Berjalan Kaki Cari Keadilan, Indra Temui Wakil Gubernur

Berjalan Kaki Cari Keadilan, Indra Temui Wakil Gubernur

  Sabtu, 4 June 2016 10:54
CHAIRUNNISYA/PONTIANAKPOST TEMU: Indra Azwan bertemu Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya.

Indra Azwan tak muda lagi. Tepatnya berumur 57 tahun. Di usia yang lebih dari setengah abad itu ia terus berkeliling Indonesia dengan berjalan kaki. Tujuannya hanya satu yakni mencari keadilan atas kasus kematian putra sulungnya, Rifki Andika. Kemarin, Jumat (3/6), ia mendatangi Kantor Gubernur Kalbar dan ingin bertemu Gubernur Cornelis.

CHAIRUNNISYA, Pontianak

KEDATANGAN Indra begitu menarik perhatian. Ia mengenakan topi kupluk biru dan berbaju kaos hitam. Pria asal Malang, Jawa Timur ini terlihat mencolok karena membawa bendera merah putih dan spanduk. Ada dua spanduk kuning tergantung di lehernya. Pada bagian depan bertuliskan Aksi Jalan Kaki Keliling Indonesia. Pada bagian punggung bertuliskan Terima Kasih Mahkamah Agung yang Menambah Penderitaan Saya 23 Tahun Mencari Keadilan.

Saat memasuki Kantor Gubernur Kalbar, Indra bertemu pamong praja. Ia pun mengutarakan maksudnya bertemu Gubernur Cornelis. Tetapi, orang nomor satu di provinsi ini sedang tak berada di kantor. Indra pun diarahkan menghadap Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya.

Cukup lama Indra menunggu. Tak lama, pintu ruang kerja Christiandy pun terbuka. Indra segera masuk dengan membawa berkas-berkasnya. Christiandy pun menyambutnya dengan ramah.

“Tetapi maaf pak, saya bukan Pak Cornelis. Saya Christiandy, wakil gubernur,” ujar Christiandy memperkenalkan dirinya.

Bukan tanpa alasan Christiandy berkata demikian. Sebab dalam kertas yang dibawanya bertuliskan Indra Azwan Ingin Temui Gubernur Cornelis.

“Tak masalah pak. Di setiap daerah yang saya datangi, saya bisa bertemu gubernur, wakilnya, atau sekda. Yang penting ada yang menerima saja,” ungkap Indra.

Dengan suara bergetar Indra pun menceritakan kedatangannya ke Kalbar kepada Christiandy. Pada 23 tahun lalu, anak sulungnya Rifki Andika menjadi korban tabrak lari seorang perwira polisi bernama Kompol Joko Sumantri. Sang anak pun meninggal dunia. Tetapi Indra tak merasa tak mendapat keadilan atas kejadian itu. Kasusnya baru disidik pada 2004 dan disidangkan di Pengadilan Militer di Surabaya pertama kali pada 2006. Hasilnya, penabrak diputus bebas pada sidang kedua di tahun 2008 karena kasus dianggap kedaluwarsa.

Niat Indra untuk mencari keadilan pun tak surut. Ia melakukan perjalanan dengan rute dari Malang ke Jakarta pada 2010 selama 22 hari. Ketika itu ia bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tepatnya pada 10 Agustus 2010. Selanjutnya melakukan perjalanan kedua dari Malang ke Jakarta pada 2011. Pada 2012 melakukan perjalanan ke Mekah selama satu tahun 25 hari. Pada 2013 kembali melakukan perjalanan dengan rute Malang-Jakarta.

Sejak 9 Februari 2016 Indra melakukan perjalanan berkeliling Indonesia. Dimulai dari Aceh hingga akhirnya tiba di Kalbar. Di Kalbar, sebelum bertemu pejabat Pemprov Kalbar, Indra menumpang di Sekretariat Walhi.

“Jika bertemu presiden, saya maunya ada hitam di atas putih. Tak hanya omongan seperti pejabat sebelumnya. Tidak bisa dipegang janjinya,” kata Indra.

Indra mengaku pernah disuap oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan nominal Rp25 juta. Tetapi uang itu ia kembalikan dan melaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya menuturkan dari sisi pemerintahan pihaknya tak boleh bertindak di luar jalur hukum. “Pemerintah Kalbar tak bisa mencampuri konteks hukum. Tetapi sebagai wujud saudara sebangsa dan setanah air, saya turut prihatin,” kata Christiandy, kemarin.

Christiandy mengapreasiasi perjuangan Indra dalam mencari keadilan. “Saya punya anak dan memahami benar. Mudah-mudahan ada solusi hukumnya,” ungkap Christiandy. (uni)