meningkatkan SDM memang harus dengan cara investasi pendidikan. Hasilnya, diakui dia, tidak spontan. "Jadi ada tiga hal, investasi bidang pendidikan, baru akan dapat dirasakan. Yaitu butuh waktu, butuh biaya besar, dan harus konsisten. Jadi kalau kita investasi pendidikan dan hasilnya ingin langsung dirasakan, itu mustahil. Butuh waktu berproses," urainya.

Sekarang, tambah dia, program pendidikan dan kesehatan gratisnya tak lagi dipandang sebelah mata. Kebijakannya itu disanjung masyarakat luas. Bahkan, kini tak sedikit masyarakat yang, menurut dia cemas, apakah program tersebut masih berlanjut sepeninggalnya. Karena, diungkapkan dia, manfaatnya banyak yang merasakan, setelah sudah hampir 10 tahun berjalan. 

Bahkan saat dialog dengan para mahasiswa Kayong Utara di Universitas Negeri Malang (UM), salah satu mahasiswa melontarkan pertanyaan mengenai infrastruktur apa yang belum direalisasikannya. Mendapat pertanyaan tersebut, Bupati kembali menantang para mahasiswa dan mempertanyakan infrastruktur apa yang sekarang belum ada di Kayong Utara. Dia menggambarkan kondisi di Kayong Utara yang ada saat ini sudah jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu. Saat awal menjabat, diakui dia, hanya ada dua gedung perkantoran di ibukota Kabupaten Kayong Utara, Sukadana, setelah lahir dari Ketapang. “Saat ini untuk fasilitas kantor pemerintah telah terpenuhi. Kondisi jalan kian baik dan pembukaan akses jalan baru guna memperluas kawasan kian bertambah. Bahkan, Kayong Utara sudah ada Polres dan menempati gedung megah. Bahkan, RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I di Sukadana akan diresmikan pada 9 Mei 2018 mendatang,” ungkapnya.

Sementara, Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara, Muhammad Sukardi, mengakui jika program pendidikan dan kesehatan gratis yang diterapkan Pemkab Kayong Utara selama ini sangatlah tepat. Karena, melalui program pendidikan gratis, diakui dia jika semangat bersekolah masyarakat meningkat drastis. Bahkan, sebagai orang kepulauan, tak dipungkiri dia, banyak anak-anak usia sekolah di wilayah kepulauan yang putus sekolah karena alasan ekonomi, kembali meneruskan proses belajar mengajar di bangku sekolah. 

“Alhamdulillah, saya salah satu anak dari Pulau Maya, merasakan langsung betapa sulitnya pendidikan saat itu. Namun sekarang adanya pendidikan gratis banyak kemudahan. Bahkan selama dua periode Hildi Hamid sebagai Bupati, telah berhasil mengubah peradaban Kayong Utara semakin antusias akan pendidikan. Tentu bagi saya selaku masyarakat, saya bangga, terlebih dengan program 10 Sarjana Perdesa ini," pungkas politikus Partai Demokrat tersebut. (dan)

Berita Terkait