Berkenalan dengan Penjaga dan Penggali Kubur

Berkenalan dengan Penjaga dan Penggali Kubur

  Minggu, 26 May 2019 09:26
PADAT: Begitu padatnya penghuni kompleks pemakaman di TPM Al Ikhlas, Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota. SHANDO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tak Pernah Alami Pengalaman Aneh

Sudah lebih dari seperempat abad Safarudin (54) mengabdikan diri sebagai penjaga sekaligus penggali kubur. Lisan-lisan di Taman Pemakaman Muslim (TPM) Al Ikhlas, Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, menjadi saksi bisu perjuangannya menghidupi diri dan keluarga. Ribuan makam telah ia gali, untuk kemudian dijaga dan dirawat. 

SITI SULBIYAH, Pontianak

SENYUMAN terbit dari wajah Safarudin saat ia menerima santunan dari salah satu perusahaan milik daerah di Kota Pontianak, Sabtu (25/5). Amplop putih pemberian perusahaan tersebut ia lipat, untuk kemudian dikantongi di saku kemejanya. Ia pun mengucap syukur.

“Alhamdulillah, dapat tambahan untuk beli kubutuhan sehari-hari,” tutur Udin, sapaan akrabnya.

Hari itu, tak ada jenazah yang akan dimakamkan. Udin dan putra sulungnya sedikit bisa lebih bersantai. Biasanya dalam sehari, minimal ada satu jenazah yang di kuburkan di TPM tersebut. Atau paling tidak, ia mendapat pekerjaan untuk menebas rumput atau bikin tambak. 

Udin menceritakan, sejak masih berstatus lajang, ia telah bekerja sebagai penggali dan penjaga kubur di sana. Profesi itu mampu menghidupi keluarganya. Bahkan, anak sulungnya yang telah beranjak dewasa, kini turut membantunya menggali dan merawat kuburan. 

Udin tak memiliki penghasilan tetap. Pemasukannya berasal dari perkerjaannya menggali kubur, menebas rumput, serta membuat tambak. Untuk upah sekali menggali kubur, Udin dan timnya biasa menerima Rp500 ribu – Rp600 ribu. “Yang menggali itu kurang lebih empat sampai lima orang. Jika dibagi rata, masing-masing kami dapat sekitar Rp100 ribu,” kata dia. 

Sementara untuk upah menebas rumput, besarnya, diakui dia, tidak menentu. Udin menyebut, rata-rata ahli waris memberi upah sebesar Rp50 ribu untuk satu kuburan. Kadang ia pun hanya diberi rokok. Sedangkan untuk pembuatan tambak kuburan, biayanya tergantung kesepakatan dengan ahli waris. Untuk semua jasanya itu, ia tak menetapkan upah minimal. “Intinya berapa pun yang diberi, saya terima. Seikhlas ahli waris saja,” kata dia.

Penggali kubur di TPM tersebut tidak hanya Udin. Ada lagi beberapa penggali lainnya yang juga bertugas di sana. Mereka sudah memiliki wilayah kerja masing-masing. Udin sendiri mendapat jatah penguburan di bagian tengah. Sementara penggali lainnya, ada yang di bagian depan, ada pula di bagian belakang. Mereka bekerja dengan tim penggaliannya masing-masing.

Dalam satu bulan, rata-rata penghasilan mereka sebagai penggali kubur berkisar Rp1,5 juta – Rp2 juta. Meski tak terlalu besar, Udin mengaku bersyukur, lantaran masih mencukupi kebutuhannya sehari-hari. “Penghasilan yang hampir Rp2 juta, untuk kebutuhan sehar-hari keluarga masih bisa tertutup,” kata dia.

Rumah Udin masih berada di area yang sama di TPM tersebut. Rumah berkonstruksi kayu itu dihuni oleh dirinya, istri, dan keempat anaknya. Meski tinggal di area pemakaman, ia dan keluarga tidak merasa takut. Kejadian-kejadian mistis pun diakuinya tidak pernah ia alami. Pun saat ia memakamkan, juga tidak pernah ada kejadian yang di luar nalar manusia.

“Tidak ada yang aneh-aneh, seperti yang sering dibuat dalam cerita-cerita di televisi itu. Mayat yang diazablah, kuburannya yang sempitlah. Gak pernah ada yang seperti itu,” tutur Udin sambil tertawa. 

Namun memang diakuinya ada beberapa kendala yang dihadapi. Terutama ketika ingin mencari tempat yang belum pernah ada jenazah yang terkubur. Terlebih TPM Al Ikhlas kini semakin padat. Saat ada pesanan untuk menguburkan mayat, ia selalu kesulitan mencari lokasi yang kosong. 

“Seringnya itu saat menggali kubur, ternyata kena makam orang. Terpaksa harus kami tutup lagi, dan cari lokasi lain,” curhat dia

Dia pun berharap ada penataan makam-makam yang ada di sana, terlebih lokasi yang kosong sudah semakin sempit. Di samping itu, pengelolaan dan manajemen TPM juga perlu diperbaiki. (*)

Berita Terkait