Berlebaran Terpisah dari Pasangan

Berlebaran Terpisah dari Pasangan

  Sabtu, 2 July 2016 09:30

Berita Terkait

Setiap orang pasti bahagia bisa merayakan Idulfitri bersama pasangan hidupnya. Tetapi, terkadang keadaan tertentu memaksa seseorang merayakan lebaran terpisah dari orang yang dicintainya. Walaupun tak bersama, bukan berarti tak bisa menciptakan kebersamaan pada hari kemenangan itu.

Oleh: Marsita Riandini

Merayakan lebaran terpisah dengan suami pernah dirasakan Lina. Perempuan berusia 40 tahun ini terpaksa berlebaran sendiri karena sang suami mudik sendirian ke rumah orangtuanya.

“Kami tinggal di Pontianak. Saat lebaran, suami mudik ke Jawa Barat dan saya mudik ke rumah orangtua saya di Singkawang. Sudah dua kali kami berlebaran masing-masing,” ujar pegawai perusahaan swasta ini.

Keadaanlah yang memaksa Lina merayakan Idulfitri tanpa suami. Ketika itu ia dan suami baru menikah. Jelang lebaran, mertua Lina sakit. Keterbatasan biaya membuat sang suami harus mudik ke Jawa Barat sendiri. 

“Kalau pulang berdua ke Jawa, biayanya besar. Pesawat jelang lebaran kan mahal,” tutur Lina.

Tahun berikutnya, Lina juga terpaksa lebaran tanpa suami. Sang suami kembali mudik ke rumah orangtuanya dan Lina tak bisa ikut serta. “Karena saya sedang hamil. Jadi tak memungkinkan ikut suami ke Jawa,” jelas Lina.

Kendati lebaran terpisah, Lina tak begitu merasa sedih. Sebab, ia bisa merayakan hari kemenangan itu bersama orangtua dan saudara-saudaranya di Singkawang. Tali silaturahmi dengan mertua juga tetap terjaga.

“Saya dan suami terus telpon-telponan. Setiap hari berkirim kabar, sehingga tak ada masalah,” katanya.

Merayakan lebaran terpisah dengan pasangan menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan bersama. “Silakan saja jika itu menjadi pilihan. Sebab ada kondisi tertentu yang memaksa pasangan harus menjalani lebaran secara terpisah. Selama keputusan itu tidak menimbulkan masalah di dalam keluarga,” ujar Agus Handini, M.Psi, Psikoloh kepada For Her. 

Ada beberapa alasan pasangan memilih merayakan lebaran masing-masing seperti orang tua sakit. Bisa juga dikarenakan pekerjaan sehingga tidak memungkinkan salah satunya ikut, atau karena adanya kesepakatan bersama untuk lebaran dengan keluarga masing-masing. 

“Bisa saja ada pasangan yang memutuskan untuk lebaran di keluarga  masing-masing. Apalagi memang keduanya berasal dari daerah yang berbeda,” papar dosen IAIN Pontianak ini. 

Suasana lebaran akan terasa berbeda, jika ternyata Anda dan pasangan harus lebaran terpisah. Perempuan yang akrab disapa iin ini menuturkan ada beragam pertimbangan yang harus dipikirkan ketika memilih berlebaran terpisah. Pertimbangan pertama tentunya momen kebersamaan. Pastinya ada rasa sedih ketika melihat pasangan lain berkumpul, sementara Anda malah terpisah. Tetapi kebersamaan itu sebenarnya tidak harus bertemu secara fisik. Apalagi sekarang tekhnologi serba canggih. 

“Melalui video call bisa menikmati momen kebersamaan tersebut. Terpenting tetap merasakan kebersamaan di hati dan jiwa. Momen idul fitri pun tetap dirasakan,” ulas tenaga pengajar di Fakultas Kedokteran Untan ini. 

Pertimbangan lainnya, lanjut Iin, biaya yang akan dikeluarkan akan lebih besar. “Biaya akan besar. Ada pengeluaran di rumah juga. Itulah sebaiknya, ketika memutuskan lebaran di dua tempat, maka sudah diperhitungan biayanya jauh-jauh hari,” ucap dia. 

Lama waktunya pun harus ditentukan. Jika suami memilih lebaran di rumah, tentu ada kesibukan rumah tangga yang bisa ditanganinya. Meskipun suami bisa mengerjakan sendiri, tetapi masyarakat masih beranggapan bahwa urusan rumah tangga itu adalah pekerjaan istri.  

“Pastikan sebelum (istri) berangkat segala hidangan untuk tamu, dan keperluan lainnya sudah disiapkan. Apalagi jika anak juga ditinggal, tentu semakin berat tanggung jawab suami,” tuturnya.

Ia menyarankan lama keberangkatan maksimal hanya tiga hari saja. Komunikasi dengan pasangan tetap harus berjalan. Jangan sampai larut di kampung halaman, lupa dengan pasangan yang ditinggalkan. 

“Tetap menjaga komunikasi setiap harinya. Sebab itu penting, meskipun tidak bersama secara fisik, tetapi perhatian selalu ada,” pungkas dia. **

Berita Terkait