Berjuang Lawan Hoaks

Berjuang Lawan Hoaks

  Selasa, 11 September 2018 11:04
Nazwin Achmad // Kepala LPP RRI Pontianak

Berita Terkait

Tak mudah mempertahankan media komunikasi radio. Apalagi teknologi terus berkembang dan sangat mudah mendapatkan informasi lewat internet. Namun, semua itu tak menyurutkan langkah Nazwin Achmad untuk memberikan yang terbaik bagi pendengar setia RRI Pontianak. Bersama rekan-rekannya, dia berupaya agar RRI tetap jadi media komunikasi massa yang dekat di hati dan dinikmati masyarakat Kalbar. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Selama 25 tahun Nazwin Achmad mengabdi di Radio Republik Indonesia (RRI). Dimulai penyiar hingga akhirnya fokus di perencanaan siaran. Di divisi perencanaan siaran, pria berkaca mata ini terus belajar demi mengasah dan mengembangkan pengetahuan. Dia juga mengimbangi dengan memperkuat bidang implementasi. 

RRI adalah media komunikasi massa yang berbeda dibandingkan dengan radio lainnya. Pengetahuan dan penguatan implementasi membuat RRI terus memegang prinsip memberikan berita yang independensi  dan netralitas. Kedua hal ini selalu dijaga RRI dan kerap jadi tantangan tersendiri dalam melayani siaran berita. Karena tak mudah untuk mendapatkan penerimaan dari seluruh lapisan masyarakat. 

Namun, bukan berarti menguatkan independensi dan netralitas membuat RRI tak belajar dan menerima hal-hal baru yang ada. Ditemui di Graha Pena Pontianak Post, Rabu (5/9), pria yang pernah menjabat sebagai Kepala LPP RRI Palangkaraya dan Biak ini mengatakan RRI juga melakukan proses pembelajaran dan melihat perbandingan pola dari radio lain. Baik yang berada di dalam maupun luar negeri, seperti di Swedia, Jepang, Australia, dan negara lainnya. 

“Dengan ini, RRI berkesempatan menjadi media yang diterima dan diperlukan keberadaannya oleh masyarakat, khususnya Kalbar,” ujarnya. 

Sejak menjadi LPP pada tahun 2005, banyak perubahan yang dialami RRI, baik struktur maupun pengolahan konten. Meski harus mengikuti perkembangan zaman untuk selalu memberikan sesuatu yang baru, RRI juga harus berjuang melawan berita bohong (hoaks) yang terus beredar selama tiga atau dua tahun belakangan ini. RRI selalu berupaya menjadi media yang dapat dipercaya, tak mudah terprovokasi, dan tetap berkewajiban menjaga netralitas dan idependensi. 

Pria kelahiran Medan, 12 Juni 1965 ini menuturkan sejak tahun 2011 RRI sudah mengelola empat program, yakni PRO 1, PRO 2, PRO 3, dan PRO 4 yang disesuaikan dengan segmentasi pendengarnya. PRO 1 dengan segmentasi untuk seluruh masyarakat. PRO 2 dengan segmentasi anak muda. PRO 3 dengan segmentasi meliputi seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Dan, PRO 4 dengan segmentasi program budaya. Karena budaya adalah potensi bangsa yang harus dikelola.

Respon masyarakat terhadap segmentasi cukup baik. Media harus bergerak selaras dengan teknologi dan perkembangan yang dibutuhkan masyarakat dalam rangka bermedia. 

“Mau tidak mau meski dikenal sebagai radio republik, RRI harus mengikuti tren yang sedang berkembang,” kata Nazwin.

Misalnya, pada PRO 2, RRI berusaha melayani anak muda dengan masuk di venue-venue anak muda. Mengusung dengan konteks kekinian, tapi kemasan khas RRI.  Ada juga program RRI 30 detik, dimana masyarakat bisa mengirim kejadian yang ditemukan. Sebelumnya, tim RRI akan menyeleksi lebih dulu sebelum mengunggah. Hal ini sangat membantu untuk berbagi peristiwa yang sedang terjadi di daerah. 

Perkembangan media, baik internet, cetak, online, dan visual memiliki tantangan tersendiri sehingga harus memiliki dan memperkuat karakter. RRI juga sudah terjun pada perkembangan teknologi media, yakni membuat aplikasi RRIplay. Mendengarkan radio bisa dimana dan kapan saja. Cukup bermodalkan gadget, pendengar bisa menikmati siaran RRI melalui aplikasi ini. RRIplay juga membantu Nazwin memonitor kantornya. 

“Selain RRIplay, rencananya RRI juga akan meluncurkan RRInet, dimana tak hanya sekadar mendengar, pendengar setia radio juga bisa melihat secara visual,” jelasnya. 

Anak kelima dari delapan bersaudara ini sangat senang ketika RRI ditunjuk langsung sebagai lisensi radio broadcast FIFA World Cup 2018 Russia. Penunjukan ini dinilai dari hasil riset audiens yang menunjukkan bahwa RRI memiliki pendengar paling besar di seluruh Indonesia. Siaran radio juga dikhususkan bagi penyandang tuna netra agar dapat mengikuti kegiatan sepak bola di Russia lewat radio. Penyandang tuna netra sangat antusias dan mengapresiasi. 

Selain itu, bagi masyarakat lainnya, RRI juga sempat mengadakan pesta bola, menonton bersama di kantor RRI seluruh Indonesia. Pesta bola ini menguatkan RRI yang turut andil dan dekat dengan masyarakat. Setelah FIFA World Cup 2018, RRI juga mengulang kesuksesan menjadi media broadcast penyiaran Asian Games 2018. Sistem penyiaran yang dilakukan sama. 

“RRI turut menyiarkan kegiatan yang baru hadir di Indonesia setelah 56 tahun lalu agar bisa diketahui masyarakat,” timpal Nazwin.**

Berita Terkait