Berkah Candi Negeri Baru

Berkah Candi Negeri Baru

  Minggu, 24 July 2016 10:40   1
CANDI: Arkeolog disaksikan warga Negeri Baru menggali tanah untuk mencari sisa bangunan candi untuk dilakukan penelitian. (istimewa)

Oleh: Imam Hindarto

ENAM tahun yang lalu, ketika terdengar berita penemuan candi di Negeri Baru, orang berbondong-bondong berdatangan. Beberapa orang sempat melakukan ritual untuk mendapatkan berkah. Kini, candi telah dibangunkan kembali. Menunggu para pencari berkah dari puing runtuhan bata.

Berkah yang paling jelas tampak pada para juru parkir. Dalam satu hari mereka mampu meraup ratusan ribu rupiah. Begitu pula para pedagang minuman di sekitar candi yang kebanjiran pelanggan baru. Betapa ramainya perputaran uang pada waktu itu. Meskipun hanya dalam hitungan hari dan dalam skala mikro, cukup mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitar candi.

Sementara bagi arkeolog ataupun sejarawan, berkah yang utama adalah sebuah penemuan baru dalam penelitian arkeologi di Kalimantan. Hingga kini, temuan yang diindikasikan sebagai candi hanya ditemukan di Amuntai dan Margasari. Keduanya berada di Kalimantan Selatan. Terdapat pula di wilayah Malaysia yaitu, di daerah Santubong. Penemuan candi ini merupakan peluang dan tantangan bagi para arkeolog ataupun sejarawan untuk membukatabir gelap sejarah kuno Kalimantan.

Sejak penemuan candi di Negeri Baru cukup banyak yang mencoba menginterpretasi keberadaannya. Kebanyakan dari masyarakat menyandarkan pada cerita tutur yang berkembang secara turun-temurun. Namun demikian, perlu ditelisik berbagai sudut pandang yang lain. Salah satunya dalam gaya arsitektur candi.

Berdasarkan denahnya, Candi Negeri Baru menunjukkan gaya candi-candi di Jawa Timur. Ciri utamanya adalah bangunan grbha graha yang menjorok ke belakang. Apabila merujuk pada Negarakrtagama, tampak daerah Sukadana, Melano, Tanjungpura, dan Kendawangan merupakan vasal dari Majapahit.

Fenomena budaya Majapahit muncul pula pada batu nisan di Makam Keramat Tujuh dan Sembilan. Bentuk batu nisan pada kedua makam tersebut juga ditemukan di Makam Troloyo. Makam ini berada di lingkungan Keraton Majapahit. Penanggalan yang dipahatkan pada batu nisan menggunakan angka Jawa Kuna dengan tahun Saka. Angka tahun tersebut berkisar abad ke-15 M. Hal ini memperkuat dugaan keberadaan budaya Majapahit yanghadir di wilayah Ketapang.

Candi Negeri Baru merupakan tonggak kemajuan dalam rancang bangun arsitektur. Keletakkan dan desain bangunan candi mengacu pada kitab Manasara Silpasastra. Kitab ini mengatur keselarasan rancang bangun arsitektur candi dengan alam kedewataan. Keharmonisan tersebut menunjukkan kearifan dan kepribadian masyarakat yang membangunnya.

Budaya baru yang berkembang di Ketapang didukung oleh dua aspek, yaitu lokasi geografi dan kepribadian masyarakat. Wilayah Ketapang mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu keberadaan laut dan akses pedalaman. Garis pantai wilayah ini cukup panjang dan merupakan akses keluar-masuk antara Laut Jawa dengan Laut Tiongkok Selatan. Perniagaan dengan wilayah mancanegara sudah lama dilakukan melalui jalur ini. Wilayah pedalaman yangdidukung Sungai Pawan memungkinkan pertukaran barang-barang dagangan baik dari dalam maupun luar. Nilai kewilayahan tersebut mampu mendorong interaksi budaya hingga muncul dan berkembang budaya baru.

Tidak kalah pentingnya adalah keterbukaan masyarakat terhadap pendatang dari luar berikut budayanya. Masyarakat Ketapang masa lalu mampu menerima budaya baru. Hal ini tercermin padakeberadaan candi yang merupakan produk budaya luar. Bahkan, keberadaan candi yang mencirikan budaya Hindu/Budha diapit oleh dua komplek makam Islam yang sejaman. Dua karakter budaya ini dapat hidup berdampingan dengan harmonis. Pelajaran dari masa lalu ini merupakan modal utama dalam pembangunan kualitas hidup masyarakat di Ketapang.

Candi Negeri Baru berada pada konteks sistem budaya yang berbeda dengan sebelumnya. Artinya, candi ini ditemukan dalam kondisi sudah tidak ada pendukung budayanya. Kendati demikian, apakah tidak mungkin berkah dari candi tersebut masih tersisa. Jawaban atas pertanyaan tersebut tergantung apakah kita masih mau mengelola candi itu. Berkaca pada enam tahun lalu ketika candi mulai ditampakkan. Meskipun hanya beberapa bulan dan setelah itu ditimbun kembali. Berkah tersebut masih ada untuk masyarakat di sekitarnya.

Pengelolaan Candi Negeri Baru dapat dilakukan pada tiga aspek, yaitu nilai, fisik bangunan, dan fungsi baru. Pengelolaan nilai-nilai penting dari candi dapat dilakukan melalui penelitian interdisipliner. Nilai yang menunjukkan kearifan budaya yang direpresentasikan candi kemudian dapat ditransformasikan melalui sistem pendidikan. Pemahaman akan nilai kearifan budaya ini merupakan pilar utama dalam pembangunan karakter budaya masyarakat. 

Aspek pelestarian fisik bangunan candi dilakukan denganmelindungi bangunan tersebut dari ancaman kerusakan. Bangunan ini merupakan penanda jaman yang khas. Sebuah tanda simbolis yang menunjukkan keberadaan budaya yang luar biasa pada masa sebelumnya.

Pada aspek fungsi, candi perlu ditempatkan pada konteks budaya sekarang. Pemfungsian dapat dilakukan dengan pembangunanopen site museum dan pengembangan pariwisata budaya.Kunjungan wisatawan ke Situs Negeri Baru akan memberikan nilai edukatif dan rekreatif. Bagi masyarakat di sekitarnya, akan mendapatkan keuntungan bila mampu mengembangkan ekonomi kreatif.  

Upaya mendapatkan berkah dari Candi Negeri Baru tidak bisa dilakukan oleh beberapa pihak saja. Diperlukan kerjasama yang sinergis dan terkoordinasi dari berbagai kalangan. Tidak cukup dari pemerintah saja, masyarakat setempat sebagai pewaris juga harus terlibat aktif.

Kerja sama dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. Langkah awal telah dipelopori Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dengan melaksanakan program Rumah Peradaban. Program ini bertujuan untuk mengelola Situs Negeri Baru secara sinergis dan berkelanjutan. Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan program ini. Alhasil, berkah dari Candi Negeri Barupun akan segera diperoleh.

 

Anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indoonesia (IAAI) Komda Kalimantan Selatan