Bermain Tema dan Rasa di Coffee Shop

Bermain Tema dan Rasa di Coffee Shop

  Jumat, 20 November 2015 08:13

Berita Terkait

Kopi bukan lagi konsumsi harian sebagian orang. Tidak juga sekadar penghilang kantuk. Minum kopi kini sudah naik kelas menjadi gaya hidup. Berbagai tempat tongkrongan berlabel coffee shop tumbuh di seantero Pontianak. Menunya lebih lengkap dan berkelas. Tentu dengan harga menu yang lebih tinggi daripada warung kopi kebanyakan.

STELSEL, sebuah kafe bergaya campuran western tahun 1970an dan 1980an, dengan dominasi ornamen dari bahan kayu di Jalan Putri Candramidi, Pontianak tampak ramai oleh para konsumennya, saat Pro Bisnis berkunjung ke sana. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda.

Mereka duduk di kursi-kursi kayu yang dibiarkan polos tanpa polesan, sembari menikmati kopi di sana. Poster-poster artis dan band di era itu, berseling dengan goresan kapur nan artistik menempel di sisi-sisi dinding interior kedai itu. Sementara mesin pembuat ekspreso dan mesin penggeling kopi berdiri berdampingan di atas meja barista.

Di sini tersaji Espresso, Cappuccino, Macchiato Caffè Latte dan lain-lain. “Beginilah kondisi tempat kami. Segmen kita sebenarnya umum. Tetapi kebanyakan kalau sore yang nongkrong pelajar. Sedangkan agak malam sedikit, yang datang banyak dari kalangan kantoran dan mahasiswa,” ujar Wildan Fadillah, salah seorang pemilik coffee shop ini kepada Pontianak Post, kemarin.

Dia bersama beberapa temannya membuka tempat ini setahun lampau. Inspirasinya adalah tempat-tempat sejenis yang tumbuh subur di Bandung. Selain itu, dia ingin menampilkan wujud kopi yang baru untuk masyarakat Pontianak.

“Pontianak itu terkenal dengan warung kopinya. Tetapi rata-rata konsepnya sama. Jenis kopinya juga robusta dengan sajian kopi hitam atau kopi susu saja. Kami ingin menampilkan variasi racikan kopi yang lebih premium, dan suasana tempat yang lebih tematik,” ungkapnya.

Wildan sendiri awalnya ragu untuk berbisnis coffee shop lantaran kebiasaan masyarakat Pontianak yang sangat akrab dengan warung kopi. Namun makin ke sini, ternyata semakin ramai. Belakangan usaha serupa mulai banyak berdiri di Pontianak. “Makin banyak saingan. Harga menu kita memang agak tinggi, tetapi kami menawarkan kualitas, dengan kopi pilihan. Kami juga berusaha bereksperimen menciptakan varian menu baru,” ujarnya.

Berapa omzet Stelsel? Wildan mengaku dalam sebulan pihaknya mampu meraup Rp30-35 juta. Angka tersebut juga berasal dari penjualan kopi bubuk produksi sendiri yang mereka pasarkan ke beberapa coffee shop di Pontianak. Sedangkan modal awal kedai ini hanya Rp90 juta, sudah termasuk sewa tempat, dekorasi, renovasi, peralatan dan lain-lain.

Kalau di Jalan Gajahmada terkenal dengan warung kopinya. Kawasan Putri Candramidi dan sekitarnya memang ramai dengan coffeeshop. Selain Stelsel adapula Country Café. Kafe ini mengambil tema country. Sebuah budaya masa lampau dari Amerika.

Owner Kafe Country, Ryan Satriadi mengatakan dirinya awalnya tertarik untuk membuka warung kopi tradisional. “Tapi di sini kebanyakan adalah kafe. Saya pikir kenapa tidak ikut saja bikin coffee shop. Karena untuk warkop sudah ada kawasannya di Jalan Gajah Mada. Mungkin Jalan Candramidi bisa dikhususkan untuk kafe dan coffee shop,” jelasnya. (Aristono, Pontianak)

Berita Terkait