Berjuang Menyatukan Penibung

Berjuang Menyatukan Penibung

  Jumat, 3 May 2019 10:44
PULAU PENIBUNG: Pulau penibung di Kabupaten Mempawah terlihat dari ketinggian. Pulau ini terpisah dari daratan karena abrasi beberapa tahun silam. Jika dikelola kembali, pulau ini berpotensi menjadi salah satu tempat wisata.

Berita Terkait

MEMPAWAH - Penanganan dan penanggulangan abrasi pantai Desa Pasir dilakukan sejak tahun 2011 lalu. Upaya ini bermula dari gagasan dibentuknya Mempawah Mangrove Conservation (MMC). Saat itu, Raja Fajar Azansyah, Koordinator MMC, dan rekan-rekannya khawatir melihat abrasi yang terus mengikis wilayah daratan Desa Pasir.

“Munculnya ide mendirikan MMC karena kepedulian kami terhadap dampak abrasi pantai di Kabupaten Mempawah, termasuk di Desa Pasir. Kami memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satunya adalah dengan menanam mangrove,” ucap Fajar.

Pria yang kini menjabat Kepala Bidang Pariwisata di Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah itu mengaku tahu betul kondisi pesisir di Kabupaten Mempawah. Sebab, ia dan rekan-rekannya yang mendirikan MMC juga bermukim di wilayah itu.

“Bahkan, rekan-rekan kami juga pernah mengalami dan merasakan dampak abrasi tersebut,” katanya. Fajar menerangkan, upaya penanaman mangrove dilakukan secara mandiri. Dia dan rekan-rekannya melakukan pembibitan dengan memanfaatkan propagul yang ada di wilayah sekitar. 

Pada dua tahun pertama, mereka menggunakan dana pribadi. Barulah pada tahun ketiga, pihaknya mendapatkan dukungan dan bantuan dari pihak lain melalui program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan.

“Namun tantangan yang paling besar yakni mengedukasi masyarakat agar tidak menebang mangrove,” imbuhnya.

Di awal-awal, ia mengaku kesulitan mengajak masyarakat untuk ikut menanam mangrove. Namun seiring waktu, Fajar dan kawan-kawan bisa membuktikan keberhasilan konservasi mangrove di pesisir pantai. Akhirnya, pemahaman masyarakat pun mulai tumbuh. Kini sudah tidak ada lagi yang menebang pohon mangrove untuk dijadikan kayu bakar.

Sejak tahun 2011 hingga sekarang, MMC telah menanam kurang lebih 300 ribu pohon mangrove di pesisir pantai Kabupaten Mempawah. Upaya konservasi pun sudah lebih massif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Untuk satu hektare hutan mangrove dibutuhkan 10 ribu pohon, maka kawasan yang sudah tertanam saat ini sekitar 30 hektare. Mudah-mudahan dapat terus bertambah secara alami,” katanya. 

Seiring waktu, upaya konservasi mangrove terus berkembang dan menjadi berkah. Bahkan, MMC mengembangkan wilayah konservasi menjadi ekowisata hutan mangrove di Kabupaten Mempawah yang diberi nama Mempawah Mangrove Park (MMP) di Desa Pasir. Kini, MMP menjadi daya tarik wisatawan lokal bahkan mancanegara.

“Berkembangnya mangrove menjadi tempat wisata bermula ketika kami melakukan kampanye Save Mangrove dari sekolah ke sekolah. Dengan adanya hutan mangrove menjadi ekowisata, maka kami tidak lagi sulit mengampanyekan mangrove ke lingkungan sekolah. Mereka datang sendiri ke MMP. Setiap pengunjung otomatis mendapatkan edukasi tentang hutan mangrove,” pendapatnya.

Meski telah berhasil melakukan konservasi, mengedukasi masyarakat hingga membangun ekowisata hutan mangrove, Fajar dan rekan-rekannya tidak melupakan mimpi besar untuk mengembalikan daratan Pulau Penibung. Namun, dia mengatakan butuh kerja keras dan komitmen semua pihak.

“Kami tidak mau memberikan harapan berlebihan. Paling tidak, Pulau Penibung bisa lebih dekat dengan daratan. Saat ini, kami sudah mendapatkan 100 meter lahan baru yang terbentuk dari hutan mangrove. Ini menjadi bukti bahwa menyatukan Pulau Penibung bukan hal yang mustahil,” tegasnya.

Untuk mewujudkan mimpi itu, Fajar memperkirakan butuh waktu yang panjang. Dia mengilustrasikan, untuk 100 meter daratan yang tercipta dari hutan mangrove dibutuhkan waktu penanaman sekitar tujuh tahun dengan total pohon sekitar 200 ribu batang.

“Jadi, untuk mencapai Pulau Penibung kita butuh menanam jutaan pohon mangrove. Namun, mimpi ini tidak mustahil. Sebab, sejumlah pihak siap memberikan dukungan. Tinggal bagaimana kita menyakinkan mereka bahwa dana yang dialokasikan untuk konservasi direalisasikan dengan maksimal,” pendapatnya. (wah)

 

 

Berita Terkait