Berharap Solusi Pemerintah

Berharap Solusi Pemerintah

  Minggu, 30 December 2018 09:08
MENJEMUR: Anak-anak di Desa Tanjung Harapan membantu orang tuanya menjemur kopra.

Berita Terkait

PETANI kopra telah menempuh sejumlah upaya guna mengatasi anjloknya harga kopra yang terjadi sejak enam bulan terakhir. Mulai dari menemui Pemerintah Provinsi Kalbar hingga menyurati Gubernur. Upaya ini masih belum membuahkan hasil.

“Sudah disurati kepada Gebenur dan tembusan ke DPRD, namun hingga sampai sekarang belum ada ditangkapi surat tersebut,” ungkap Ariansyah, petani Kopra asal Pulau Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya, saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Dia menceritakan, upaya-upaya untuk menyuarakan keluhan petani kopra kepada pihak pemerintah, sudah dilakukan sejak November 2018. Dengan bantuan Aliansi Anak Petani Kopra dan Camat Batu Ampar, kata dia, dilangsungkanlah pertemuan dengan pemerintah melalui Dinas  Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar. Dari pertemuan tersebut, dia menyayangkan, tidak menghasilkan sesuatu yang menenangkan para petani. Ariansyah menyebut, pertemuan itu hanya untuk mendengarkan keluhan petani dan pengusaha kopra yang hasilnya itu akan diserahkan ke Gubernur. “Sayangnya pertemuan tersebut tidak mendapatkan kepastian kapan akan ada tindakan lebih lanjut, sedangkan petani terus khawatir, perusahaan juga khawatir karena produksi mereka mulai tersendat,” jelasnya. 

Selanjutnya, kata dia, lantaran pertemuan tersebut tidak memuaskan petani, pihaknya pun melayangkan surat ke Gubernur Kalbar. Surat yang mengatasnamakan Aliansi Anak Petani Kopra itu, mendesak agar persoalan anjloknya harga kopra dapat ditanggulangi secara cepat. 

Selaku petani kopra, ia menyebut, dampak turunnya harga kopra tidak hanya dirasakan oleh petani maupun pihak industri saja. Pekerja-pekerja yang masuk dalam ekosistem ini, diakui dia juga berdampak, seperti pekerja panjat, pekerja kupas, pekerja praproduksi, pemotong kelapa, maupun pekerja yang bertugas mengeringkan. Dengan begitu, tuturnya, ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan pekerjaannya. Pemilik kebun kelapa pun, kata dia, enggan untuk memanen, lantaran ongkos produknya tidak sebanding dengan penghasilan yang akan di dapat. 

Setidaknya ada empat hal yang disuarakan oleh petani terkait anjloknya harga kopra ini. Pertama, mereka menuntut pemerintah untuk menstabilkan harga kelapa kopra dan bulat dengan harga kebutuhan pokok.  Kedua, mereka meminta agar diberikan edukasi dan regulasi mengenai produksi kelapa dalam hal ini tidak hanya kopra, serta memastikan sistem pemasaran. Ketiga, mereka meminta solusi yang pasti terhadap perekonomian jika menghadapi harga yang anjlok.  Keempat, mereka meminta agar pemerintah mendorong pembentukan BUMD yang diperuntukkan bagi industri kelapa dalam (kopra), guna mengimbangi dan mengikuti harga pasar demi meningkatkan harga kopra. (sti)

Berita Terkait