Berkas Kasus Penyelundupan Antimoni Lengkap

Berkas Kasus Penyelundupan Antimoni Lengkap

  Sabtu, 16 March 2019 10:26
DIAMANKAN: Antimoni yang diangkut sebuah dumptruck dan berhasil diamankan tim gabungan TNI-Polri, yang sedang melaksanakan patroli gabungan pada 28 November 2018 lalu di perbatasan Badau. TNIAD.MIL.ID

Berita Terkait

Jaksa Tahan Tiga Tersangka

 

PUTUSSIBAU – Berkas perkara tiga tersangka penyelundupan antimoni ke Malaysia dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kapuas Hulu, kemarin. Jaksa juga menahan tiga tersangka.

Setelah dilakukan penelitian berkas oleh jaksa, berkas perkara penyelundupan hasil tambang antimoni atas nama Saparudin, Rinda Yudi dan Mahadi akhirnya dinyatakan lengkap. Hal tersebut diakui Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidus) Kejari Kapuas Hulu, Ricki, kemarin, di Kantor Kejari. Menurut Ricki, selain menyatakan kelengkapan berkas perkara, pihaknya juga melakukan penahanan terhadap tiga tersangka.

“Sebelumnya hanya dua yang ditahan. Sedangkan satu tersangka Mahadi, menjadi tahanan kota, karena alasan sakit. Nah, pada tahap II ini, ketiganya kami lakukan penahanan di Rutan (Rumah Tahanan) Putussibau,” paparnya. Pihaknya secepatnya akan berkoordinasi dengan Pengadilan Negeri (PN) Putussibau untuk menentukan jadwal persidangan.

Kasus penyelundupan bahan tambang yang satu ini terjadi pada November 2018 lalu. Kasus tersebut menyeret Saparudin, kepala Dusun Betung, Desa Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung; Rinda Yudi, sopir; dan Mahadi, pegawai Negeri Sipil (PNS) di BNPP Nanga Badau. Selain tiga warga sipil tersebut, ada dugaan juga melibatkan warga asing bernama Chao, selaku pemodal.

Penyidik Kepabeanan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Nanga Badau, Jufri Sianturi mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pencekalan terhadap warga asing tersebut. “Hasil dari pemeriksaan salah satu tersangka ada yang menyebutkan Mr. C ini terlibat. Dia sebagai pemodal. Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pencekalan terhadap yang bersangkutan,” kata Jufri kepada Pontianak Post.

Menurut Jufri, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi dan berbagai instansi lainnya. Mereka juga sudah mengirim surat ke Ditjen Imigrasi dan Kedutaan Besar di Jakarta. “Kami juga sudah kirim surat. Hanya saja, sampai sekarang belum ada respons,” paparnya.

Terkait dengan kelengkapan berkas perkara dan tahap II, dirinya membenarkan. “Benar. Sudah kami serahkan ke jaksa,” katanya singkat.

Kasus penyelundupan antimoni tersebut juga mengundang reaksi keras warga perbatasan di wilayah kabupaten ini. Mereka mempertanyakan keseriusan penanganan kasus dugaan peneyeludupan hasil tambang tersebut, di perbatasan Indonesia – Malaysia, di mana sampai saat ini belum masuk ke meja persidangan.

“Sejak November 2018 lalu kasus tersebut, sampai sekarang belum masuk persidangan. Semacam ada kejanggalan dalam penanganan hukum,” sindir Selpanus Yanto, warga perbatasan. Yanto menyayangkan lambannya penanganan hukum oleh pihak terkait dalam kasus baru antimoni yang akan di seludupkan ke negara Malaysia. “Semacam ada perbedaan, apabila masyarakat biasa yang tersandung hukum, dengan cepat proses hukum berjalan,” kata Yanto.

Hal senada dikatakan warga Kecamatan Badau, Petrus (36) mengatakan, secara kasat mata ada keanehan dengan lamanya proses hukum kasus dugaan penyeludupan batu antimoni ilegal itu. “Bayangkan saja, kasus itu sejak November 2018, sekarang ini sudah Maret 2019, belum juga masuk persidangan. Apakah ada upaya mengulur waktu, karena itu melibatkan oknum ASN dan dugaan oknum aparat?” ucap Petrus. 

Sebelumnya, Ketua Serakop Uban Perbatasan (Sipat), Herkulana Sutomo Manna, juga meminta agar kasus itu segera dituntaskan. “Jangan ada perbedaan di mata hukum. Siapa pun yang terlibat dalam kasus itu harus diungkap, keadilan harus ditegakkan,” katanya.

Dikatakan Sutomo, dalam kasus dugaan penyelundupan itu, Bea Cukai harus menegakkan supremasi hukum, apabila ada oknum petugas dan aparat terlibat segera ditindak. Dia menduga ada keterlibatan oknum-oknum tertentu, namun yang selalu dijual dan dikorbankan adalah masyarakat kecil.

“Kita tidak ingin petugas tegas kepada masyarakat kecil dan kasus kecil, tetapi dalam kasus yang cukup besar itu justru hukum terlihat tumpul. Itu terbukti sudah hampir tiga bulan dalam kasus dugaan penyelundupan batu antimoni, belum juga ada tersangkanya,” tegas Sutomo.

Pria yang juga Ketua Presidium Pemekaran Kabupaten Banua Landak itu berharap kasus dugaan penyelundupan batu antimoni, segera menuju meja hijau. “Jangan hanya sopirnya yang ditangkap, tetapi pemilik dan pemodal batu antimoni itu juga harus ditangkap. Saya yakin petugas mengetahui hal tersebut. Karena itu bukanlah rahasia umum lagi,” ucap Sutomo.

Sebelumnya Komandan Batalyon Satgas Pamtas Yonif 320/Badak Putih, Letkol Inf. Imam Wicaksana mengungkapkan bahwa dalam penangkapan itu, tim gabungan mengamankan satu unit truk. Kendaraan yang dimaksud dia mengangkut bongkahan batu antimoni secara ilegal di jalan tidak resmi Desa Sebindang, Kecamatan Badau. 

Dijelaskan Imam, kendaraan jenis dumptruck itu ditangkap bersama sopirnya bernama Rinda Yudi (24), sekitar pukul 09.00 WIB. Penangkapan tersebut berlangsung ketika tim gabungan TNI Pamtas bersama Polres Kapuas Hulu melakukan patroli bersama di jalan tidak resmi.

Menurut Imam, batu antimoni itu berasal dari daerah Riam Menggelai, Kecamatan Boyan Tanjung. Hasil tambang tersebut, menurutnya, diangkut ke Putussibau untuk kemudian dibawa ke perbatasan dan seludupkan ke Malaysia. “Sopir itu mengambil batu antimoni ke Putussibau yang berasal dari Boyan Tanjung dengan upah Rp600 ribu,” jelas Imam.

Lebih lanjut Imam mengungkapkan bahwa truk mengangkut antimoni itu melintasi pos satpam perumahan perkebunan kelapa sawit, menuju jalan tidak resmi untuk bongkar muat di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia. Pada pukul 09.50 WIB, sopir pengangkut batu antimoni ini bertemu dengan tim mereka yang sedang patroli. 

“Jadi sopir bersama truk berisikan bongkahan batu antimoni itu ditahan dan kepada sopir dilakukan pemeriksaan, yang kemudian akan diserahkan kepada pihak Bea Cukai Badau dan kasus tersebut masih dalam pengembangan,” ucap Imam. 

Disampaikan Imam, jumlah batu antimoni yang tertangkap itu kurang lebih 4,5 ton, dengan harga USD50 dolar perkilogram, dengan perkiraan kerugian negara sekitar USD225 ribu. 

Dijelaskan Imam, batu antimoni itu biasanya digunakan untuk membuat senjata ringan dan peluru peledak (tracer bullets), detektor inframerah, dan beberapa kegunaan lainnya. “Jadi antimoni itu banyak kegunaannya dan apabila itu disalahkangunakan, bukan hanya merugikan negara, namun sekaligus ancaman untuk negara,” kata Imam. (arf)

Berita Terkait